
Tivani berhenti dan berdiri di depan kaca saat itu juga Egdan keluar dari ruang ganti pria dengan lelaki perancang tersebut.
“Shena …?”
Egdan melihat sosok Shenalah yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih itu, wanita itu sangat cantik ia seperti seorang bidadari langit, tersenyum ke arah kaca. Egdan terdiam menatap Tivani ia bagai terhipnotis, air matanya tiba-tiba meluncur bebas menyusuri pipinya, ‘Shena maaf’ ujarnya penuh sesal, dadanya terasa sesak.
“Apa kamu menangis karena ia sangat cantik, sabarlah ia akan jadi milikmu bersabarlah,” ujar lelaki itu menepuk pundak Egdan .
Kini ia melihat wanita dari masa lalu berdiri dihadapannya, wanita yang dulu ia sia-siakan cintanya, wanita yang sangat mencintainya yang rela memberikan segalanya baginya,bahkan ia rela mati dengan calon bayinya demi Egdan.
Tetapi hal itulah yang membuat Edgan di landa rasa bersalah seumur hidup, bahkan ia meminta Dewa untuk menghapus ingatannya agar penyesalan tidak menyiksanya dan rasa menyesal tidak menggorogotinya.
Saat ia menatap Tivani, air matanya menetes deras ada rindu yang sangat melanda hatinya saat ini,
“Apa kamu baik-baik saja?” Tivani menepuk pundak Egdan.
“Tidak, aku tidak baik,” ucap Egdan mengusap sudut matanya.
Tivani mengkedutkan kedua alis matanya karena bingung melihat Edgan yang tiba-tiba menangis saat melihat dirinya.
“Ada apa?”
“Dia hanya terkejut saat melihat kamu cantik tidak apa-apa, jadi gaun pas iya tidak ada masalah, jadi aku tidak perlu capek-cepek untuk merombak lagi,” ujar lelaki itu menarik lengan Tivani memaksa mereka berfoto untuk di jadikan koleksi di butiknya, hal itu sudah jadi tradisi di butiknya, setiap ada pasangan pengantin yang akan menikah, ia akan memajang foto mereka.
“Eh tunggu dia bu-”
“Dengar Nona manis, aku tidak punya banyak waktu, aku ada janji lain,”ujarnya dengan sikap buru-buru,
“Tapi aku deng-”
“Sudah diam, kalian dua itu pasangan yang serasi, kalian seperti takdir yang saling menunggu satu sama lain,” ujar lelaki yang profesi sebagai desainer itu, masih dengan sikapnya yang buru-buru.
Egdan bagai hanya diam, ia menurut apa yang dikatakan sang desainer padanya, saat di suruh berpose untuk pengambilan foto ia menurut tidak ada bantahan satu kalimat dari mulutnya, ia seolah-olah menikmati menjadi pengganti dadakan.
“Baiklah, arahkan wajahmu ke wajah Tivani”
__ADS_1
“Tapi-ini ….”
“Turuti saja, biar urusannya cepat selesai dan dia bisa pergi, tanganku juga sudah semakin sakit, agar kita bisa cepat keluar dari sini,” ujar Egdan.
“Kamu sih, memaksa ingin ikut.”Tivani terlihat memajukan bibirnya.
“Bukannya tamba repot tadinya kalau aku tidak ikut, dia akan marah karena katanya ini sudah ke tiga kalinya kamu dan dia menunda fitting pakaian pengantin kalian. Jika aku tidak mendampingi, aku yakin dia tidak akan mau mengerjainya, kamu pilih mana?” Egdan menatap Tivani dengan tatapan penasaran.
“Baiklah kamu benar, tetapi apa kita harus melakukan pose ini juga? Bagaimana kalau Leo mengetahuinya?”
“Iya kamu tinggalkan jelaskan, itu semua di laur rencana”
“Kamu gampang ngomong bagaimana kalau dia marah karena kamu mengantikan posisinya”
“Eh, kalian berdua nanti saja ngobrolnya, aku buru-buru” lalu mendekat dan mengarahkan kepala Tivani untuk menghadap Egdan masih dengan sikap buru-buru yang tidak jelas.”Lama kalian dua, aku ini orang sibuk, masih banyak kerjaan, kamu juga dokter pasien mu menunggu jadi lakukan dengan cepat,” ujarnya dengan satu tangan memberi tanda pada sang fotografer.
Beberapa jepretan terdengar riuh dari lensa kamera yang diarahkan pada mereka berdua dan beberapa pose sudah mereka berdua lakukan sesuai anjuran sang fotografer. Tivani tidak bisa mengelak lagi ia bagai sapi yang di cocol hidungnya yang menuruti semua yang di lakukan sang desainer.
“Begini kan bagus, jadi aku tidak dua kali kerja,” ujarnya sebelum pergi.
Tivani belum memahami maksud sang desainer dua kali kerja, setelah melakukan pekerjaannya untuk Tivani lalu ia buru-buru ingin menemui kliennya, sampai-sampai ponselnya sang desainer ketinggalan di butik.
“Bagus fotonya Non, mau yang mana foto yang dijadikan Foto prewedding?”
“Haaa …?” Tivani berteriak panik, ia baru ingat kalau ia dan tunangannya meminta desainer membuatkan foto prewedding.
“Ada apa”Egdan ikut kaget.
“Bukan, ini bukan calon suami saya, kemarin, kan, bukan dia yang datang kesini”
“Lah, kenapa tadi tidak bilang saat orangnya ada” Sang Fotografer menyengitkan kedua alis matanya.
Tivani dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari tas dan menelepon lelaki yang merancang gaun pengantinnya. Saat ditelepon, ternyata ponselnya ketinggalan di atas meja kerjanya dan orangnya pergi.
“Aduh jangan bikin dulu, kita salah orang , calon suami saya bukan dia, dia hanya teman yang menemaniku tadi,” ujar Tivani dengan wajah panik.
__ADS_1
Tetapi mata lelaki yang memegang camera itu melihat Egdan sama dengan Leo,
“Mungkin Non Tivani butuh istirahat, banyak yang seperti itu memang, karena terlalu lelah mengurus pernikahan.”
“Bukan seperti itu, memang benar dia bukan tunangan saya”
Suara keras dan panik dari Tivani mengundang perhatian kedua wanita pegawai butik yang melihat Tivani dan Leo saat datang pertama kali saat pesan pakaian pengantin.
“Tivani sudah pulang dulu nanti kita datang kalau orangnya sudah kembali”
“Tetapi ini semua tidak benar, masa mereka tidak bisa melihat orang sih?” Tivani protes, dan terlihat sangat kesal menatap tajam pada semua orang yang ada di dalam ruangan, ia juga menatap sinis pada mereka semua.
“Sini, kamu juga ada kan, saat aku datang ke sini dengan tunangan ku, orangnya bukan yang ini. iya, kan?” Tivani mengangguk berharap kedua orang itu membelanya dan berharap kedua pegawai butik mengingat kalau datang saat ia fitting pakaian bukan Egdan. Namun yang terjadi, kedua wanita berseragam safari warna hitam itu menggeleng lalu saling melihat satu sama lain lalu mereka berkata;
“Kami melihat bapak ini yang datang bersama Ibu”
“Haaa … kalian semua salah, datang bersamaku saat itu Leo tunangan ku bukan Egdan”
‘Ada apa ini, aku juga tidak mengerti kenapa mereka semua menganggap ku Leo’ Egdan hanya diam ia juga ikut diam terlihat bingung.
Tiba-tiba Tivani menatapnya dengan tatapan menajam, lalu ia berkata’
“Ayo katakan sesuatu pada mereka, kamu juga tidak senang, kan dengan semua ini, bagaimana kalau istrimu melihatnya’
Egdan terdiam, pikirannya melayang mengingat wanita yang menikah dengan pemilik tubuh yang ia pinjam wanita itu sudah berkhianat dan selingkuh dengan asisten suami. Egdan sudah menceraikan, bukan hanya menceraikannya ia juga memenjarakannya.
“Pak Egdan tolong lakukan sesuatu!” teriak Tivani membangunkannya dari lamunan panjangnya.
“Shena, aku mencintaimu, maafkan aku,” ucap Egdan dengan wajah memelas.
Tivani terdiam, ia menatap Egdan dengan tatapan bingung.
“Kalian semua sudah gila iya,” ujarnya dengan marah, lalu meninggalkan butik masih mengenakan gaun pengantinnya yang ia coba. Ia berlari menuju mobil dan di susul Egdan yang mengejarnya dan duduk di sampingnya.
Bersambung
__ADS_1