
“Sekarang bakar rumputnya”
“Ha? Caranya!”
“Katakan rumput terkapar dengan konsentrasi,” ujar Boas mengajari.
“Rumput terbakar,’ ucapnya dengan tawa yang di tahan, tidak terjadi apa-apa ia semakin tertawa.
“Dasar Dewa gila.” Boas duduk membiarkannya tertawa.
“Kita hidup di dunia moderen saat ini Pak Egdan, mana ada kekuatan seperti itu,” ujarnya masih dengan nada tidak percaya.
“Ah … terserah kamulah Dewa Api, aku sudah bilang kamu itu, di hukum sama sepertiku
Dewa Api terlalu nyaman tinggal di dunia, segala kenyamanan dan kemewahan di rumah Boas membuatnya lupa akan siapa dirinya.
“Eh, apa ini, bagaimana mungkin? Bagaimana kamu melakukannya, si-siapa kamu, apa kamu Dewa? Tanya Efran dengan gugup.
“Kamu yang seorang Dewa, saya hanya manusia yang kebetulan punya kekuatan”
“Saya Dewa, Dewa apaan ….?”
Efran seolah-olah menertawakan dirinya sendiri saat di sebut Boas seorang dewa, ia tertawa terbahak-bahak.
“Ha … ha … ha ….”
Ia berhenti tiba-tiba bagai motor yang di rem, saat melihat mata Boas yang melotot tajam” Maaf,” ucapnya mengalihkan wajahnya.
“Berikan tanganmu padaku.”
Boas memegang tangan Efran mengarahkan telapak tangannya ke rumput.
“Sekarang bakar rumputnya”
“Ha? Caranya!”
“Katakan rumput terbakar dengan konsentrasi,” ujar Boas mengajari.
“Rumput terbakar,” ucapnya dengan tawa yang di tahan, tidak terjadi apa-apa ia semakin tertawa.
Dewa Api yang hilang ingatan itu hanya tertawa melakukan gerakan-gerakan yang diajarkan Boas padanya.
“Dasar Dewa gila.” Boas duduk membiarkan Efran tertawa.
“Kita hidup di dunia modern saat ini Pak Egdan, mana ada kekuatan seperti itu,” ujarnya masih dengan nada tidak percaya.
“Ah … terserah kamulah Dewa Api, aku sudah bilang kamu itu, dihukum sama sepertiku”
“Dihukum karena apa?” Efran ikut mendudukkan tubuhnya di samping Boas.
“Kamu …. menyalahgunakan kekuatanmu Dewa, kamu mengendalikan tubuh Shena malam itu, karena hal itulah aku menidurinya”
“Apa maksudnya?”
Kening Efran berkerut, menatap Boas dengan tatapan serius, kalau tadi ia masih tertawa maka kali ini, ia mendengarkan dengan baik.
__ADS_1
“Di masa lalu kamu sangat membenciku dan selalu mengerjai ku, kamu tahu tempatmu bukan di dunia ini, tapi lihat kamu berada di sana bersama bintang-bintang indah yang di atas langit itu, tugas Para Dewa hanya melihat manusia dari atas sana”
“Lalu?”
“Lalu, Dewa tertinggi menghukum mu karena aku mengadukan semua perbuatan mu”
Raut wajahnya sedikit berubah saat mendengar penuturan Boas walau belum percaya sepenuhnya.
“Apa aku menyakiti wanita itu?”
“Kamu tidak menyakitinya secara fisik, aku yang menyakitinya karena nafsu”
“Lalu kenapa aku yang dihukum kalau kamu yang melakukannya?”
“Dewa Api-”
“Jangan panggil aku Dewa, panggil saja aku Efran, kalau aku Dewa tidak akan terdampar di rumahmu dan kamu tidak akan bicara seperti ini denganku”
Penolakan di panggil Dewa persis seperti yang di lakukan Boas saat ia datang ke istana Dewa saat itu, dan Dewa Api memanggilnya dengan sebutan Raja Pedro, Boas juga mengatakan hal yang sama, tidak mau di panggil Raja dan lebih suka dipanggil Boas.
“Baiklah, kalau kamu tidak membuat gadis muda itu tidak terangsang dan mengirimnya ke ke kamarku, hal itu tidak akan terjadi, aku tidak akan melakukannya, aku selalu menjaganya, tetapi malam itu, aku … tidak bisa menolak tubuhku, karena aku lelaki normal”
“Apa seorang Dewa melakukan hal buruk seperti itu?”
“Nah … itulah yang aku katakan saat aku tahu dirimu yang melakukannya, karena hal itu jugalah Dewa Tertinggi, memberimu hukuman”
“Aku tidak percaya dengan hal itu, lihat …! kalau aku seorang Dewa harusnya aku punya kekuatan seperti yang kamu katakan dan kekuatan seperti yang kamu miliki”
“Dengar, kalau kamu menggunakan kekuatanmu dengan fokus, aku yakin kamu bisa menggunakan kekuatanmu, kamu memiliki kuasa api yang mampu membakar seisi dunia sekalipun.
“Apa aku sehebat itu?” Efran masih belum yakin dan beberapa kali mencoba kekuatan api miliknya, tetapi belum berhasil.
Saat Boas dengan serius mengajari Dewa api.
Tiba-tiba awan hitam muncul seperti sebuah pusaran angin dan dari sana muncul, Sura Ratu iblis. Dengan pasukan yang berbau busuk.
“Si-siapa mereka, uaaak kenapa bau sekali.”
Efran menutup hidungnya.
“Bersiaplah menggunakan kekuatanmu, dia iblis betina yang sangat jahat”
“Oh, kamu di sini, King … lama tidak bertemu”
“Siapa yang dimaksud Raja, apa itu kamu atau aku?” Efran bertanya dengan suara berbisik.
“Oh … apakah itu kamu Dewa Api? Ada denganmu, apa juga kamu dikutuk sama dengan dia?” Tanya Sura dengan tawa menyeringai.
“Apa kamu bicara dengan saya, saya bukan Dewa Api, kalau kamu ada masalah dengannya bicaralah dengannya, saya mau pulang ingin tidur,” ujar Efran dengan sikap bodoh amat, ia berbalik badan.
“Oh, kamu dikutuk jadi lupa ingatan juga?”
Efran berbalik badan dengan wajah marah, matanya menatap tajam ke arah Sura
” Dengar iya, wanita berbau busuk, aku tidak mengenal kamu dan tidak mau bicara dengan wanita busuk sepertimu,” ujar Efran.
__ADS_1
“Kamu memang pantas menerima hukuman seperti itu, karena kamu memang Dewa yang sombong dan Dewa yang jahat,” ujar Ratu iblis, sama degan apa yang diucapkan Boas padanya, seketika ia diam dan memikirkannya.
‘Apa benar aku seorang dewa tadinya?’ Efran membatin.
“Gunakan api mu untuk membakar tubuh iblis jahat itu, dia menghina, dari dulu dia selalu bicara seperti itu.”
Boas memancing-mancingnya untuk marah.
“Apa dewa api juga kehilangan kesaktiannya, Jangan-jangan kamu tidak bisa mengeluarkan api lagi, walau hanya untuk membakar rumput ini,” ujar Ratu iblis.
Wajah Efran memerah tangan menegang, ia mengumpulkan kekuatannya, ia mengikuti apa yang dikatakan Boas padanya, ia fokus dengan tujuannya, ia hanya ingin membakar iblis di depannya, dengan gerakan cepat ia mengarahkan tangannya ke arah Sura.
“Hiaaak!”
“Hiaaak ….!”
Namun tidak terjadi apa-apa,
‘Keparat, ini tidak terjadi apa-apa, dia membohongiku?’
Iblis tertawa lebar, saat melihat Efran tidak mampu mengeluarkan kekuatannya.
‘Ada apa dengannya kenapa tidak bisa melakukannya?’ Boas membatin
“Lakukan dengan Fokus!” teriak Boas.
Sura berubah ular besar, kini ia menatap Boas dengan kemarahan
“Kamu sudah melenyapkan ke tiga adikku, dunia yang kamu pijak ini akan binasa, serahkan tiga batu yang kamu pegang atau dunia ini akan hancur,” gertaknya dengan suara lantang.
“Kamu hanya mahluk berbau busuk , jangan harap aku takut padamu,” ujar Boas dengan lantang maka perang di mulai malam itu.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)