Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Balas Dendam Yang Sepadan


__ADS_3

Davino merasa baru  kali ini hidupnya dipermainkan seorang perempuan


Akhirnya lelaki sombong itu mendapat balasan dari sifat angkuhnya selama ini, senyuman dan tatapan manja dari Aresya tadi, ia berpikir kalau Aresya sudah menganggapnya sebagai suami, ternyata ia hanya di memanfaatkan untuk mengerjai Devan.


‘Ah, menyebalkan, aku sempat senang dengan sikap dan perlakuan manis dari Aresya tadi' Ia masih duduk sendirian memainkan ponselnya dan melihat pemandangan indah dari jendela hotel, niatnya membawa Aresya ke hotel mewah itu tadi, ingin berduaan.


Setelah beberapa jam duduk di sana, Davino turun dari hotel untuk makan, ia makan sendirian tanpa mengajak Aresya, memesan makan untuk ia sendiri, ia melupakan kalau Aresya juga belum makan, baru setengah makan, ia berpikir lagi, Aresya tadi bilang sudah lapar.


‘Oh, dia belum makan tadi katanya, apa aku memanggilnya turun,  apa aku bungkus?’ Ah, bodoh ah, ucap Davino memutuskan menghabiskan makanannya dulu, ia kembali ke kamar, berpikir kalau Aresya akan menunggunya.


Ia duduk di sofa  menyalakan televisi, berharap Aresya bangun tanpa harus ia bangunkan,  karena ia masih marah, tetapi, volume televisi sudah tinggipun, Aresya tidak terbangun.


“Apa dia baik-baik saja, kenapa dia tidak  mau bangun?” Davino meraba kening,” Ia terasa sangat panas, ia membalikkan tubuh Aresya wajahnya sangat pucat terlihat sangat lemah.


”Ada apa , apa kamu sakit?”


“Ya, aku kedinginan, perutku keram”


“Baiklah,  kamu harus minum obat, Davino menarik selimut di ranjang dan membungkus tubuh Aresya, dia  turun untuk membeli obat dan bubur untuk Aresya,  menyuapi dan memberinya obat.


“Aku tidak bisa minum obat sembarangan kata dokter,” ucap Aresya, memegang perut, Davino  tidak menyadari kalau Aresya sedang hamil, walau beberapa kali ia terlihat, memberi kode sedang hamil, Aresya selalu melindungi perutnya. Tetapi Davino tidak peka, ia


“Baiklah, kamu makan bubur saja”


Saat mata mulai meredup Davino mengendong tubuhnya ke atas ranjang, tetapi tubuhnya masih terlihat menggigil walau sudah dibungkus selimut.


“Baiklah, aku akan membantumu, kali ini” Davino ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh Aresya, ia memeluknya dengan sangat.


Tiba-tiba Aresya mengingau.


“Pergi … Pergi mahluk jahat!”


“Aresya, bangun! buka matamu” Davino menepuk pipi Aresya.


“Pak Davino?”


“Iya, kamu tidak apa-apa? kamu mengalami mimpi buruk”


Aresya  melepaskan tubuhnya dari pelukan  Davino, namun, ia menahanya merangkulnya dengan lebih erat.


“Biarkan tetap seperti ini, tidurlah,” pinta Davino mengusap-usap punggung Aresya. Ia ingin memeluk Aresya dan memberinya perhatian, tetapi bagi wanita cantik itu, Davino tidak artinya.

__ADS_1


“Maaf aku tidak bisa tidur dengan orang lain,” ujar Aresya membalas perbuatan Davino.


“Aku suami Alisa, aku berhak tidur dengan istriku”


‘Lalu  kenapa sekarang kamu mau tidur denganku, setelah kamu melihatku cantik, dulu saja, kamu  menolakku dengan kejam, kamu hanya mencintai fisik yang cantik saja’ Alisa membatin.


“Terimakasih telah merawatku Pak  Davino, tapi maaf, aku belum bisa tidur dengan bapak lagi”


“Kita sudah melakukannya, lalu kenapa sekarang menolakku?”


‘Itu karena aku ingin lepas dari iblis yang mengejar ku, bukan karena ingin melakukan malam. pertama dengan kamu'Ares membatin.


“Itu karena … keadaan terdesak saja, mari kita tidur”


"Maksudnya?" Davino menatap dengan bingung.


"Begini Pak Davino ... kalau hari itu bapak tidak memaksaku kita tidak melakukan dan terima kasih juga karena bapak menyelamatkanku dari kejaran iblis yang menginginkan ku"


Mendapat penolakan dari Aresya,  ia tidur dan tidak menyentuh Aresya, setelah menjelang pagi, Davino baru bisa tidur ,  saat Davino baru tidur, Aresya terbangun dan pergi.


Saat Davino bangun, tidak menemukan Aresya lagi.


Ia takut Aresya ditangkap orang-orang jahat  yang selalu mengincarnya.


Kriiing… Kriiing….


Panggilan  masuk dari nomor Aresya, dengan wajah masih panik Davino mengusap layar benda persegi empat itu, lalu menempelkan ke kuping.


“Aresya, kamu di mana?”


“Pak Davino, aku keluar sebentar,  dengan Adi”


“Mau kemana? Untuk apa? Kenal dengan lelaki, kenapa harus dia? "


“Aku tidak bisa jelaskan lewat telepon, nanti kita bicara lagi, saya buru-buru”


“Aresya apa ka-“


Tuuut…


Panggilan teleponnya terputus.

__ADS_1


*


Marisa mengirim  pesan, karena  adeknya  Aresya sudah sadar, ia mencari Aresya, maka menghubungi Marisa, meminta Aresya datang pagi itu, para dokter takut kalau adek Aresya sedih akan  memperburuk kesehatannya.


Aresya datang sesuai permintaan Ny. Marisa, ia antar Adi,  ia juga menolak bantuan Devan, ia tidak mau  lelaki itu lagi.


Maka Aresya datang menemui adeknya di rumah sakit.


Benar saja saat melihat Aresya datang, adeknya tersenyum senang,  walau belum jelas tetapi ia seakan  ingin mengatakan sesuatu padanya, seakan-akan mau bilang untuk jangan meninggalkannya  sendirian.


“Yani, dengar kalau aku  berada di sini, nyawa kita dalam bahaya, kalau kita bersama seperti saat ini  kita akan ketahuan, jadi aku  harus bersembunyi,  agar kita  selamat, bertahanlah agar kita bersama lagi, kamu harus kuat, jangan bersedih karena itu akan melemahkan kekuatanmu, kamu akan baik-baik saja tanpaku, kamu harus kuat Yani, agar kita selamat, aku sangat menyayangimu. Kamu haru bisa bertahan dan tetap kuat,” bisik Aresya mengusap punggung tangan adeknya dan ia keluar setelah hampir dua puluh menit  menenangkan dan mengobrol bersama Aryani adek kembaran Aresya.


Areyani di tempatkan di ruangan yang khusus di rumah sakit,  ia  juga di jaga ketat,  bahkan  untuk menemuinya juga punya jalan khusus, Ny. Marisa orang yang menepati janji, ia mengeluarkan banyak uang untuk menjaga saudara kembar Aresya karena ia tahu,  jika ia menepati janji Aresya juga pasti akan menempati janji dan akan berjuang keras untuk memberikan keluarganya keturunan.


**


Aresya kembali ke hotel di mana ia dan Davino tinggal, saat ia tiba lelaki hanya diam tidak menyapa,  ia asik bermain bola bliar dalam kamar hotel.


“Aku pulang”


Davino tidak menyahut,  ia hanya diam  tidak menyahut  baik menyapa Aresya,    Davino sudah  merawatnya tadi malam dengan sangat baik, tetapi, ia pergi tanpa pamit padanya, tentu saja ia marah.


Davino  sibuk dengan  stik bola di tangannya, sementara Aresya masih terlihat pucat karena saat ia meninggalkan kamar tubuhnya masih sakit, namun, ia tidak mau adeknya bertambah sakit maka itu ia melakukanya.


Bersambung ….


Kakak Baik mohon bantunya ya, untuk like, vote dan komentar karya ini, kasih hadiah juga agar authornya tambah semangat untuk update tiap hari


Baca juga karyaku yang lain ya.


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (on going)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)

__ADS_1


__ADS_2