Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Wanita Yang Masih Labil


__ADS_3

“Shena, kemarilah kamu masih sakit.”


Boas mendekatinya dan mencoba menenangkan ya.


“Tidak, aku tidak mau jadi bebanmu lagi, lebih baik aku pergi,” ujar Shena dengan kemarahan.


Ia membuka pintu dan berlari ke luar gedung rumah sakit, Boas yang panik berlari mengejarnya.


“Shena!” Boas berlari, dengan cepat ia menarik tubuhnya shena. Ia hampir saja di hantam mobil yang melintas dari arah samping, tubuh keduanya terpental di samping jalanan di bawah guyuran derasnya hujan, Ia memeluk erat tubuh Shena yang masih berontak.


Tangan Boas terluka karena terbentur batu, ia meringis menahan sakit di tangannya, tetapi malang tidak dapat di tunda, ternyata Shena juga terluka, kepalanya terbentur untuk kedua kalinya.


Tubuh mereka berdua masih tergeletak di aspal di pinggir jalanan, hujan semakin deras dan petir dan angin bertiup makin kencang menerbangkan atap-atap rumah.


Tidak ada yang menolong mereka berdua karena sambaran petir yang semakin menjadi.


“Ada apa dengan kalian!” teriak Boas menatap langit.


“Aaah kepalaku terluka lagi, ayo masuk lagi agar kita obati lukanya.”


Boas menggendong tubuh Shena


Tetapi wanita itu telah terluka dengan penolakan Boas padanya, ia menggeleng dan berusaha melepaskan tangan Boas dari pinggangnya.


“Biarkan aku pergi , jangan pedulikan aku, aku wanita yang murahan kan, itu yang kamu pikirkan padaku?” ucapnya dengan teriakan, ia mengimbangi derasnya hujan.


“Shena, aku tidak pernah bicara seperti itu padamu, jangan salah paham,”ucap Boas semakin merebut tubuh Shena dengan kuat, ia tidak mau wanita mudah itu lepas dari tangannya, ia tahu ada bahaya yang sedang menanti mereka saat ini, karena ia bisa merasakan ada bau busuk sekitar mereka, Boas takut jika Shena ia lepaskan maka ia akan ditangkap.


“Aku akan pergi dari rumahmu pergi jauh dari hidupmu,”


Teriak Shena masih dengan kemarahannya yang meluap, ia marah langit seakan-kan ikut marah, petir besar menggelegar seakan-akan meledak di langit.

__ADS_1


Tidak ingin berkepanjangan ia menepuk tubuh Shena menggunakan kekuatannya dan Shena tertidur, lalu Boas menggunakan kekuatan teleportasinya ia berpindah tempat dan sampai di kamar Shena.


Meletakkan tubuh Shena yang basah kuyup di ranjang, lalu ia melepaskan semua pakaian basah itu dengan cepat dan Boas mengganti, bahkan bagian dalaman ia juga menggantinya, saat memilih bagian kaca mata kuda milik Shena ia menimang-nimang dan akhirnya ia memakaikan senada dengan ****** ***** Shena.


Setelah mengganti pakaian Shena ia juga menjentikkan jari tangannya, dan ia kembali ke kamarnya dan menganti pakaiannya sendiri, walau ia punya kekuatan besar.


Namun , untuk mengobati luka di tangannya tidak bisa Ia menggunakan sihir yang dimiliki, jadi ia menarik obat luka di laci kamarnya dan mengoleskan ke tangannya yang terluka.


“Aoooh … Shena ada apa denganmu, aku baru kali ini melihatmu semarah itu, aku sampai tidak bisa mengendalikan,”


ucap Boas mengobati siku tangannya.


Boas kembali ke kamar Shena, wanita masih tidur, Boas mengobati luka di kepalanya. Boas menatap wajah Shena dengan tatapan sangat dalam ada perasaan yang aneh dalam dadanya saat ia menatap wajah cantik itu


Dulu Boas berjanji pada dirinya akan menjaga dan merawat Shena sampai ia menikah dan punya dan melihatnya menua.


Tetapi saat ini ada rasa yang tidak bisa ia pahami, ia takut kehilangan wanita cantik itu, tetapi ia ragu dan takut untuk segala hal nantinya ke depannya.


Punggung tangannya mengelus lembut pipi Shena, tanpa terduga jari-jari tangannya tidak sengaja menyentuh bibir mungil itu, ia mengelus-nya dan jarinya tetapi tiba-tiba, ia mendaratkan bibirnya dan mengecapnya dengan lembut bibir Shena, kenikmatan malam yang diberikan Shena padanya membuatnya ketagihan, dan ingin menikmatinya lagi dan lagi, bibirnya bergerak lembut di bibir Shena yang masih tertidur pulas.


“Kita di mana lagi sekarang?” tanya Shena meringis kepalanya dan ia lagi-lagi menjepit bagian bawahnya karena lagi-lagi ia ingin ke kamar mandi lagi, kalau tadi ia hanya merasakan bagian bawahnya yang sakit. Tetapi kini ia merasa kepalanya pusing dan berdenyut sakit.


“Aku membawamu lagi ke kerumah, ini kamarmu”


“Uuuh,ckkk,” bibirnya maju terlihat manyun dan berdecak kesal.


“Kenapa? Apa kamu masih merasa sakit?”


“Sakitlah …! kamu menyakiti ku tetapi kamu menolak bertanggung jawab ucapnya lagi dengan kemarahan,


Boas ia akan meledak dan mengamuk lagi seperti tadi.

__ADS_1


“Baiklah, saya bertanggung jawab, kamu ingi saya melakukan apa?”


“Tidak usah, aku berubah pikiran, aku tidak butuh kamu untuk bertanggung jawab aku sudah dewasa”


“Apa, lalu kamu mau apa sekarang?”


“Aku akan pergi dari rumahmu, melakukan banyak hal di luar sana, tidak baik menggantungkan hidup pada orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kita, aku mau pergi sekarang”


“Shena, saya sudah meminta maaf dan mau melakukan apapun untuk kamu, kenapa masih marah juga,” ucap Boas setengah putus-asa, ia kesulitan menghadapi sifat labil wanita muda berwajah cantik itu.


“Iya aku tidak mau memaksa iya Paman, saya pikir-pikir lagi sepertinya kamu terlalu ketuaan untukku,” ucap Shena seper-detik itu mata Boas melotot terkejut dengan ucapan Shena


“Dengar iya anak kecil, kamu yang terlalu kecil dan sikapmu masih masih labil”


“Iya biarin saja, aku mau bebas.”


Lalu ia berusaha bangun dari ranjang ingin ke kamar mandi, lagi-lagi ia menjepit kakinya, tetapi kali ini setelah penolakan yang dilakukan Boas padanya saat di rumah sakit, dan fakta tentang ia yang menggoda Boas duluan membuatnya jadi malu.


Jadi dia tidak ingin melibatkan Boas dalam hal pribadinya lagi, termasuk bagian intinya yang masih sakit.


“Kamu mau kemana, tidurlah kepalamu masih terluka” Boas menarik tubuhnya untuk duduk lagi di ranjang.


“Aku mau ke kamar mandi keluarlah dari kamarku aku juga mau mandi,” ucap Shena menatap Boas.


‘Kenapa juga ia harus mengusirku, aku sudah melihat semuanya, kenapa harus malu sekarang Boas berucap dalam hati.


“Mandi, mandi saja tidak ada yang melarang”


“Iya aku tidak mau membuka pakaianku di depanmu lagi, cukup malam itu malam … yang sudahlah, anggap saja aku mabuk dan melakukan hal gila padamu Tuan Boas, sekarang keluarlah dari kamar ini, jangan khawatir aku tidak akan memintamu bertanggung jawab karena itu bukan kesalahanmu dan bukan kemauanmu


“Aku akan mengurusnya sendiri,” ucap shena tiba-tiba bersikap dewasa.

__ADS_1


‘Ada apa lagi dengan wanita ini , aku tidak bisa memahami sikap wanita, tadi ia nangis-nangis ingin menikah denganku sekarang ia menolaknya ada apa dengan para wanita?’ Boas membatin.


Bersambung ...


__ADS_2