Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Portal Waktu Menuju Kehidupan Saat Jadi Aresya


__ADS_3

Boas Egdan membawa Tivani ke portal waktu lagi di mana ia menjalani hidup sebagai gadis miskin di masa lalu dengan nama Aresya.


Davino  belum dapat menerima kehadiran Areyani dalam rumahnya, bahkan sangat membencinya,  baik Arkan anak yang ia tunggu-tunggu selama ini tidak mau  lihat. Kehilangan Aresya  satu pukulan  besar untuknya.


“Pegang tanganku lagi,” ujar Boas Egdan.


“Kita mau kemana?”


“Aku akan membawamu ke waktu di mana kamu menjadi Aresya”


“Ha? Berapa kehidupan yang sudah aku jalani”


“Tiga kehidupan, saat kamu menjalan hidup sebagai Aresya, kamu melahirkan anakku”


“A-aku punya anak?”


“YA”


Tivani penasaran dengan hidup yang ia jalani saat ia menjadi Aresya, gadis miskin.


Flas Back


Aresya masih berdiri  mencari tempat berteduh di depan Pabrik, satu per satu  karyawan yang ikut berteduh dengannya, memilih menerjang hujan, mengendarai motor masing-masing, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan ,  mungkin sama dengannya,  tidak memiliki  kendaraan roda dua itu.


“Sya, kita tarik tiga saja mau?” Teriak Marta  yang berhenti tepat di depannya.


“Tidak usah Ta, kamu pulang duluan saja sama bang Niko, aku menunggu sampai hujannya redah” sahut Resya meninggikan volume suaranya mengimbangi derasnya rintikan hujan.


“Kita muat kok Sya, ni aku geser” ucap wanita  berdarah Batak itu menggeser panggulnya lebih maju, memukul-mukul  jok motor di belakangnya.


Meyakinkan Aresya,  kalau mereka bisa naik  tiga sekaligus, tapi lagi-lagi wanita berkerudung biru itu menolaknya dengan halus.


“Kamu yakin…!” Teriak Marta lagi dengan tatapan Iba pada sahabatnya , kini  jaket yang di pakaikan Marta ke kepalanya tidak ada arti, kini ia benar-benar sudah basah kuyup.


“Iya Ta!” Teriak Aresya.

__ADS_1


“Baiklah, aku duluan iya Sya,” ucap Marta, Motor Satria berwarna hitam itu meninggalkan area pabrik.


Marta setiap hari akan pulang  bersama Niko Pacarnya, jadi tidak usah memikirkan kendaraan untuk pulang ke rumahnya,


Langit semakin gelap, sebuah mobil hitam mewah melintas melewatinya, mata Darmono sekilas melihat kaca spion, melihat Aresyah yang masih berdiri, ia juga melirik kaca di samping stir, melihat majikanya yang terlihat tidak perduli pada Aresyah,  matanya  sibuk menatap ponsel di tangannya.


Lelaki tampan  cucu pemilik pabrik tersebut suami Aresaya suaminya pemilik perusahaan sementara istri rahasianya hanya seorang buruh pabrik.


Darmono sengaja  memperlambat laju mobil,  berharap Bosnya mengatakan sesuatu, hingga mobil mewah buatan Jerman itu, melaju perlahan dan meninggalkan area pabrik Bos tidak mengatakan apa-apa,  tidak menghiraukan istri kehujanan, kini ia hanya sendirian menunggu hujan redah,  semua karyawan memilih menerobos hujan dan meninggalkan pabrik.


Tapi Aresya enggan melakukannya itu, ia akan berjalan ke depan, di jalan raya, baru bisa mendapatkan angkot, ia harus basah nantinya untuk naik angkot dan  bisa jadi dalam angkot ia akan   keadaan basah kuyup ,  abang supir angkotnya akan menyuruhnya duduk di bangku tempel kayu dekat pintu, karena ia basah, takut mengenai penumpang yang lain,  dan juga kalau naik angkot keadaan basah-basah abang supir kadang    berhentikan angkot.


Lampu-lampu jalan sudah mulai di nyala, menghiasi malam yang sudah mulai gelap, hari semakin gelap, tapi tidak tanda-tanda hujan akan berhenti, malah semakin deras. Tiba-tiba  lampu jalanan berkedip-kedip lalu mati.


Matanya mulai menatap kanan –kiri dengan was-was karena kawasan pabrik kalau sudah sore sudah mulai sepi karena jarang ada rumah  di daerah itu, hanya pabrik yang berjejer  di sepanjang area pabrik. Salah satunya Pabrik tempat Aresyah mengumpulkan pundi-pundi rupiah, Pabrik texstil. PT Langgatex, milik keluarga  Davino Erlangga.


“Huh… bagaimana ini?” ucap Resya dengan gelisah.


Ia merasa ada seseorang yang mengawasinya dam lampu kedua jalanan itu kembali mati, hingga akhirnya mati semua, ia melirik kanan -kiri tidak ada orang ia menatap tajam  bola-bola lampu tersebut, dengan kekuatan super dari matanya lampu-lampu itu kembali menyala.


“Aku sudah tahu, kamu pasti belum pulang” Marta datang menjemputnya.


“Taaa!”Resyah dengan suara parau memeluk sahabatnya dengan erat, malaikat yang penolong yang ia minta pada Tuhan .


“Aku sudah menduga kalau kamu pulang Syah… maka itu hatiku tidak tenang, saat tiba di kontrakan tadi maka itu aku pinjam motor tetangga, ini pakai, aku akan mengantarmu” ucap Marta memberikan jaket Hujan untuk ia pakai.


Menyalakan mesin  motor bebek  yang di pinjam Marta, perlahan meninggalkan area pabrik , area sudah benar-benar gelap.


Tidak tahu apa jadinya, kalau Marta tidak menjemputnya tadi, ia mungkin akan memilih tidur di tempat sampah besar itu, tempat pembuangan sisa potongan kain pabrik. Aresyah sudah memikirkan itu sekilas.


“Makasi ,Ta” Aresyah memeluk pinggang  Marta dengan erat, menyadarkan kepalanya di pundak wanita itu,


“Kenapa tidak telepon aku Sya?”


“Aku tidak enak Ta, kamu’kan sama bang Niko baru baikan aku pikir  tidak ingin menganggu  waktu berdua kalian” Jawab Aresyah dengan suara keras, agar sahabatnya bisa mendengar suaranya.

__ADS_1


“Iye elaaa, kita sudah biasa berantem dan putus nyambung Syah,   bukan lah baru lagi, kalau kami besok berantem besoknya baikan itu namanya tahap proses pendewasaan dalam  sebuah hubungan,”ucap Marta


“Sama kamu  aku tidak apa-apa Ta, karena kamu sahabatku,  tapi sama bang Niko aku merasa tidak enak”


“Jangan lakukan itu Ta, area pabrik itu sudah kamu tahu bahaya, kasus Kriminal  dan pembunuhan karyawan LanggaTex masih membekas di  hati semua orang”


“Iya sih Ta, maka itu aku juga takut tadi” ucap Aresya dengan suara pelan


Setelah  15 menit menempuh perjalanan, akhirnya Marta menghentikan motor bebeknya di sebuah rumah mewah berpagar tinggi, bercat warna putih, di daerah Bekasi, tidak jauh dari  tempatnya bekerja.


“Sudah sana,” ucap Marta menurunkan Aresya agak jauh dari rumahnya,  menghindari pengawasan dari rumah besar itu.


“Baik, makasih iya Ta” ucap Marta dengan wajah terlihat sangat bersyukur karena Marta menjemputnya


Flas On.


Tivani menatap Boas Egdan.


“Kenapa aku terakhir jadi gadis miskin?’


“Dewa yang melakukannya”


“Bawa aku ke waktu saat Aresya punya anak aku ingin melihat wajah anak itu”


“Ini hari dimana adik kembaran kamu datang membawa anakku”


“Aku punya adik kembar?”


“Wanita yang bernama Areyani itu adalah kembaranmu, wajahmu persis sepert itu,” ujar Davino.


“Cantik”


“Ya, saat kamu menjalani kehidupan sebagai Aresya kamu sangat cantik. Kita akan masuk dan melihat kehidupan  terahirku sebagai Davino di sini. Tivani dan Boas masuk kembali kehidupan saat ia bernama Davino


"Nanti kita akan melihat wajah anak yang kamu lahirkan"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2