Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Kemarahan Pada Dewa Api


__ADS_3

“Tuan sudah di rumah, apa Tuan mau makan?” tanya lelaki yang sudah terlihat tua itu dengan rasa hormat.


“Ambil kan kompres Pak, Shena badannya panas lagi”


“Baik Tuan”


Ardan tidak bertanya apa yang terjadi jelas-jelas Boas membawanya tadi pagi kerumah sakit karena pingsan dan sore ini sudah ada di rumah kembali.


Datang tidak dijemput pulang tidak diantar , kira-kira begitulah kebiasaan Boas.


**


Boas mengetahui ulah siapa yang mempengaruhi tubuh Shena malam itu, hingga terjadi malam panas yang menggemparkan itu ,walau tubuhnya terasa ter puaskan, tetapi hal itu justru membuat masalah baru untuknya dan Shena.


Wanita muda itu menjauhinya dan tidak menemui-nya lagi, walau Boas sudah bilang ingin bertanggung jawab .


Namun, Shena sudah terlanjur sakit hati dan tidak mau menemaninya, hal itulah yang membuat Boas marah ia, akan mencari tahu siapa yang melakukannya malam itu.


Lalu ia menangkap seorang iblis yang selalu berkeliaran di sekeliling rumahnya,


“Katakan padaku siapa pelakunya atau aku akan mencongkel bola matamu agar kamu berkeliaran tanpa mata,”


ucap Boas menangkap, wajah mahluk wanita yang sudah tua.


“Saya tidak tahu Tuan Boas, saya tidak pernah tau ada mahluk berkeliaran sejak lama sejak Tuan memasang perisai pelindung itu,” ucap sang mahluk memegang matanya ia takut Boas yang sedang marah mencopotnya membuatnya tidak bisa melihat saat berkeliaran.


“Lalu siapa pelakunya?”


“Saya tidak tahu Tuan?”


“Baiklah, aku akan mematahkan kakimu agar kamu mengesot kemana-mana, Boas memegang kaki wanita tua itu dan ingin mematahkannya dan ia mengambil mustika milik si iblis, karena setiap iblis memilikinya itu sebagai jantung untuk mereka jika iblis hancur, tetapi Mustika tidak hancur dan tidak diambil, ada kemungkinan iblis akan bangkit dalam wujud yang lain.


Boas menekan wanita itu terus menerus, ia tahu mahluk tua itu melihatnya, Namun tidak mau memberitahukannya,


“Oh, oh jangan,, tiba tiba otakku ingat sesuatu, malam itu saat aku duduk di atap rumah aku menatap bintang dan menunggu lelaki yang aku suka, kamu tahu, kan, lela-”


“Ah cepatlah, aku tidak mau mendengar curhatan,” ucap Boas ingin mematahkan kakinya , mahluk tua itu, seorang nenek tua yang suka bercerita.

__ADS_1


“Ba-baik, jangan patahkan kaki orang tua ini, apa kamu tidak punya rasa kasihan Tuan,”ucapnya lagi


Ia ingin mengalihkan perhatian Boas agar menghentikan pertanyaannya, ia tahu, sangat berbahaya padanya kalau sampai mengakui tentang apa yang ia lihat, dengan otak liciknya ia berusaha untuk melarikan diri dari Boas, manusia yang punya kekuatan besar yang hampir menyamai Dewa.


“Ckkk … belum buka mulut juga”


“OH, baiklah, dia seorang yang turun dari langit dengan memegang sebuah tongkat api di tangannya”


“Haaa? Dewa api maksudmu? Jangan berbohong!” bentak Boas dengan wajah mengeras.


“Iya aku tidak tahu pastinya dia Dewa api, tetapi yang aku lihat malam itu, seperti itu, tubuhnya besar seperti tubuh yang kamu miliki, ia memakai gelang yang melingkar di lengannya”


Boas melepaskan cengkraman tangannya dari mahkluk gentayangan itu yang saat ini berubah wujud jadi seorang wanita tua.


Boas membiarkan wanita itu bergentayangan di sekitar rumahnya, karena tidak pernah menganggu, boleh di bilang ia mahluk baik yang sering menjaga Shena sejak dari kecil.


“Dewa Api ….! apa yang kamu lakukan?” teriak Boas dengan sangat marah.


Memilki tiga batu kristal membuat Boas memiliki kekuatan yang hampir menyamai Dewa , Keempat kepingan batu kristal itu memiliki empat elemen kekuatan elemen air, api tanah, angin, jika di gabung empat bagian ia akan jadi manusia memiliki kekuatan yang tidak tertandingi, hal itulah yang membuat Dewa api iri dan selalu ingin menghancurkan.


Saat Dos di bawa ke istana Dewa, ia menceritakan kalau tuannya Boas sudah memiliki tiga kepingan batu kristal, dan sudah memiliki kekuatan yang maha besar.


Mendengar hal itu, Dewa api merasa marah, lalu ia membuat hal yang tidak di inginkan, ya itu tidak ingin menyentuh wanita selama ia menjalani hukuman.


Namun, kali ini gemboknya seakan telah di buka, dan ia melakukannya dengan seorang wanita yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Tetapi karena malam itu, ia sudah merusak segalanya.


Sejak dari kejadian di rumah sakit Shena menolak bicara dengannya, Shena menutup diri dan tidak pernah mau menemuinya.


Walau Boas bilang akan bertanggung jawab untuk hidupnya. Namun, Shena masih tetap marah.


“Tuan apa yang kamu lakukan?” tanya mahluk itu, wajah Boas menghitam dan rahang itu mengeras menahan amarah, lalu ia menjentikkan jari tangannya dan menit kemudian, tubuhnya sudah berada di atas gedung yang paling tinggi di kota itu, lalu Boas merentangkan tangannya ke udara, tidak lama kemudian pedang miliknya sudah ada ditangannya.


Ia menutup matanya dan menjentikkan tangannya, dan menit kemudian tubuhnya sudah berada di gerbang istana Para Dewa.


Saat tiba di istana ia di sambut penjaga istana.


“Ada perlu apa ke sini anak manusia ?

__ADS_1


Ujar seorang penjaga istana, menatap Boas dengan tatapan sepele, karena tidak ada manusia yang bisa datang ke istana Para Dewa dengan sesuka hati seperti yang di lakukan Boas.


“Aku ingin bertemu dengan Efrat,” ujar Boas dengan kemarahan.


“Apa perlu apa bertemu dengan dewa api?


Saat ini semua para dewa sedang rapat tidak bisa di ganggu,” ujar penjaga gerbang istana.


“Kalau begitu biarkan aku masuk sendiri.”


Boas menghiraukan larangan para pengawal pintu gerbang istana.


Bukannya ia tidak sopan di istana Para Dewa itu, tetapi kemarahan sudah merasuki jiwanya dan ia menghiraukan kalau istana yang ia datangi istana yang bisa memberinya kematian dan kehidupan.


Lalu ia menerobos kedua penjaga pintu yang bertubuh tinggi besar itu dan masuk.


Saat tiba di aula pertemuan itu, kedua penjaga itu memberi laporan kalau Boas menerobos masuk.


“Apa yang kamu inginkan King?’ tanya Dewa tertinggi menatap wajah Boas yang sedang marah.


“Apa yang dilakukan Efrat padaku?”


“King, bicara lah yang sopan pada Dewa api,” ujar Dewa yang duduk di kursi besar itu, ia adalah tertinggi.


“Katakan Dewa api! Apa yang sudah kamu lakukan padaku dengan Shena”


Semua mata tertuju pada kursi yang diduduki Dewa api, wajahnya bingung, untuk menjawab, ia tidak menduga kalau Boas akan berani menandatangani sampai ke istana langit.


Wajah Boas sudah dipenuhi amarah yang membara dalam dadanya.


Lalu apakah Boas bisa mengalahkan Dewa api yang mengusik kehidupannya?


atau dia yang justru dapat hukuman lagi? baca terus iya ....


Bersambung ….


bantu like dan komen di setiap babnya ya kakak terima kasih

__ADS_1


__ADS_2