
Kini dalam ruangan persembunyian, Boas memikirkan bagaimana caranya agar anak-anak dan wanita yang ada dalam goa itu selamat.
Iblis sudah tahu kalau ada dua orang biksu yang masih hidup dan bersembunyi di desa. Maka si iblis menurunkan wabah yang lebih mengerikan dari sebelumnya, kini tumbuhan yang ada di seluruh desa dan sekitar bukit dibuat mengering dan semua hewan, di air dan di darat di buat mati.
Semua ia lakukan agar Boas dan Dos keluar dari persembunyian, si iblis masih berpikir kalau Dos dan Boas adalah orang suci yang ingin ia tangkap, ia terlalu sibuk ingin menangkap ke duanya dan membuat banyak kerusuhan, sampai-sampai ia tidak tahu kalau Boas mendatangi dapur istana.
Boas juga mengambil kain dan pakaian dari istana tanpa di ketahui iblis.
Boas juga membawa dan menyembuhkan beberapa prajurit dari istana. Ia sadar tidak bisa melawan dan melenyapkan iblis yang menganggu warga desa dan istana karena ada banyak masyarakat yang di tawan di dalam penjara bawah tanah.
Boas juga sangat marah pada Dewa karena membatasi menggunakan kekuatannya.
“Apa kalian ingin mengerjai ku Para Dewa! Kenapa membatasi kekuatanku saat kami membutuhkannya,” teriak Boas saat itu.
Tetapi Dewa diam, tidak menghiraukan keluhan Boas.
Maka dengan kemampuannya sebagai kesatria pedang yang di berikan Dewa, ia berniat membawa orang-orang di persembunyian itu lagi ke kuil suci, tetapi sayang tidak semua bisa berjalan baik, ia akan menggunakan kekuatannya sendiri.
“Kami akan mengawal sampai tiba di kuil suci , Tuan,” ucap seorang prajurit.
“Tidak, tidak boleh berangkat banyak, karena hutan ke arah kuil dipenuhi ratusan serigala-serigala buas, aku dan Dos akan melakukannya, tetaplah di sini jaga Putri dan yang lainya”
*
Boas membawa anak-anak dalam satu kreta kuda yang jumlahnya sengaja tidak banyak hanya sekitar tujuh, ia sengaja memilihnya.
__ADS_1
“kenapa tidak membawa semuanya, keretanya masih muat, bawalah anakku juga, Tuan,” ujar seorang ibu menyodorkan anaknya.
Boas menolak dengan cara merentangkan tangannya.”Ibu dan anaknya, sudah terkena wabah, jika ibu dan anak ikut, akan menular pada anak-anak yang lain, tetaplah di sini!”
Satu hal yang sangat menyedihkan karena ia terpaksa tetap tinggal dengan anaknya yang masih kecil, tetapi Boas harus membuat pilihan yang sulit, demi ketujuh anak-anak yang masih sehat.
“Kamu seorang Dewa, bagaimana mungkin tidak bisa menolong anakku,” ucap wanita itu dengan kemarahan, ia bahkan menyerang Boas dengan batu karena meninggalkan ia dan anaknya.
Putri Isabel tidak bisa berbuat apa-apa, ia tidak bisa memaksa untuk membawa, ia juga tidak ingin tinggal bersama, kalau tidak, wabah yang mengerikan itu akan menulari semuanya.
Dos memberikan serbuk bunga merah untuk membuatnya pingsan, lalu menyuruh prajurit untuk membakarnya. Sedih, kejam itulah yang terjadi saat itu, tetapi mereka harus melakukanya demi orang banyak.
“Bagaimana dengan kami, bawalah juga ikut, kami tidak mau mati sepertinya” ujar seorang wanita lagi yang terlihat ketakutan.
Mereka semua tampak terdiam.” Karena tepat saat tengah malam wanita keluar dari goa mengambil buah yang sudah busuk di luar goa memakannya dan memberikannya pada anaknya, saya tahu semua itu, karena hal itulah harus menyelamatkan ketujuh anak-anak ini” Lelaki bertubuh besar itu menghela napas panjang, lalu ia berkata;
“Tetaplah di sini selama kami tidak ada, jika salah satu dari kalian keluar dari tempat ini, maka iblis itu akan mengetahui keberadaan persembunyian ini, Tuan Boas sudah memberinya mantra pelindung.”
“Baiklah saya akan mengawasinya,” jawab Putri Isabela dengan tegas, ia wanita yang berani, jika ada orang yang mencoba melanggar aturan yang sudah mereka buat, ia tidak segan-segan menghukumnya. Semua itu ia lakukan agar bisa bertahan hidup.
“Baiklah”
Dos dan Boas kembali meninggalkan bukit persembunyian itu, tepat saat tengah malam, ia sengaja memutar jalan lebih jauh menghindari hutan gelap. Mereka akan masuk melewati sungai dan masuk melalui jalur bawah tanah menuju kuil.
“Tuan, kenapa kita tidak membawa orang tua dari anak-anak ini untuk ikut bersama kita?” tanya Dos karena ia memilih meninggalkan para orang tua di persembunyian, tetapi membawa anak-anak , ke tempat yang paling nyaman, kuil suci.
__ADS_1
“Dos, aku tidak bisa menyamarkan aroma tubuh para orang tua, kalau anak-anak ini masih suci dan polos, mereka masih bisa di lindungi tetapi para orang tua aku tidak bisa menjamin.”
“Apa itu artinya para orang tua mereka tidak akan hidup?”
“Jika Dewa melindungi mereka akan selamat. Mau diatur sama Putri Isabela, aku yakin mereka selamat,” ujar Boas.
Perjalanan menuju kuil suci membawa anak-anak. Tidak menggunakan kekuatan sihirnya , menempuh perjalanan yang sangat panjang, dua hari dua malam lamanya,Boas merasa lemas, kehabisan tenaga. Boas tidak menggunakan kekuatan sihirnya untuk melakukan perjalanan kali ini. Rintangan pun ada di depan mata.
“Dos apa kamu yakin kita akan selamat dari sini?” tanya Boas saat mereka di hadang dua ekor ular besar. Gilanya lagi ular yang mereka hadapi kali ini, ular yang sama yang saat mereka hadapi saat naik ke atas gunung, saat perjalanan pertama. Dos melemparnya ke dasar jurang dan kali ini mereka di hadang kembali.
“Saya meminta maaf Tuan, Tuan benar, mungkin saat itu, saya harusnya menghabisi ular-ular tidak tahu diri ini,” ujar Dos mereka berdua harus menggunakan kekuatan pedang untuk menghadapi ular besar.
“Baiklah, tidak ada waktu untuk saling menyalahkan, ayo kita hajar mereka,” ujar Boas tidak mau menyalahkan Dos.
“Baiklah Tuan, saya yang menghajar si jantan dan Tuan yang menghajar si betina,” ucapnya kemudian.
Dos menarik pedang dari belakang tubuhnya dan melompat ke arah ular.
“Hiaaak …!”
Tetapi gerakan tubuhnya seolah-olah, bisa dibaca, ular menghindar dan merayap ke atas pohon besar, dengan gerakan tiba-tiba ular menjatuhkan tubuh besarnya menimpah tubuhnya, saat ia tertimpa beban berat, sejurus kemudian ekor ular bergerak dan melilit tubuhnya hingga tidak bisa berkutik.
Hal yang sama juga terjadi pada Boas, ular besar itu seakan-akan memiliki dendam besar pada Boas, ia terus saja menyerangnya tanpa henti, menggunakan kepalanya dan melibas dengan ekornya.
Bersambung ....
__ADS_1