
Saat ia berjalan menuju ruangan dokter sekretarisnya sudah mengatur pertemuannya dengan dokter spesialis bagian dan. Tetapi saat ia berjalan buru-buru, ia menabrak seorang wanita dan barang-barang yang di bawa berserak. Egdan dengan cepat memungut barang-barang yang di bawa yang isinya berupa jajanan anak-anak yang di bungkus dalam satu kantong plastik seperti sebuah bingkisan.
“Maaaf Bu saya tidak sengaja.” Egdan menunduk kepalanya tanda maaf.
“Baiklah saya akan memaafkan kalau Bapak mau tolong saya,” ujarnya setelah melihat wajah Egdan.
“Apa yang bisa saya bantu, Bu?”
“Tolong bawakan barang ini, ini sangat berat tenaga saya tidak kuat untuk mengangkat”
“Oh, ok, baiklah tunjukan arah jalan, saya akan bawa ke mana?”
“Iya, ikuti saya”
Wanita berwajah cantik berjalan di depan, dengan tangan menenteng bag kecil juga.
Setelah berjalan melewati beberapa koridor rumah sakit, lalu ia masuk ke salah satu ruangan yang bertuliskan bangsal anak. Egdan masuk dengan perasaan takut-takut. Tetapi saat ia masuk …
Dalam ruangan besar itu terdapat beberapa ranjang yang di isi oleh anak-anak, mereka semua penderita kangker.
‘Apa salah satu anaknya sakit di ruangan ini?’ Egdan membatin masih berdiri diam’
“Kenapa malah bengong sih, ayo bagi-bagi ini”
“Ha? Buat mereka semua?” tanya Egdan kaget karena anak dalam dua ruangan itu ada kira-kira lima belas anak.
“Iya”
“Tapi anak ibu yang mana?” tanya Egdan penasaran.
“Semuanya”
“Haaa, semua …? maksudnya mereka anak-anakmu?”Egdan masih terlihat tidak percaya. Namun, tangannya menyodorkan satu bagian plastik pada anak yang berbaring itu.
Penampilan mereka semua hampir sama , pakaian rumah sakit yang sama dan kepala sama-sama botak , sampai sulit membedakan anak perempuan dan anak laki-laki, karena kepala semua anak-anak itu mengalami kebotakan karena kerena penyakit kangker yang mereka alami.
Setelah membagi-bagikan bingkisan, lalu ia membuat lelucuan kecil membuat anak-anak kecil yang sakit itu tertawa dan terhibur.
‘Apa ini? Apa dia pikir dia malaikat penghibur?’ Egdan membatin .
*
“Namaku Tivani,” ujarnya menyodorkan tangannya setelah selesai membagi-bagikan bingkisannya.
“Oh, Egdan,” balasnya menyambut jabatan tangan gadis berwajah cantik.
“Terimakasih bantuannya, sampai jumpa nanti, saya mau ke kamar mandi dulu”
“Iya” Egdan mengangkat ponselnya, ia tahu kalau Biden pasti sudah mencarinya karena kehilangan jejak.
__ADS_1
“Bapak di mana, tidak nyasar, kan?”
“Tidak, saya masih di bawah tunggulah sebentar lagi saya akan naik” pintanya lalu menutup telepon.
Egdan naik ke atas di mana ruangan dokter yang akan memeriksa matanya ada di lantai atas.
Saat naik ke lantai empat Biden sudah menunggunya di dekat tangga naik.
“Mari Pak, ikut saya, ruangan dokternya di ujung”
“Apa dokternya sudah datang?”
“Katanya masih di kamar mandi, mungkin sebentar lagi dia akan naik, mari ikut saya”
Saat menunggu sekitar lima menit pintu ruangan dokter di dorong dari luar, saat Egdan menoleh ia terkejut karena ada Tivani yang datang.
‘Apa dia juga mau ke dokter?’ Egdan membatin tapi ia bersikap ramah dan tersenyum pada tivani.
“Selamat siang Dok!” seru Biden membuat egdan terkejut. Ternyata Tivani adalah seorang dokter, ia akan menangani mata Egdan.
“Ha …! Dia dokter?” Egdan memincingkan alisnya.
“Iya dia Dokter Tivani dokter bagian saraf dan mata”
“Tapi saya kok gak tahu iya, padahal kami tadi bertemu degannya di luar tepat di bawah.
“Apa aku hau mengatakan kalau aku seorang dokter pada orang aku temui?” tanya dokter Tivani .
Dokter mudah berwajah cantik itu hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Egdan.
Tivani mendudukkan panggulnya di kursi kerjanya lalu ia berkata;
“Tuan, Egdan, saya juga tidak akan meminta anda kalau saya tidak kenal, karena saya sudah tahu kamu akan jadi pasien saya makanya meminta bantuan Bapak”
“Benarkah?”
“Iya Pak Agdan karena sebelumnya saya sudah membuat janji dengan dokter Tivani”
“Iya seharusnya Dokter Tivani memberitahukan saya, kalau anda seorang dokter”
“Tidak ada hal yang seperti Pak Egdan, mana ada oran memamerkan dirinya kalau dia seorang dokter bukanya itu satu kesombongan?”
“Setidaknya saya tidak salah mengerti seperti yang tadi”
“Sudah lupakan tentang itu, fokuslah apa tujuan anda di sini”
Dokter Tivani seorang dokter yang sangat ramah dan dipenuhi banyak cinta dan kasih sayang. Dokter Tivani adala Shena yang terlahir kembali . Di kehidupan yang lalu ia orang yang tidak mendapatkan cinta dan pengakuan dari Boas dan meminta pada Dewa agar tidak di pertemukan dengan Boas. Namun, saat ini keduanya bertemu dengan tubuh berbeda dan kehidupan yang berbeda.
Dokter Tivani, orang yang sangat tenang dan baik hati, ia suka melakukan kebaikan dan dalam kehidupannya, tetapi suatu ketika saat ia sedang bertugas seorang rekanya dokter memberinya obat yang bisa menghilangkan nyawanya, roh sudah kembali ke langit Namun, karena kebaikan dan kematian yang tidak wajar.
__ADS_1
Sang pemilik kehidupan memasukkan roh Shena mengisinya jiwa yang selama ini tidak pernah mendapatkan cinta, tetapi sebelum ia memasuki tubuh Tivani jiwa Shena terlebih dahulu di sucikan dan mengingat apa-apa. Maka, saat ia bertemu dengan Egdan jiwa yang di isi suaminya di masa lalu iya itu Boas.
Saat ia meminta tidak bertemu dengan Boas di kehidupan mendatang hal itu tidak terwujud, Namun, pemilik kehidupan menghapus memory masa lalu dan menikmati kehidupan yang ia jalani.
Di masa lalu Edgan dan Dr. Tivani adalah pasangan suami istri, namun saat ini mereka berdua sudah sebagai orang asing. Tivani memiliki tunangan yang sangat mencintainya dan egdan juga sudah memilik istri.
“Pak Agdan mata bapak masih bisa diobati dan masih bisa melepaskan kaca mata, jika bapak tidak mau menggunakan kaca mata itu, kita bisa menggantinya dengan lensa kontak”
“Iya lebih baik saya menggunakan itu, tidak tahu kenapa saya merasa aneh menggunakan kaca mata yang aku pakai saat ini”
“Baiklah, saya akan tunjukkan pilihan lensa kontak yang cocok”
“Berapa harganya?”
“Nanti bapak di bantu perawat”
“Kenapa harus ke sana lagi, kenapa tidak di tangani satu satu dulu?”
“Maksudnya …?” Kedua alis mata dokter Tivani menyengit.
“Maksudku, kalau Dokter memeriksa saya, iya tuntaskan sampai selesai, sampai saya memakai lensa kontak yang saya inginkan”
‘Dasar lelaki keras kepala’ Dokter Tivani membatin tatapan matanya kesal.
“Tugas saya hanya memeriksa mata anda Pak Agdan, bukan penjual kontak lensa, kalau bapak ingin tahu, saran saya, ikuti perawat itu”
Bersambung
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TAMAT)
-Manusia Titisan Dewa(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (TAMAT)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)