Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Kemarahan Shena


__ADS_3

“Iya aku tidak mau membuka pakaianku di depanmu lagi, cukup malam itu malam … yang sudahlah, anggap saja aku mabuk dan melakukan hal gila padamu Tuan Boas.


Sekarang keluarlah dari kamar ini, jangan khawatir aku tidak akan meminta bertanggung jawab, karena itu bukan kesalahanmu dan bukan kemauanmu”


“Aku akan mengurusnya sendiri,” ucap shena tiba-tiba bersikap dewasa.


‘Ada apa lagi dengan wanita ini , aku tidak bisa memahami sikap wanita, tadi ia nangis-nangis ingin menikah denganku, sekarang ia menolaknya ada apa dengan para wanita?’ Boas membatin.


“Dengar Shena, saya tahu kamu pasti sangat marah, saya paham itu, tetapi saya ingin ingin kamu mengingat sesuatu, katakan padaku malam itu apa kamu merasa ada yang mencurigakan sebelum kamu tidur?”


“Tidak, aku tidak mengingatnya dan aku tidak mau mengingatnya lagi, itu hal yang memalukan dan menjijikkan yang pernah aku alami, menjatuhkan diriku pada seorang pria bukankan lah tipeku


Pak Boas Egdan jadi menganggap aku sengaja merayu agar bisa menikahi mu”


Boas menarik napas berat dari hidungnya, sikap keras pala Shena membuatnya kepalanya hampir meledak.


“Shenaaaa … siapa yang mengatakan begitu padamu?”


“Iya kamu, aku tahu tatapan intimidasi itu”


“Saya hanya tidak ingin menghukum pelaku yang melakukan hal itu padamu, dan ingin tahu apa tujuannya, hanya itu, tidak ada niat menuduhmu, percayalah jangan membuatku semakin merasa bersalah,” ucap Boas dengan suara lembut dan melemah.


Cibta mempunyai kekuatan yang begitu besar, yang bisa menghancurkan gunung tinggi sekalipun dan meleburkan gunung es, hal itu mungkin terjadi, Boas merasa kalau ia telah jatuh cinta pada gadis muda berparas cantik di depannya.


Kalau biasanya ia akan bersikap acuh dan cuek dalam segala hal, tidak perduli apapun itu, tetapi sejak ia menyentuh dan merenggut mahkota berharga milik Shena. Tiba-tiba Boas menjadi jinak, ia begitu takut kehilangan Shena, ia takut kalau wanita mudah itu marah apalagi terluka.


Di hadapan Shena ia seolah-olah tidak berdaya


“Aku tidak ingin kamu menghukum siapapun, karena kamu melakukannya padaku, lebih baik kita anggap sudah selesai dan anggap tidak pernah terjadi,” ucap Shena, ia semakin menjepit pangkal kakinya dan memegang dengan satu tangan, kembali rasa sakit menggerayangi pikirannya, sakit tidak iya?


Sakitnya masih sama tidak, aduh pengen pipis’ suara hati Shena bisa di dengar Boas dengan kekuatan besar yang di milikinya.


“Apa kamu tidak ingin mengetahui kebenaranya?”


Boas menatapnya dengan kedua alis dinaikkan.


“Kebenaran biarlah sebuah kebenaran. Namun tidak bisa mengembalikan kesucian ku lagi, lalu untuk apa aku mengetahuinya, saat ini aku menganggap diriku mabuk dan aku mendatangi kamarmu dan menggoda, lalu terjadi malam yang panas , mungkin malam itu malam yang sangat gila dan penuh semangat dan entah berapa kali kita melakukannya, yang pasti itu sangat bersemangat, aku mengatakan hal itu karena rasa sakit dan perih di bawahku”


“Shena di sini seolah-olah kamu berpikir kalau semua ini keinginanku, hal itulah yang tidak bisa saya terima”


Boas menggertak-kan giginya dan rahang nya mengeras.


“Lalu aku harus bilang apa? Apa aku harus bilang ayo kita lapor polisi, lalu menceritakan siapa yang mempengaruhiku dan kita suruh polisi menangkap penjahatnya, begitu?”

__ADS_1


“Shena kenapa kamu seakan -akan menyalahkan semuanya padaku” Boas tidak mau ia disalahkan atas yang terjadi.


“Keluarlah dari kamarku aku ingin ke kamar mandi”


“Sebelum masalah ini selesai saya akan tetap di sini, saya tidak mau kelakuanmu yang tadi terulang lagi, kamu tahu tidak? Kamu itu tadi hampir mencelakai kita berdua”


“Tidak lagi keluarlah, jangan masuk ke kamar ini lagi, dengan sembarangan,” ujar Shena dengan wajah yang masih kesal.


“Ini rumahku Shena, saya berhak masuk ke manapun yang aku mau, berhenti memerintah”


Boas marah.


“Terserah kamu Paman, awas aku mau mandi”


“Shena berjinjit ke kamar mandi, dalam kemar mandi itu ia kembali berjinjit, saat mengeluarkan air ampas dari tubuhnya ternyata saluran kencing itu masih sama sakit, ibarat luka yang belum kering di siram dengan air cuka rasanya seperti itu.


Sementara Boas masih duduk di sisi ranjang Shena, ia bisa mendengar sangat jelas apa yang di katakan di kamar mandi.


“Aooh kenapa masih sakit sekali,” ujar Shena mengigit kain yang ia pakai, ia tidak mau Boas mendengarnya,


“Aih perihnya, bagaimana ini aku tidak bisa mengeluarkan semuanya,”


Shena duduk berjongkok dan mengigit kain yang di pakai dengan keringat membasahi dahinya, ia dapat mengakhiri hari ini, ia membasuh wajahnya agar wajahnya yang masih pucat tidak begitu terlihat.


“Apa masih saki?” tanya Boas menatapnya dengan wajah kasihan.


“Apa kamu tidak mau keluar dari kamarku?”


Shena tidak menjawab pertanyaan Boas, bahkan ia tidak ingin membahas dengan lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.


“Saya akan menyuruh pak Ardan menyiapkan bubur untuk kamu”


“Tidak usah, aku tidak sakit, itu sangat memalukan jika dikategorikan menjadi penyakit, nanti aku akan turun sendiri, boleh kamu keluar dari kamar ini, aku ingin berganti pakaian,” ucap shena tetapi wajah dan bibirnya sangat pucat.


Boas tidak ingin memperpanjang masalah, tetapi ia tahu wanita itu dalam keadaan tidak baik, kepala terluka kehujanan membuat tubuh shena semakin parah,


“Baiklah” saat ia ingin keluar.


Buuuk ….


Belum baru beberapa langkah Boas melangkah tubuh Shena ambruk lagi, tubuhnya sangat panas luka di kepala basah terkena air hujan.


“Kamu wanita yang sangat keras kepala Shena kamu membuatku susah”

__ADS_1


Boas mengangkat tubuhnya kembali ke ranjang .


Lalu ia keluar dari kamar Shena, saat ia keluar dengan tiba-tiba dari sana, Ardan sudah biasa, walau asisten rumah tangganya yang lain masih suka terkejut karena sering sekali Boas keluar dari rumah naik mobil dengan supirnya.


Namun tiba-tiba sudah ada di kamar tanpa supir. Tetapi Ardan kepala bagian pengurus rumahnya selalu punya jawaban yang bisa membuat mulut para pegawai di rumahnya diam.


Saat Boas turun, Ardan baru saja selesai mandi karena sudah sore


“Tuan sudah di rumah, apa Tuan mau makan?” tanya lelaki yang sudah terlihat tua itu dengan rasa hormat.


“Ambilkan kompres Pak, Shena badannya panas lagi”


“Baik Tuan”


Ardan tidak bertanya apa yang terjadi jelas-jelas Boas membawanya tadi pagi kerumah sakit karena pingsan dan sore ini sudah ada di rumah kembali.


Datang tidak dijemput pulang tida diantar , kira-kira begitulah kebiasaan Boas.


Bersambung ....


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


Bintang kecil untuk Faila (tamat)


__ADS_2