
Dalam kehidupan Boas Egdan kali ini, setelah menikah dengan Aresya atau Shena, ia ditakdirkan susah memiliki anak dan ditakdirkan diacuhkan oleh Aresya .
Kali ini demi mendapatkan anak ia dan Aresya harus bolak balik ke rumah sakit untuk rencana bayi tabung. Tetapi ada orang jahat yang tidak ingin Aresya hamil, mereka ingin melenyapkan Aresya.
Setelah di lakukan pemaksaan pada Davino, akhirnya ia menurut dan mau berangkat sendiri ke rumah sakit bersama.
Aresya dan Davino, mendatangi rumah sakit yang ditunjuk Ny, Marisa, mereka berdua datang, untuk melakukan pemeriksaan.
“Apa kita sudah bisa mulai hari ini, aku tidak ingin bolak balik ke rumah sakit, itu melelahkan,” ucap Davino.
“Boleh asal pak Davino sudah siap”
“Saya siap Dok , lalukan sekarang,” ucap Davino.
Aresya masih di ruangan dokter, dibawah pengawasan ketat para pengawal yang mengikutinya, ia mengikuti semua anjuran dokter, sementara Davino masuk ke satu ruangan, ia akan kembali melakukan pemeriksaan, di mulai dari darah.
Setelah selesai bertemu dokter kandungan, Aresya menemui Davino di ruangan dokter lagi, mereka akan melakukan program bayi tabung ulang.
Davino mulai merasa gelisah, saat Davino melihat jarum suntik, saat Davino ketakutan melihat jarum kecil itu, tetapi tidak untuk Aresya
“Bisa saya yang menyuntiknya sus, saya lebih merasa nyaman kalau melakukan sendiri,” ucap Aresya ia melakukanya sendiri.
“Ibu sangat berani, kalau biasanya pasien kebanyakan ketakutan saat melihat jarum, ibu malah melakukan sendiri”
Setelah menunggu beberapa lama untuk hasil cek darah, semua baik. Sekarang saatnya untuk pemeriksaan yang paling penting, Davino mengeluarkan cairan miliknya, hal yang paling ia benci, karena ia harus bekerja keras untuk melakukan itu.
“Silahkan pak Davino masuk ke ruangan Men’s room dan ini tempat penampungnya, apa bapak melakukannya sendiri, apa perlu bantuan istri bapak untuk membantu bapak mengeluarkannya?”
Davino menatap Aresya, ia tidak tahu istrinya saat ini, wanita yang sangat mencintainya di masa lalu, bahkan di kehidupan sebelumnya Shena atau Aresya sudah pernah memiliki anak darinya, tetapi di kehidupan saat ini Aresya ditakdirkan mereka berdua sama-sama membenci, karena itulah permintaan keduanya di masa lalu, melupakan dan saling tidak mengenal satu sama lain.
“Saya lakukan sendiri sus,” ucap Davino masuk keruangan khusus, ruangan yang akan membuatnya berpeluh keringat untuk mengeluarkan cairan benih miliknya.
“Suami saya mau kemana sus?” tanya Aresya, ia penasaran dengan ekspresi wajah Davino yang terlihat sangat kesal saat masuk ke dalam ruangan itu.
“Ibu penasaran?” tanya perawat yang terlihat sudah mulai tua.
“Tidak, saya hanya penasaran dengan sikap suami saya tadi,” ucap Aresyah .
“Karena itu … mungkin suami anda butuh bantuan mu, biasanya ikut istri akan lebih cepat, karena biasanya para pasangan juga melakukan bersama, mari ikut saya, bantu suami ibu agar cepat selesai”
Aresya menurut, karena ia tidak tahu apa yang dilakukan Davino, ia masih polos. “Masuk lah ini kamarnya,” ucap seorang perawat.
Dengan sikap baik dan penurut Aresya mau, ia berpikir demi kebaikan.
‘ Men’s room’
Tok … Tok …
Aresya masuk, tapi apa yang ia lakukan malah sebuah malah petaka.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Davino dengan wajah memerah antara marah malu dan prustasi.
__ADS_1
Aresya mematung menyaksikan yang terjadi, Davino duduk dengan celana tergeletak di lantai tangannya memegang botol kecil yang ia tampung dari pusakanya dan di depan, dalam layar ada film dewasa untuk membantunya mengeluarkan cairannya.
Aresya tidak tahu sama sekali kalau Davino sedang melakukan hal itu, Aresya mematung dengan mata melotot, Ia melihat Davino setengah terbuka dari kaki sampai pinggang, melihat dengan jelas benda besar milik Davino.
Wajah Davino pucat dan berantakan, ia sangat kesusahan mengeluarkan miliknya, hampir satu jam bahkan ia sudah menonton hingga tiga kaset dan satu majalah dewasa baru berhasil menampung sedikit, namun saat ini, Aresya berdiri di depannya, degan wajah pucat.
“Maafkan aku, tadi suster menyuruhku masuk,” ucap Aresya panik dengan wajah memerah, ternyata ia masuk ke tempat yang salah.
Davino merasa sangat kesal, ia menyerahkan cairan yang sudah ditampung tadi dan meninggalkan rumah sakit dengan langkah buru-buru, ia menunggu Aresya dalam mobil.
Membiarkan Aresya mengobrol dengan dokter, seteleh dokter melakukan
“ Bu, Bu Marisa memintaku memberikan vitamin penguat kandungan, jangan sampai suami melihat, semoga sukses”
“Baik Dok” ucap Aresya dengan wajah masih pucat.
“Datanglah lagi nanti untuk pemeriksaan bayinya ”
“Baik Dokter,” ucap Aresya masih setengah sadar.
Ia keluar dari ruangan, tidak ada Davino di sana.
“Kemana? Apakah ia masih marah? Aduh mataku jadi ternodai, aku juga tidak tahu kalau itu ruangan yang seperti itu,” ucap Aresya ia memilih duduk sebentar untuk menenangkan pikirannya.
Berjalan keluar dari rumah sakit, ia menuju parkiran, saat melihat mobil Davino ia menarik napas panjang sebelum ia masuk ke dalam mobil.
Lelaki itu menyadarkan kepalanya di jok mobil, ia menutup wajahnya dengan lengannya, terlihat putus asa dan marah.
“A-a-aku sungguh tidak tahu,” ucap Aresya terbata-bata.
“Puas kamu, tertawalah sekarang” ucap Davino dengan suara meninggi.
“Saya tidak tahu, kalau itu ruang untuk melakukan hal yang seperti itu, perawat menyuruhku masuk, untuk membantumu agar cepat, aku mau saja, saya pikir bisa membantu,” ucap Aresya dengan suara pelan, ia juga merasa sangat malu ….
“Bodoh, dasar wanita bodoh, masa kamu tidak tahu hal seperti itu”
“Saya belum pernah menikah, saya juga belum pernah melakukan bayi tabung dari mana aku tahu, wajar kalau aku melakukan kesalahan, terus apa salahnya kalau aku masuk, aku kan hanya ingin membantu”
“Membantu kepalamu … kamu hanya membuatku malu,” ucap Davino.
“Apa salah, saya masuk saya’kan istrimu”
“Oh … begitu, baiklah kamu yang mengatakannya”
Davino menghidupkan mesin mobilnya dan memutar balik kendaraanya, membawanya ke Villa yang satunya lagi, villa yang dekat dengan makam Ibunya.
“Apa yang kamu lakukan” tanya Aresya bigung.
Davino membuka pintu mobil di sebelah Aresya menyeretnya tangannya.
“Apa kamu lakukan?”
__ADS_1
“Berteriak, kalau kamu tidak tahu malu”
“Semua orang melihatmu, lepaskan tanganmu” ucap Aresya mencoba melepaskan genggaman tangan Davino.
Davino membawanya Villa keluarga, tempat ia bersinggah setiap kali datang ziarah ke makam maminya.
Menyeretnya masuk, Davino melepaskan pakainya. “Kamu bilang ingin membantuku tadi, sekarang lakukanlah”
Mata Davino menatapnya dengan tajam, Aresya duduk dengan tenang.
“Maafkan saya tadi,” ucap Aresya melihat kemarahan Davino.
“Terlambat untuk kamu meminta maaf, kamu bilang tidak apa-apa karena kamu istriku, sekarang juga aku katakan tidak apa-apa karena aku juga suamimu. Ia mendekat dan meraih bibir aresya dengan kasar tadinya Aresya bersikap tenang, karena ia melihat Davino dalam kedaan marah, namun ucapan Davino membuatnya murka, Davino bilang. “Saya akan bayar untuk malam ini jika perlu”
“Apaaa?”
Pak …
Aresya menamparnya tidak terima saat Davino merendahkannya lagi.
“Kamu istriku”
“Kamu berengsek dengan mulut berengsekmu” Aresya mendorong tubuh Davino.
Bersambung ….
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
Bintang kecil untuk Faila (tamat)