
“Ah …” suara Boas lolos begitu saja , matanya melotot tajam saat menyadari kalau tubuhnya sangat merespon sentuhan tangan Shena, sentuhan yang sudah mulai menyusuri bagian dada bidangnya.
‘Apa ini? aku tidak bisa menolaknya’ ucap Boas, mengepal tangannya mencoba bertahan, ia diam dan menutup matanya , berharap Shena berhenti karena, ia tidak mau menanggapinya.
Tetapi bukannya berhenti, Shena justru semakin liar, kini, salah satu tangannya sudah berhasil memegang senjata miliknya.
“Shena ….! jangan melakukan apa yang kitakan sesali nantinya,” ucap Boas menatap Shena dengan tubuh menegang, tubuhnya sudah di aliri listrik bertegangan rendah, ia merasakan bagian-bagian saraf dalam tubuhnya menegang, dan jantungnya seakan dipukul dengan palu yang besar, membuatnya berdendang dengan hebat.
Tangan Boas masih mengepal kuat untuk mencoba melawan gejolak dalam tubuhnya. Akan tetapi pertahanan Boas runtuh, ia tidak bisa menolaknya lagi, ia memegang dagu Shena dan membalas permainan Shena dengan gaya yang berbeda dan lebih porsesif, ia menyambar bibir Shena, menghisap madu dalam mulut Shena memasukkan lidahnya semakin dalam dan ia menjelajahi seluruh bagian mulut itu, mengabsen deretan gigi, dan lidahnya menggeliat, bagian rongga mulut Shena, tidak cukup hanya bagian bibir yang ia nikmati, tangan nya mulai sibuk menjelajahi setiap inci bagian tubuh wanita cantik itu.
Wangi tubuh shena yang membuat bagian dari tubuhnya semakin bergejolak , tangannya tidak mau berhenti, ia selalu bergerak menjelajahi setiap lekuk tubuh itu, hingga tangannya berhenti di pundak.
Tangan itu menyentuh tali kain berwarna hitam itu, melorotkan ke bawah, matanya benar-benar dimanjakan dengan pemandangan yang laur biasa, yang di miliki Shena, kedua pasang benda itu membuatnya menelan ludah dengan nikmat.
lalu Boas melepaskan bibir Shena dan kini bibirnya menyusuri ceruk lehernya memberikan kecupan kecupan kecil di sana.
Tubuh Shena semakin menegang dengan suara erangan manja dari mulutnya, membuat Boas bagai singa yang kelaparan, bibirnya turun ke bagian lembut di dada Shena
Ia tidak mau menganggurkan kedua gunung indah itu. Bos mencekamnya dengan kuat satu bagian dan satu bagian lagi ia masukkan ke mulutnya, ia bagai seekor anak anjing yang sedang menikmati tulang, suara-suara kecil penuh napsu keluar dari mulutnya.
Tubuh semakin menggeliat bagai cacing kepanasan, saat mendapat sentuhan hangat dari Boas,, semakin ia menggeliat dan mengeluarkan suara erangan Boas semakin bersemangat.
Dengan gerakan lembut dan penuh hati-hati, ia membaringkan tubuh Shena, tubuh indah yang terpancar dari lampu remang dari kamarnya.
Melihat pemandangan yang sangat indah itu, Bosa tidak berkedip di buatnya, tubuh mungil yang dulu ia jaga itu kini sudah tumbuh sempurna, bagai sekuntum bungan mawar yang sedang mekar, kulitnya mulus terawat, bau harum dari tubuh Shena menjadi candu bagi Boas, ia mengarahkan kepalanya ke leher itu lagi, menyusurinya sampai ke bawah
Dan kini kepala Boas berada di atas perut Shena, ia mendonggakkan kepalanya, melihat reaksi wanita yang saat ini sedang ia nikmati.
Shena menutup matanya dengan gerakan yang masih sama, tubuh itu masih menggeliat dengan gerakan yang membuat mata Boas semai.
__ADS_1
Shena semakin mendesah saat Boas menyusuri setiap inci tubuhnya, kedua insan bagai makhluk yang baru merasakan kenikmatan dunia.
Mereka saling memburu dan saling beradu untuk mendapatkan kenikmatan itu.
Shena gadis polos yang belum pernah merasakan sentuhan dari pria lain, tetapi Boas lelaki dewasa yang sudah lupa bagaimana rasanya surga dunia.
Karena ia mengunci sejak lama, tetapi kali ini , keinginannya itu menggebu, tubuhnya sangat mendamba kehangatan itu, ia lelaki norma yang bisa bangun jika dibangunkan.
“Shena aku tidak bisa mengendalikan diriku,” ujar Boas di tengah aktivitasnya.
“Aku takut aku akan melakukan kesalahan besar nantinya,” ucap Bos dengan napas terengah-engah.
Shena tidak menjawabnya secara langsung, tetapi gerakan tubuhnya dan ******* yang keluar dari mulutnya memberi jawaban yang pasti untuk Boas.
Tangan kekar itu menarik lingerie milik Shena sepenuhnya, melemparkannya ke lantai dengan asal, memperlihatkan tubuh itu setengah bugil, hanya ada cela dalam yang tersisa menutupi asetnya.
‘Oh itu sangat indah dan cantik’ucap Boas saat melihat kedua buah indah itu masih menggantung indah masih kokoh di tempatnya seakan-akan menantangnya untuk melahapnya,.
Shena menatapnya dengan tatapan manja yang membuatnya bergairah melihat Shena yang begitu menginginkan di sentuh, membuat Boas begitu semangat tidak ada keraguan untuk melakukannya.
Ia di beri izin sepenuhnya untu melakukannya untuk menikmatinya sepuasnya. Boas melupakan semua janjinya dan ia melupakan kalau wanita yang ia nikmati saat ini, bocah perempuan yang akan selalu ia jaga.
Dengan cepat ia mencengkram ke dua gunung yang menantang itu dengan kuat, ia kembali memasukkan ke mulutnya, ia mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya suara yang begitu menikmati,
Shena semakin menggeliat, ia juga menjambak rambut boas membalas perlakuan Boas yang terus mencengkram, dan melahap bagian dari dadanya, Boas sangat menggila sangat merasakan kenikmatan itu.
Kenikmatan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan, ia mengangkat tubuh Shena lagi, membenarkan posisinya menariknya ke sisi ranjangnya.
Boas berdiri ia sudah ingin mengakhiri permainan malam ini. Ia menarik handuk yang dari tadi menutup senjatanya.
__ADS_1
“Shena, aku akan melakukannya, apa kamu sudah siap?” tanya Boas menatap Shena tetapi lagi-lagi wanita itu hanya menutup matanya.
Dengan keringat yang sudah membasahi tubuh keduanya, Boas merasakan aliran listrik yang semakin kuat mengaliri tubuhnya , ia ingin segera melepaskannya.
Ia menyadari mata Shena masih menutup, walau ada yang sangat berbeda dari Shena, tetapi otak Boas terlalu sibuk untuk urusan untuk menuntaskan keinginan tubuhnya, jadi, tidak menghiraukan kalau sikap Shena sangat berbeda.
Dengan gerakan hati-hati ia melepaskan kain penghalang terakhir
.
Lelaki ber-otot kekar itu, membuka celah kaki Shena dan memasukkan pedang miliknya.
Setelah sebelumnya sudah melepaskan kain penghalang terakhir, kini tubuh keduanya sudah benar-benar polos.
Kali ini boas ingin menyudahi permainan panas mereka.
Boas tampak kesusahan memasukkan ke lobang yang masih sempit itu, butuh beberapa menit baginya untuk bisa memasukkannya, ia mendorong dengan kuat
“Kreaaak”
Sesuatu terdengar robek seperti kain kasa tipis di sela kaki Shena, seiring terdengarnya suara teriakan dari mulut shena.
“Auuu sakit!”
Ia berhasil menuntaskan hasratnya yang sudah lama tidak pernah tersalurkan,.
Pada akhirnya Boas merasakan hal yang sangat berbeda, hingga ia tertidur kelelahan, ia tertidur di samping tubuh Shena yang ikut terbaring lemas, membiarkan semuanya berserakan dan noda merah yang ada di seprai itu menandakan kalau wanita itu memberikan mahkotanya pada lelaki yang sudah membesarkannya dan menjaganya selama ini.
Bersambung …
__ADS_1