Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Gaun Pengantin


__ADS_3

Tangan Egdan  mendapat  jahitan,  pecahan gelas itu merobek kulit lengannya lumayan lebar.


“Apa perlu aku membuat rujukan ke rumah sakit?”


“Tidak perlu begini saja.” Mata Egdan tidak lepas dari Dr. Tivani.


Tersadar dirinya dilihatin lalu ia berkata, “Apa ada masalah kenapa dari tadi kamu melihatku terus menerus”


Egdan mengalihkan pandangan matanya. “Itu karena kamu cantik”


“Baru kali ini Egdan Clark memujiku cantik, apa kamu baik-baik saja? Maksudku , apa saat kamu jatuh tadi kepalamu terbentur?”


Egdan tersenyum  kecil, lalu ia menggeleng, wajahnya terlihat sangat mendung seakan-akan ingin mengucapkan banyak hal namun ia tidak punya keberanian.


“Apa kamu sendirian? Biasanya kamu selalu bersama dengan lelaki itu”


“Lelaki itu namanya Leo, Pak”


“Iya, iya Leo, kemana dia”


“Sepertinya kamu tidak suka dengan tunangan ku, kalau bertanya dia kemana Leo lagi ada operasi di luar kota dan dia akan lanjut mengikuti seminar di kota lain juga”


“OH”


Saat Tivani bercerita Leon tidak ada, sekilas wajah egdan terlihat senang, bulir-bulir cinta yang dulu ia abaikan  untuk Shena kini ia rasa itu sangat besar ia rasakan untuk Tivani, wanita yang rela menyerahkan hidupnya untuk Egdan.


“Kenapa kamu tidak pernah suka dengan Leo, dia orang baik baik”


“Iya untuk kamu baik tetapi untuk tidak”


Tivani beberapa kali melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, ia tampak gelisah.


“Aku sudah membalutnya dan memberinya obat, jika kamu ingin istirahat di sini, tidak apa-apa, ada perawat yang akan menjaga, aku ada janji dan ingin pergi, tidak apa-apa iya”


“Mau kemana?”


“Aku ingin mencoba pakaian pengantin yang sudah aku pesan”


Dug …!


Tiba-tiba  jantung Egdan berdetup kencang saat Tivani menyebut gaun pengantin.


“Tapi tunangan mu tidak ada kan?”


“Tidak apa-apa aku bisa coba bagian punya dulu”


“Tidak baik mencoba pakaian pengantin sendirian harus ada pasangannya, kata orang tua zaman dulu itu pamali”


“Benarkah, tap tidaka apa-apa nanti aku akan ajak teman  menemani ke sana”


“Tidak perlu, saya saja”


“Haaa!? Kenapa harus kamu. Maksudku tanganmu terluka”


‘Ini hanya luka kecil Shena,  jika kamu ingat luka yang aku alami dulu lebih dari sini’ egdan membatin.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil,’ ujar Egdan, ia berdiri.


“Tapi tunggu Pak Egdan, apa Bapak yakin, jangan di paksakan , kalau tidak bisa sendiri gini saja, biarkan aku membatalkan janji kami dulu dengan pemilik butik”


“tidak perlu, saya saja, di kantor juga tidak lagi banyak kerjaan,” ujar Egdan berbohong demi Dr. Tivani, padahal di kantor pekerjaannya segunung.


“Baiklah, kalau kamu mau  seperti itu’


Tivani terpaksa menyetir mobil dan egdan duduk di sampingnya, ia menunjukkan jari-jarinya di luka dan  tidak terasa sakit lagi.


‘Ternyata kekuatanku masih bisa di gunakan , tanganku sudah sembuh, tapi aku akan tetap berpura-pura sakit’ Egdan membatin.


Saat menyetir Tivani  sangat hati-hati, ia tidak ingin luka di tangan Egdan bertambah sakit,  tetapi Egdan masih dengan aksinya ia duduk di sebelah wanita berambut pendek berkulit eksotis,


“Jangan melihat terus aku jadi tidak fokus menyetir,” ucap Tivani  merasa grogi karena Egdan.


“Shena, bisa berhenti sebentar”


“Shena …? kenapa kamu selalu memanggilku dengan sebutan Shena, apa kamu punya mantan yang mirip denganku.


‘Bukan mirip tetapi memang kamu’ ujar Egdan dalam hati.


“Eh, Vani, aku salah menyebut, bisa meminggirkan mobilnya?”


“Eh, tapi aku sudah telat”


“Sebentar saja”


“Bagaimana kalau pulang saja kita bicarakan nanti, soalnya di sudah menelepon tadi”


Mobil  itu melaju   lima belas menit kemudian,  berhenti di sebuah bangunan yang dari luarnya terlihat glamor dengan ornamen pernikahan, saat buka pintu sudah bisa tertangkap mata kalau gedung ini di khususkan untuk perak-pernik pernikahan, mulai dari pemesanan souvernir, jahit pakaian bahkan catering dan  pemesan buku undangan.


                                *


“Selamat Bu Tivani silahkan masuk ,  bos aya sudah menunggu dari tadi” ujar seorag pegawai butik saat mereka tiba.


“Baik Non,”


Tiba  di sebuah ruangan yang memamerkan  gaun pengantin yang sangat cantik hasil rancangan sang pemilik butik. Seorang lelaki yang bersikap gemulai.


“Eh selamat datang Cin, lama deh,” ujarnya manja dengan jari-jarinya lentinya menari-nari manja di depan wajah Tivani


“Iya maaf lama, tadi ada pasien juga’


Bahkan ia tidak menyadari kalau pasangan Tivani bukan Egdan.


“Ok, ok ayo kemari kamu harus coba gaunnya, aku tidak mau tertunda lagi, sudah menunda tiga kali aku merasa kayak gak ada niat untuk menikah.”


Dengan sikap buru-buru ia menyeret Tivani ke ruang ganti, ia tidak perduli dengan sikap penolakan yang di lakukan Dokter cantik itu.


“Buka bajunya”


“Eh kamu keluar”


Lelaki setengah perempuan itu keluar dan ia menunggu Tivani.

__ADS_1


“Tolong berikan jas untuk lelaki itu’


“Saya buka-”


“Sttt jangan malu-malu ini pakai, aku buru-buru aku ada janji dengan orang lain  sebentar lagi”


“Bukan aku-’


“Aku sudah bilang tolong kerja samanya, saya tidak ingin ada bantahan” ujar lelaki gemulai itu memaksa Egdan memakai jas yang seharusnya bukan untuknya.


Tivani hanya bisa menarik napas panjang, melihat sikap lelaki  bersuara kerempeng itu, ia tidak bisa menolak karena ia juga salah, karena beberapa kali membatalkan janji dengannya membuat merasa kesal beberapa kali.


“Sudah belum keluarlah, laki-laki ini sudah menunggumu”


“Apa laki-laki, apa ia memberikan jasnya pada Egdan?”


Tivani keluar dari ruang ganti dengan sikap buru-buru, tadinya ia ingin memberitahukan kalau jas  itu di ukur untuk Leo  tunangannya bukan untuk Egdan.


“Oh, iya ampun cantik bangat,” ujar  beberapa pegawai butik saat ia keluar.


Tivani berhenti dan berdiri di depan kaca saat itu juga Egdan keluar dari ruang ganti pria dengan lelaki perancang tersebut.


“Shena …?”


Egdan melihat sosok Shena lah yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih itu, wanita itu sangat cantik ia seperti seorang bidadari langit,  tersenyum ke arah kaca. Egdan terdiam  menatap Tivani ia bagai terhipnotis, air matanya tiba-tiba meluncur bebas menyusuri pipinya, ‘Shena maaf’ ujarnya penuh sesal, dadanya terasa sesak.


“Apa kamu menangis karena ia sangat cantik, sabarlah ia akan jadi milikmu bersabarlah,” ujar lelaki itu menepuk pundak Egdan .


Bersambung …


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TAMAT)


-Manusia Titisan Dewa(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (TAMAT)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)

__ADS_1


__ADS_2