Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Aresya Selamat


__ADS_3

Sudah sebulan Aresya masih dalam masa pemulihan, sesuai yang dikatakan  ketua Storbit,  mereka akan melakukan ritual untuk menjaga Aresya dan calon bayinya,  batu berwarna biru akan mengeluarkan sinar, dimana bulan  berada di atas kepala, malam Jumat Kliwon.


Maka malam ini jiwa Aresya akan di jaga kembali, batu berwarna biru yang di jaga makhluk berwujud seekor burung besar dengan  cakar kuku yang  tajam dan  sorot mata yang menatap penuh kewaspadaan.


Sosok binatang berbentuk burung itu, konon katanya mahluk penjaga  keturunan Storbit,  ia adalah binatang peliharaan sang guru  Torak.


Ia akan datang jika  seorang keturunannya memanggil dengan memberikan daranya sebagai tanda.


Malam itu,  Marisa dan keturunan Stobit melakukan ritual membentuk perisai penjaga untuk melindungi tubuh Aresya. Agar tidak diganggu sosok mahluk bayangan gelap.


Para keturunan Storbit menyatukan kekuatan membentuk satu perisai pelindung untuk melindungi tubuh Aresya,  melakukan ritual penjagaan akhirnya mereka berhasil melindungi raga Aresya dari sosok Si Bayangan Hitam.


Tugas  mereka belum selesai, malam ini adalah puncaknya, mereka akan memindahkan penjaga Aresya kembali ke tubuhnya.


Apakah tubuhnya dapat menerima jiwa itu kembali, apakah jiwanya dapat  memasuki raga Aresya?


*


Malam tiba para anggota Storbit yang  berjumlah sekitar dua puluh orang.  Datang dari berbagai daerah bahkan ada yang sudah merantau ke luar Negeri. Namun kali ini mereka berkumpul dengan mengunakan  jubah berwarna hitam, tidak ada yang tahu orang yang seperti apa  di balik jubah itu, sebelum mereka berhasil menjaga ritual tidak ada yang boleh membuka  jubah mereka.


Tetapi jika kali ini mereka bisa menyelamatkan Aresya ,  maka ini jadi satu pencapain yang luar biasa untuk mereka.


Dalam satu ruangan sudah  tersedia satu hidangan   untuk menjamu para anggota, jika pekerjaan mereka berhasil malam ini …  maka penutup kepala bisa dilepas dan sebuah pesta perayaan akan berlangsung.


Malam ini bulan  tepat di atas kepala, terdengar sebuah gongongan seperti suara serigala terdengar entah dari mana,


Lilis yang belum terbiasa dengan ritual yang berbau supranatural itu terlihat  bergelidig beberapa kali, karena mendengar suara-suara mistis di sekitar mereka.


Sebuah tirai besar tersingkap di  ruang bawah tanah, tirai itu memperlihatkan bulan

__ADS_1


Namun tiba-tiba awan gelap menutupi sinar rembulan, para anggota Storbit semakin  berpegangan tangan mengucapkan kalimat-kalimat mantra.


Seseorang dari mereka yang di yakini sebagai ketua mengangkat tombak runcing bermata tiga. Dengan cepat mengarahkan kearah bayangan hitam sebuah suara kemarahan terdengar dari sosok bayangan hitam dan dengan  mengarahkan batu biru kearah bayangan hitam yang di yakini adalah Kadas mahluk  jahat yang datang dari masa lalu.


Saat batu biru itu diarahkan kearah bayangan hitam sebuah cahaya  berwarna putih berwujud  burung besar terbang, dengan bringas mengejar si bayangan hitam, suara burung  melengking memecah kegelapan malam, suara itu mampu membuat semua bulu-bulu  dalam tubuh ikut berdiri.


Ia mengejar dan mencabik –cabik bayangan hitam itu mencengkeramnya, membawanya  terbang ke udara, hingga semuanya kembali sunyi, bulan itu kembali  memancarkan sinar rembulan yan indah.


Ketua storbit dengan cepat  meletakkan batu berwarna biru itu kembali ke atas  kepala Aresya mengarahkan tongkat bermata tiga dengan kekuatan yang  ia miliki.  Meletakkan kembali kekuatan Aresya dari batu


Mereka menunggu dengan membaca sebuh mantra yang di baca  bersama-sama dan tangan saling berpegangan,  batu berwarna biru itu akhirnya sinarnya padam.


Menuggu Aresya bereaksi,  hingga akhirnya jari-jari tangan Aresya bergerak. Sebuah  keberhasilan akhirnya  terjadi, Aresya dan bayinya selamat, matanya terbuka mencoba menetralkan pandangannya yang kabur, hingga akhirnya terbuka sempurna.


“Aresya! Apa kamu bisa mendengarku?” tanya Ny. Marisa mendekatkan wajahnya kearah Aresya.


Matanya hanya berkedip menatap  dengan lemah, tubuhnya belum bisa di gerakkan, hanya mata yang berkedip  sebagai tanda jawaban.


Ia  dipindahkan dari tempat ritual,  memindahkannya kembali  ke sebuah rungan di sana ada dua orang  dokter sudah bersiap memberi pertolongan untuk Aresya.


Ia kembali  menutup mata dalam kehidupan normal  menurut dokter Aresya sengaja di buat tidak sadarkan diri beberapa saat, namun, dalam dunia mistis Aresya disebut  jiwanya sedang dibungkus dan lindungi.


Aresya kembali  tidur, namun menurut para tetua ia tidak apa-apa,  hanya perlu menunggu beberapa hari. Karena jiwanya ingin mengenali raga yang sempat ia tinggalkan dan nyaman di dalam batu di jaga seekor mahluk pelindung, akhirnya mahluk yang mengincar Aresya dan saudara kembarnya malam itu sudah hilang.


Setelah mengadakan jamuan sekalian perayaan pada para anggota, untuk merayakan keberhasilan mereka untuk menjada Aresya.  Ini pertama kalinya mereka berhasil menyelamatkan nyawa seorang setelah di beri tanda oleh mahluk jahat tersebut.


Mereka sudah beberapa kali gagal kali menyelamatkannya para wanita yang sudah diberi tanda termasuk ibu dari Davino yang gagal mereka selamatkan.


**

__ADS_1


Saat ini,  Davino berada di Surabaya,  ia  menyibukkan dirinya bekerja setelah omanya berjanji akan menunjukkan Aresya padanya setelah ia berkerja dengan baik.


Ia ingin menunjukkan pada orang tua itu kalau ia juga bisa bekerja dengan baik, ia juga ingin katakan pada omanya ia juga layak  jadi pemimpin.


Davino berada dalam sebuah kapal menatap laut, terbesit dalam ingatannya saat Aresya pernah naik kapal dengannya  teman-temannya.  Duduk di kapal yang sedang berlabuh menatap jauh kearah lautan hembusan angin laut membawanya masuk ke dalam angan yang membawanya  masuk ke saat yang indah bersama Aresya di Singapura.


“Hai, Bro loe tumben ngajak gue ketemuan di kapal, ada apa?” Devan sudah berdiri di belakangnya.


“Iya,  gue mau ngomong penting ama loe Dev,” ucap Davino berdiri dari kursi tempat ia menghabiskan waktu sejak tadi pagi.


Saat ia izin ke Surabaya pada Kirana  tadi malam, setelah ia menyimpan buku-buku dan barang-barang kuno itu  ke gudang, ia langsung menuju Surabaya ingin memantau pabrik kapal yang tadinya Aresya dan Devan yang akan mengerjakannya, namun, Davino ingin ikut bergabung.


“Iya  ada apa,  kenapa sampai bawa gue ke sini, kenapa kita tidak  bicara di kantor,” ucap Devan .


Saat melihat wajah Devan seperti ia yakin ada hubungannya dengan Aresya, ia yakin  Devan marah padanya pada saat ia datang menjemput Aresya di Taman Sentosa saat di Singapura. Davino belum menjelaskan apa yang terjadi pada Devan.


“Gue ingin menyelesaikan kesalahpahaman di antara kita sebelum kita membahas tentang pekerjaan,” ucap Davino, membalikkan tubuhnya menghadap kearah Devan.


Mengarahkan Devan agar duduk di sofa di dalam kapal sebagai sahabat, Devan ingin bicara nyaman.


“Iya ada apa?”


“Jangan seperti itulah, kita sudah kenal lama, jangan terlihat marah seperti itu,” ucap Davino.


“Justru itu, gue ini sahabat lu , tetapi, kenapa,  mengkhianati gue, lu  bilang  tidak ada hubungan dengan Aresya , tapi kenapa lu mengambilnya saat  gue ingin mendekatinya?” tanya Devan dengan mata menatap Davino


“Dia istri gue”


Tidak ingin salah paham dengan sahabatnya Davino akhirnya mengaku kalau Areya istrinya.

__ADS_1


Apakah Davino sudah jatuh cinta pada Aresya?


Bersambung


__ADS_2