
Tiba dalam taxi, Aresya ketawa ngakak, untuk pertama kali bagi Davino menyaksikan Aresya bisa tertawa lepas dan puas seperti itu. Davino masih diam, ia belum mengerti tentang apa yang terjadi, ia hanya menunggu Aresya menyelesaikan tawanya.
“Gila, baru kali ini aku bertingkah gila seperti itu” Aresya memegang perutnya masih tertawa, ia membayangkan bagaimana terkejutnya Devan saat ia berlari menghampiri Davino.
‘Oh iya ampun, konyol bangat tingkahku tadi, iya ampun aku sangat menyebalkan tadi’ ucap Aresya masih tertawa.
“Sudah tertawanya?” tanya Davino menatap dengan alis menyengit.
“Maafkan saya pak Davino atas sikap lancang saya tadi,” ucap Aresya bersikap sopan.
‘Sudah kembali sikap aslinya’ bisik Davino dalam hatinya, ia menoleh kerah jendela jantungnya belum stabil.
Ia hampir terkena serangan jantung saat Aresya bersikap manja dan memberinya kissing, bukan karena ini pertama kali ia mendapatkan sebuah kissing, tetapi, masalahnya yang melakukannya seorang Aresya, seorang istri yang selalu menolaknya sampai saat itu.
Wanita yang selalu bersikap dingin dan acuh padanya , wanita yang mengatainya bukan lelaki idaman.
Davino sadar, kalau ia hanya dimanfaatkan Aresya untuk mengerjai Devan.
Hingga taxi itu berhenti di sebuah hotel, sepanjang pulang Davino hanya diam, ia marah karena Aresya memanfaatkannya, Aresya akhirnya ikut diam, saat menyadari kalau Davino marah padanya.
Langit sudah mulai gelap saat Davino tiba di hotel,ia chek-in, memesan hanya satu kamar untuk mereka berdua, saat ini rahangnya masih terlihat mengeras.
“Kok, Kamarnya satu sih pak, ambil dualah buat aku mana?” tanya Aresya
“Ckkk. Kita satu kamar”
“Aku tidak mau, aku ingi tidur sendiri”
“Kamu punya uang? pesan saja sendiri, di sini harga kamar hotelnya, bisa beli dua motor”
“Ha, Motor? mahal amat,” ucap Aresya ia berjalan mengikuti Davino dari belakang, Aresya tidak mempunyai uang di tangannya, hanya ada ponsel miliknya barang satu-satunya yang ia bawa, lebih baik menurut dari pada tidur di jalanan.
Ting…
Suara lift benda berbentuk tabung itu terbuka dan mengangkat tubuh mereka ke atas, Aresya masih dengan sikap meneliti, tangan Davino menekan angka tujuh.
Ting…
Tiba di lantai tujuh, Davino menempelkan card bewarna gold di pintu.
Pintu kamar amarnya terbuka, kamar yang super mewah yang mereka tempati saat ini, kamar yang menyuguhkan pemandangan laut yang indah dari jendela.
‘Waoooo ini sangat luas, ini terlalu luas untuk sebuah kamar hotel. untuk satu rumah ini sudah cukup.
Tiba-tiba tangan Davino menariknya, membawanya kearah jendela, dari jendela hotel terlihat sangat indah menuju pemandangan laut dengan lampu.
__ADS_1
“Jangan malah melamun, nikmati pemandangan itu” ucap Davino mengarahkan punggung Aresyah untuk melihat kearah jendela.
“Wah ini bagus sekali” ucap Aresya dengan mata menatap takjub.
“Ok, baiklah sekarang katakan apa yang terjadi?”
Aresya berbalik badan, ia menatap kearah Davino,.
“ Begini … Saya meminta maaf karena saya melakukanya”
“Melakukan apa?” tanya Davino dengan wajah mulai kesal saat Aresya beberapa minta maaf atas kissing yang di berikan padanya, padahal di hutan, lebih dari itu mereka sudah melakukannya.
“Karena bertingkah aneh padamu dan saya memelukmu”
“Berhentilah memakai kata 'saya' Aresya aku ini suamimu, "ujar Davino kesal.
'Kamu hanya suami diatas kertas Pak Davino, setelah aku melahirkan anak ini, aku juga ogah tinggal bersamamu' Aresya membatin.
" Apa ada yang salah? "
" Bukan kesalahan Aresya, aku bilang kamu lagi ngapain sama Devan di tempat itu”
“Oh, itu oma yang meminta menemaniku, aku juga terkadang bingung tentang jalan pikiran Oma, kenapa harus menyuruh orang lain, untuk mengajakku jalan, kalau kamu tidak mau, dia bisa menyuruh beberapa pengawal untuk menemaniku, kenapa harus lelaki sombong itu”
“Saat Aresya menyebut Devan lelaki kurang ajar, Davino terlihat menatap dengan serius.
Aresya tidak ingin Davino dan Devan terlibat kesalahpahaman apalagi Ny. Marisa menyukai cara kerja dari Devan.
“Tidak, dia hanya ingin membawaku menjelajahi semua tempat wisata di kota ini, aku sudah bilang tidak mau, dia paksa katanya atas perintah Omah, jadi aku marah”
“Hanya itu?”
“Iya” jawab Aresya, “Oh aku gatal ini harusnya pakaianku ada di hotel yang sudah di pesang Devan” Aresya mengalihkan pembicaraan ia tidak mau Davino mengungkit masalah yang tadi.
“Sebentar, saya suruh Adi yang mengambilnya, dia lagi di apartemen Oma, tidak jauh dari sini” Davino menelepon orang yang ikut bersamanya tadi, meminta membawakan pakaian dari hotel.
“Apa Omah punya apartemen di kota ini?”
“Ga usah heran, oma punya harta di mana-mana. Bahkan setiap Negara ia punya apartemen dan villa dia orangnya suka jalan setiap Negara, juga sudah pernah jalan berkeliling dunia.”
“Wah kehidupan orang kaya memang beda, iya”
Davino duduk di sofa matanya masih menatap Aresya tatapan menyelidiki, ia menunggu Aresya menceritakan apa yang terjadi antara ia dan Devan, tangan melipat di dada, kaki saling menopang.
“Aku masih menunggumu menceritakan apa yang terjadi hari ini,” ujar Davino.
__ADS_1
“Tidak ada yang ingin aku ceritakan, semua baik-baik saja”
“Tidak ada yang baik-baik saja , Aresya! Tadi kamu bersikap aneh dan bertingkah tidak biasa denganku, sekarang ceritakan padaku, ada apa dengan kamu dengan Devan,”pinta Davino, ia mendesak Aresya.
“Tidak… begini, saya hanya tidak ingin pak Devan melakukannya pekerjaannya dengan terpaksa, jadi meminta kamu datang”
“Lalu, kenapa kamu tadi memeluk saat aku datang dan kamu bersikap manja seolah-olah kamu ingin menunjukkan sesuatu pada si Devan”
Tiba-tiba wajah Aresya merah, ia gugup karena Davino mencercanya dengan berbagai pertanyaan, tangan Aresya meremas ujung pakaiannya, Devan tahu ia sedang menyembunyikan sesuatu, Aresya bukan wanita yang pintar berbohong, ia sangat grogi saat ini, ia berbohong saat bilang tidak ada apa-apa.
Walau Davino tidak dalam hubungan yang baik dengan Aresya , namun, ia tahu kalau Aresya menyembunyikan sesuatu hal yang tidak mau ia ceritakan pada Davino.
“Lupakanlah saja, ingin mandi dan tidur”
“Apa yang ingin aku lupakan? sementara kamu menciumku di depan orang banyak, tanpa permisi dan bertingkah sangat aneh”
“Tidak bisakah, kita melupakannya pak Davino? Anggap saja saya lagi-“
“Lagi memanfaatkan ku?” tanya Davino dengan tatapan serius,
Aresya diam, ia tidak ingin memperpanjang masalah, ia hanya ingin tidur dan melupakan masalah , namun, tidak semudah itu untuk menyelesaikan. Davino ingin sebuah penjelasan.
“Tidak ada yang seperti itu pak Davino, Saya minta maaf karena telah-“
“Kamu kenapa berbelit-beli, tinggal jelasin apa yang terjadi.” pungkas Davino.
“ Tidak ada yang perlu di jelaskan Pak Davino, Saya melakukan itu karena senang melihat suamiku datang, lebih baik suami sendiri walau tidak diinginkan selalu di hina ,tapi, itu lebih baik dari pada orang yang melakukanya,” ucap Aresya tapi tatapan matanya berkata lain.
‘Apa yang sebenarnya yang terjadi antara kamu dengan Devan apa yang di katakan lelaki itu?’
“Apa dia menyakitimu?” tanya Davino.
“Saya lapar, baru ingat belum makan malam, ayo makan,” ucap Aresya menghiraukan pertanyaan Davino.
"Bisakah jangan pakai saya"
"Oh, baiklah, aku, akan pakai kata aku'
Tetapi, melihat raut wajah Aresyah yang terlihat sedih, ia tahu kalau Devan sudah menyakiti perasaan Aresya.
“Baiklah, aku tidak ingin memaksa kamu tentang apa yang sebenarnya terjadi, intinya kamu hanya memanfaatkan aku tadi di depan Devan baiklah, kalau memang seperti itu.
“ Ckkk sial, baru kali aku di manfaatkan seseorang,” ucap Davino mendensis jengkel.
Ia keluar dari kamar, meninggalkan Aresya yang masih berdiri mematung, Davino keluar dan duduk café di lantai bawah,
__ADS_1
Bersambung