Manusia Titisan Dewa

Manusia Titisan Dewa
Terluka


__ADS_3

Matahari mengeluarkan semua sinarnya pagi ini, panasnya terik sampai membakar kulit, Boas sengaja membiarkan tubuhnya diterpa sinar terik pagi ini, tidur di ranjang empuk yang ia sudah lama ia tinggalkan.


“Tuan, serapan sudah saya siapkan,”


Ujar Erdan berdiri di depan pintu.


“Apakah Tuan akan serapan di sini apa di kamar?”


“Nanti aku akan turun biarkan aku tidur lebih lama lagi”


“tapi … Tuan sudah tidur selama dua hari.”


”Ha, benarkah,a ku hanya merindukan kehangatan kamar ini”


Boas bangun tetapi ia malas untuk melangkah keluar dari tempat tidur, hampir tiga tahun ditinggalkan kota itu, tampak sangat berbeda kini ia kembali ke kota yang menyediakan semua kemewahan untuknya.


“Tuan, saya pamit, kalau ada yang Tuan ingin panggil saya saja”


“Baiklah”


Boas berdiri di pintu kamarnya, kini ia berada di tempat yang berbeda. Namun , hatinya tetap merasakan perasaan yang sama kehampaan.


Ia membutuhkan waktu tiga tahun untuk mendapatkan batu ketiga, kekuatannya juga semakin besar saat ia sudah memilki batu ketiga.


Tetapi rasa kehampaan itu semakin nyata saat Dos singa bersayap peliharaannya.


Setelah menggunakan kekuatan teleportasi dan berada di rumahnya dua hari yang lalu tepatnya saat malam saat itu juga Dos di angkut di bawa istana Para Dewa, padahal ia belum sempat mengucapkan terimakasih.


“Ah, sudahlah, aku tidak akan pernah mengerti apa yang direncanakan para Dewa.”


Ia turun untuk serapan karena dua hari ini ia membiarkan cacing dalam perutnya kelaparan, sejak tiba, ia hanya di dalam kamarnya .


“Tuan Batu!” seorang perempuan cantik berdiri menatapnya


Ia terkejut wanita yang dulu yang ia tinggalkan masih terlihat seperti anak kecil tetapi saat ini ia sudah dewasa dengan penampilan cantik’


“Oh, Shena kamu sudah dewasa” Boas hanya memberi tanggapan biasa pada wanita cantik di depannya, ia merasa kalau ia sedang bicara dengan Putri Isabela, wanita yang memiliki wajah mirip dengan putri Shena.


“Tuan Batu kapan datang kok aku tidak tahu”


“Shena aku sudah bilang jangan panggilan aku ‘Tuan Batu’ kenapa masih mengucapkannya.

__ADS_1


“Oh itu panggilan alami, karena sudah terbiasa”


“Biarkan aku makan dengan tenang , bisa kamu tidak bicara dulu aku akan makan dengan tenang”


“Tidak aku tidak akan menganggukkan, tapi apa kamu tidak akan bertanya apa yang terjadi selama kamu pergi?” Ia kembali menjatuhkan panggulnya di meja panjang


“Tidak untuk saat ini, tinggalkan aku sendiri di sini aku ingin makam dengan tenang”


“Ih kamu tidak pernah berubah Paman, masih tetap dingin seperti bal olok es,” ucap Shena


Ia hanya diamankan dengan tenang.


*


Ia sudah selesai makan ia mandi dan duduk di taman di dekat kolam tetapi matanya menyusuri setiap sudut rumah miliknya, rumah itu , sekarang sangat berbeda setelah hampir tiga tahun ia tinggalkan di setiap halaman rumahnya di tumbuh taman bunga yang sangat berseragam warna.


Padahal ia sudah puluhan tahun tinggal di dalam rumahnya .Namun, belum pernah ada tanaman bunga yang berhasil tumbuh di sana, kata Dewa itu semua karena kemarahan dan dendam di tubuh Boas membuat tumbuhan dan tanaman hias tidak bisa tumbuh subur di sana.


Tetapi saat ini, semua tanaman hias yang sangat cantik menghiasi pekarangan rumahnya, mengingatkan istana Putri Isabela.


Boas menutup untuk menenangkan pikirannya, tiba-tiba ada tangan hangat memeluk lehernya ia tidak pernah menyentuh wanita sudah sangat lama, kaget dengan hal itu Boas dengan refleks mendorong tubuh Shena menggunakan kekuatannya, wanita itu terlempar ke belakang dengan begitu kuat.


“Shena!” Boas berlari menghampiri wanita yang sudah ter-kapar dengan luka di kepalanya karena kepalanya terbentur.


Pelayang hanya terdiam melihat pemandangan yang tidak biasa itu,, Boas mengangkat Shena ke kamar .


“Pak Ardan tolong panggilan dokter! tidak usah bertanya dia kenapa nanti kita bicara setelah dokter datang memeriksanya”


“Baik Tuan”


Ardan lelaki tua yang sudah bekerja padanya dari generasi ke generasi, dengan sikap buru-buru ia menelepon dokter yan akan memeriksa Shena.


“Mana, udah?’ tanya Boas terlihat sangat panik.


“Sudah Tuan , lagi di perjalanan”


“Kenapa sangat lama, lukanya parah ,Pak,”ujarnya tidak sabar, seakan-akan lelaki tua itu yang mencelakai Shena.


“Bersabarlah Tuan, mungkin jalanan sedang macet”


Boas mondar-mandir dengan wajah semakin menegang

__ADS_1


“Ini tidak bisa aku akan membawanya, ia menggendong tubuh Shena dan menjentikkan jarinya tubuh mereka berdua sudah berada di rumah sakit dan berlari membawanya ke ruangan UGD.


Saat pikiran panik tidak menyadari pakaian yang ia pakai. Untuk pertama kalinya merasakan rasa panik yang hampir membuatnya tidak bisa bernapas.


“Dok, lakukan sesuatu, aku tidak sengaja mendorongnya hingga terjatuh”


“Baiklah Jangan khawatir kami akan mengurusnya dengan sangat baik Pak Boas, silahkan duduk”


Saat duduk di sofa di tunggu Boas baru menyadari kalau ia hanya mengenakan celana pendek boxer tanpa alas kaki dan hanya memakai kaos tipis, untung ia membawa shena ke ruang ViP jadi tidak ada orang yang melihat penampilannya yang memalukan.


Boas masuk ke toilet rumah sakit dan dari sana ia menggunakan kekuatan jari tangannya dan kembali ke kamarnya, memakai pakaian yang rapi dan menyambar ponsel yang sudah lama ia tidak gunakan lagi.


Tidak lama kemudian ia turun, saat ia turun seorang dokter baru tiba.


“Maaf pak saya terlambat,” ucap dokter pribadinya dengan wajah bersalah.


“menunggu dokter datang sudah keburu mati dia,aku sudah membawanya ke dokter”


“Oh, tapi siapa yang bawa?”


“Oh tadi seseorang membawanya duluan ke rumah sakit” ardan membantu Boas menjelaskan kebingungan dokter , karena ia sudah tahu siapa dan bagaimana kekuatan yang miliki Boas.


“Panggilkan aku supir! Pak Ardan dan kamu juga ke rumah sakit sekarang, bantu membereskan administrasinya” Ia menatap Ardan asisten pribadinya.


“Ba-baik Tuan”


“Kamu pulang saja kamu terlambat untuk panggilan darurat,” ujarnya pada Dokter yang datang kerumahnya.


“Baik Pak Boas,” ucap lelaki itu menundukkan kepalanya dengan hormat.


Naik ke mobil masih dengan sikap buru-buru,


‘Shena, tidak tidak bisa jauh dari rumah, aku yakin Para Iblis sudah mengincar nya untuk menekan ku’ Boas membatin.


Dewa angin berpesan padanya agar ia selalu waspada dan berkata;


“Saat iblis tahu kalau kamu sudah memiliki tiga batu maka ia tidak akan melepaskan dirimu dan hidupmu tidak akan tenang begitu juga dunia yang kamu tinggali, ia akan melakukan cara untuk mendapatkan batu itu darimu, tetaplah waspada,” ujar Dewa angin, Dewa satu-satunya yang selalu sabar melihat sikap angkuhnya.


Karena hal itulah yang ia pikirkan tadi , dengan tidak sengaja ia mencelakai Shena, sampai dia berbaring di rumah sakit kali ini.


“Cepat, cepat tidak bisa lebih dipercepat lagi laju mobilnya” tanya Boas ia menjaga diri agar tidak sering menggunakan kekuatan yang di miliki karena Dewa melarangnya. Maka itu ia tidak bisa menggunakan kekuatan teleportasi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2