
Daruna menatap seseorang yang ada dihadapannya saat ini dengan sangat tak berdaya. Semua persendiannya melemah seketika. Dadanya naik turun dengan nafas yang tak beraturan. Waktu seakan berhenti. Menampilkan slide potret kenangan lampau. Orang yang ada dipotret itu kini nyata dihadapannya. Seakan ia datang dengan mesin waktu dan berada tepat dihadapan Daruna.
Daruna tak pernah mempercayai yang namanya kebetulan. Tapi ia percaya akan takdir Tuhan. Dulu ia terpisah mungkin atas kehendak Tuhan, lalu apakah pertemuan tak sengaja ini atas kehendak Tuhan jua-kah?
Pria yang ada dihadapannya itu melambaikan tangannya tepat didepan wajahnya. “Daruna, kamu baik – baik aja..? Kamu Runa kan?”
Suara itu suara yang dulu sangat begitu akrab ditelinganya. Suara yang sangat ia rindukan beberapa tahun terakhir ini. Ini seperti mimpi. Tapi ia yakin ia masih terjaga untuk mengetahui kalau ini bukan mimpi.
“Abay...?” Daruna meyakinkan dirinya kalau pria yang ada dihadapannya memang Abay-nya yang dulu. Pria yang dipanggil Abay itupun tersenyum menampilkan lesung dipipi kanannya. Daruna memberanikan diri menatap wajah Abay dengan seksama. Mata yang bulat bersinar, bibir yang terlihat manis dan rambutnya yang ia biarkan agak panjang begitu saja. Namun tetap dengan karismanya sendiri.
Benar, orang yang ada didepannya saat ini memang Abay-nya dulu. Tapi Daruna merasa berbeda kini berada didekatnya. Walaupun dia Abay yang dulu tapi ia merasa berbeda dengan Abay yang dilihatnya saat ini. Tatapan itu, ia tak menatapnya seperti dulu. Daruna pun tak menemukan cahaya dari sana. Entahlah..
”Hey..kamu kenapa malah jadi melamun seperti itu?” tanya Abay tersenyum. Ia tersenyum seolah – olah seperti pertama kali bertemu dan tak pernah terjadi apa – apa dimasa lampau. Sedangkan Daruna tubuhnya menjadi kaku dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Oh, enggak apa – apa. Kamu sendirian ke sini?” tanya Daruna akhirnya menutupi kegugupannya. Yang ditanya kemudian celingukan seolah sedang mencari seseorang di antara banyak orang di Pusat Perbelanjaan itu. Daruna kemudian juga ikut mencari kemana arah mata Abay tapi ia tak tahu siapa yang Abay cari.
__ADS_1
“Tadi sama Ayah, Ibu juga Dita. Tapi sekarang enggak tau kemana. Kamu sendiri sama siapa ke sini? Apa sama.....?” Abay seperti sengaja menggantung kalimatnya disana.
“Sama teman, Gevan juga dan sekarang aku juga enggak tahu mereka pada kemana...” Daruna mencoba tersenyum. Sesaat keduanya hanya diam tak ada kata – kata apa – apa lagi yang keluar dari mulut keduanya. Hanya suara keriuhan dari orang – orang yang ada disana.
“Kamu apa kabar Runa?” tanya Abay kemudian tapi tetap dengan pandangan ke arah keramaian.
“Baik. Kamu sendiri?”
Abay menghela nafas panjang,”Semoga sama baiknya kaya kamu”.
Daruna menatap Abay perlahan disebelahnya tak ada yang berubah setelah 8 tahun terakhir tak bertemu. Hanya rambut tipis dipelipis pipinya dan gayanya berpakaian yang menandakan dia semakin terlihat dewasa.
“Ayah sama Ibu apa kabarnya?” tanyanya sekali lagi.
“Semuanya baik – baik aja” jawab Abay santai.
__ADS_1
Ternyata Abay masih terluka dengan kejadian di masa lalu. Buktinya saja setelah bertahun – tahun tak bertemu sikapnya tak lagi seperti dulu. Dia menjawab seadanya dan seakan tak ingin memperpanjang pembicaraan,batin Runa.
“Syukurlah kalau begitu..” Runa menghela nafas panjang setelahnya. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan lagi. Ia merasa tak pantas untuk bertemu dengan lelaki yang sudah disakitinya dulu. Disakiti oleh keluarganya sendiri.
Ketika Runa berniat untuk pergi tiba – tiba saja seorang anak kecil perempuan umurnya kira – kira 5 tahun menghampiri Abay. Dia merengek – rengek untuk segera pergi bersama Abay. Runa tercenung.
“Hey, Kia. Kamu darimana aja, dicari – cari dari tadi...” nada Abay terlihat sangat cemas.
“Ayo...kita main. Dicariin Bunda dari tadi loh....” anak kecil yang dipanggil Kia itu terus menerus menarik tangan Abay.
“Itu anak......” tak sempat Runa menanyakan tentang anak itu ke Abay, Kia tak kalah merengeknya.
“Iya – iya sayang sebentar...” kata Abay akhirnya menuruti kehendak anak itu.
“Runa, aku duluan ya?” Abay dan anak itu dengan cepat menghilang dibalik keramaian. Tanpa sempat Runa menanyakan siapa anak itu?
__ADS_1
Apakah ia anak Abay? Oh, berarti sekarang dia sudah menikah dan dikaruniai seorang putri yang cantik. Semoga kamu bahagia Abay dengan keluarga kecilmu. Daruna mencoba tersenyum walaupun hampir tak bisa ia rasakan.
Baru saja bahagia tak sengaja bertemu dengan Abay setelah beberapa tahun tak pernah tahu tentang kabarnya. Ya, walaupun hanya sebentar Daruna merasa sangat senang. Tadinya setelah bertemu kembali dengan Abay ia berharap masih tetap bisa menjalin hubungan pertemanan. Tapi setelah pertemuan singkat itu dan ia tau kalau Abay sudah berkeluarga sirna sudah harapannya untuk kembali bersama Abay.