
Saat Mayra tau Runa selamat dari kebakaran itu ia sangat marah dan kesal. Kenapa Runa tak bisa lenyap dari dunia ini? Apalagi saat ia menghubungi Abay dan ternyata Abay kini malah bersama perempuan itu amarahnya semakin memuncak. Semua benda yang ada di kamarnya ia lempar ke dinding dengan sekuat tenaganya. Vas bunga, buku - buku yang semula tersusun rapi kini sudah berserakan di lantai kamarnya. Kamarnya kini sudah seperti terkena badai.
Mayra menangis sejadi - jadinya. Hatinya sangat sakit ternyata Abay lebih memilih perempuan itu dari pada dirinya. Apa kurangnya Mayra dimata Abay? Apa lebihnya Runa sampai - sampai Abay tak bisa melupakan perempuan itu? Pertanyaan demi pertanyaan yang memenuhi otaknya tak bisa terjawab olehnya. Mayra sangat mencintai Abay. Apa Abay tak bisa melihat cintanya yang begitu besar?
Sampai malam selarut ini Abay belum juga kembali ke rumah. Pasti kini ia tengah bersama perempuan itu. Batin Mayra. Matanya sembab karena terus - terusan menangis. Kini ia menatap nanar botol minuman beralkohol yang entah kenapa bisa ia beli. Ia berharap kesedihan dan rasa sakit hatinya akan berkurang dengan meneguk minuman itu.
"Abay......Abay! Kenapa kamu jahat sekali! Hmm..?" Mayra terus bergumam tak jelas. "Aku...sangat mencintai kamu Abay!"
Abay akhirnya pulang dan langsung menuju kamarnya. Tapi langkahnya terhenti ketika melewati kamar Mayra. Pintu kamarnya terbuka lebar dan isi kamarnya berantakan. Abay segera masuk dan mencari sosok Mayra. Dimana Mayra? Apa rumah ini habis kerampokan dan Mayra diculik?
__ADS_1
Abay terus mencari dan memanggil Mayra ke pelosok kamarnya. Akhirnya ia mendapati Mayra tengah mabuk di balkon kamarnya. Mayra mabuk? Sejak kapan ia bisa minum minuman seperti ini? Ada apa dengannya?
"May, kamu kenapa? Ada apa sama kamu?". Mayra tak merespon namun ia terus bergumam tak jelas. Abay segera membawanya masuk ke dalam dan merebahkannya perlahan diranjangnya. Kemudian menyelimuti tubuh Mayra yang terbalun baju tidur yang tipis.
"Abay.....jangan tinggalin aku. Kamu jahat!" Mayra bergumam dengan mata terpejam. Abay mendekat ke arah Mayra menajamkan pendengarannya. "May?"
Mayra tersedak dan seperti mau muntah. Tapi ternyata tidak, ia kembali terpejam. Saat Abay ingin membenarkan selimutnya lengan Abay ditahan oleh Mayra.
"Kamu enggak usah takut aku disini nemanin kamu. Kamu tidur aja ya?"
__ADS_1
Tangan Mayra menarik lengan Abay agar naik ke ranjangnya. Abay menggeleng.
"Aku akan tidur dan enggak akan merasa takut kalau kamu ada disamping aku. Please..."
Abay duduk ditepi ranjangnya Mayra. Benar _ benar ditepi. Mayra mendekat tersenyum dan memeluk lengan Abay. Abay merasa risih dengan sikap Mayra ini. Sejak kapan Mayra bertingkah sangat genit seperti ini?
"Sekarang aku sudah disini kan? Dan kamu juga sudah memeluk lenganku, aku enggak akan bisa ke mana - mana. Sekarang kamu tidur.."
Mayra tersenyum dan memejamkan matanya. Abay tak ingin ketiduran di ranjang Mayra bersama Mayra dikamar Mayra. Ia harus bisa menahan kantuk yang menyerangnya saat ini. Matanya mulai berat. Namun ia masih mampu terjaga sampai Mayra benar - benar terlelap baru ia akan keluar perlahan.
__ADS_1
Namun siapa yang mampu menahan lagi kalau kantuk yang berat sudah mulai menyerang. Kini, Ia tak mampu menahan kantuknya lagi.