
Terasa berat namun Runa tetap berusaha membuka matanya. Kesadarannya kembali namun kepalanya terasa masih pusing. Yang ia lihat pertama kali saat ia membuka matanya adalah ia yakin ia tak berada dikamarnya saat ini. Ditatapnya lengan kirinya yang baru terasa pegal sekarang karena terpasang selang infus. Jelas saja ia pasti berada di rumah sakit saat ini. Akhirnya ia ingat kejadian semalam, dimana Darta dan Abay
berkelahi dan tak sengaja mengenai dirinya.
Kemudian matanya mengekor ke setiap sudut dikamar ini. Dan mendapati seseorang sedang meringkuk di atas sofa yang jaraknya tak terlalu jauh dari ranjangnya. Jelas seseorang ini bukan Melda, bukan juga Darta. Dari belakang punggungnya saja Runa tau itu pasti Abay. Kenapa laki – laki ini selalu hadir dikehidupannya?
Sosok itu menggeliat sebentar, membalikkan badannya dengan posisi telentang. Seperti mencari posisi nyaman untuk berbaring disofa kecil itu sedangkan postur tubuhnya lumayan besar. Tanpa sadar Runa tersenyum. Namun kejadian semalam membuat senyumnya hilang saat itu juga.
Abay tak seharusnya kembali lagi dikehidupannya saat ini dan membuat semuanya seperti ini. Andai ia tak bertemu dengan Abay, ia pasti akan menikah dengan Darta dan menjalani kehidupannya dengan normal.
Runa kembali menutup matanya berpura – pura belum sadar ketika ia tau Abay sudah bangun dan mendekati ranjangnya. Ia tiba – tiba merasa deg – degan. Tangannya digenggam lembut oleh Abay. Runa semakin bertambah deg – degan.
“Runa....” Suara khas yang meneduhkan itu memanggil namanya.
“Kamu benar – benar bodoh”
__ADS_1
Apa? Abay menyebutnya apa? Ingin rasanya Runa bangun dan menampar wajahnya itu. Tapi tak ia lakukan, ia ingin mendengar apa yang selanjutnya yang akan Abay katakan.
“Apa kamu sangat mencintai Darta?”
Runa bisa mendengar dengan jelas, nada Abay berubah sendu.
“Secinta inikah kamu ke Darta,sampai kamu tak bisa melihat kebenarannya”
Kebenaran? Kebenaran apa yang Abay maksud? Kebenaran apa yang Abay tau tentang Darta? Lama, cukup lama Runa menunggu Abay berkata sesuatu lagi. Tapi sepertinya Abay tak mengatakan apa – apa lagi. Akhirnya Runa memutuskan untuk ‘sadar’ dari pingsannya itu.
“Melda mana?” tanya Runa ketus tanpa memperhatikan lawan bicaranya yang sudah memasang muka senang namun malah diabaikan.
“Melda barusan aja keluar, katanya mau cari sarapan. Kamu mau sesuatu, mau minum?”. Dengan cepat Abay mengambil segelas air putih disamping tempat tidur Runa dan ingin memberikannya untuk Runa.
“Enggak. Aku enggak butuh apa – apa!”. Abay terdiam. Dan mengembalikan gelas itu ditempatnya semula.
__ADS_1
“Kamu mau sesuatu yang lain? Makan? Atau----“
“Enggak usah lagi peduli sama aku”
Yang tadinya wajah Abay terlihat bersemangat kini seperti terkena tamparan keras. Bagaimana bisa ia tak peduli
dengan Runa? Dengan wanita yang masih sangat ia cintai. Tapi sekarang wanita itu tak membutuhkan perhatiannya lagi.
“Aku enggak butuh perhatian kamu, aku enggak butuh simpati kamu. Aku juga enggak butuh bantuan kamu,”. Entah kenapa nada Runa terdengar semakin berat, ia menahan sesak didadanya. Tak ingin menangis dihadapan Abay saat ini. Menangisi ketidakberdayaannya sendiri.
“Aku bisa menghadapi masalahku sendiri. Sekarang kamu boleh keluar”
Abay membalikkan tubuhnya ingin beranjak pergi karena itu pinta Runa. Tapi ia menoleh sebentar ke arah Runa
yang membuang wajahnya ke arah lain. “Aku tau kamu enggak suka aku ikut campur terlalu dalam ke dalam urusan kamu dan Darta, karena aku bukan siapa – siapa kamu. Aku enggak berhak untuk itu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari.” Abay berlalu. Dan kini benar – benar pergi.
__ADS_1
***