Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
4


__ADS_3

Semenjak pertengkaran kecil di Cafe Coffe tadi siang Darta tak juga menghubunginya sampai saat ini. Untuk sekedar say good night pun tak lagi ia lakukan. Runa harus ekstra sabar menghadapi sikap Darta akhir - akhir ini dengan meyakinkan dirinya sendiri kalau Darta memang sangat sibuk belakangan ini. Itulah sebabnya ia pasti tak sempat untuk memikirkan Runa.



Tapi tetap saja Runa berharap Darta untuk sebentar saja menyisihkan waktunya untuk Runa walaupun itu untuk say hai ditelepon. Runa benar - benar merindukan Darta, tapi saat ini Darta seolah tak perduli dengannya, tak perduli dengan perasaannya.



Ketika ia baru saja hendak memejamkan matanya untuk tidur ponselnya bergetar. Satu pesan masuk yang disangka Runa adalah Darta. Tapi ternyata sms yang sama dengan yang tadi siang ia terima dari nomor yang sama pula. Runa mencoba mengingat - ingat barangkali saja ia tau nomor siapa yang tengah mengerjainya ini, namun tetap saja ia tak tau. Ada keraguan untuk membalas pesannya dan bertanya siapakah orang dibalik ini semua, tapi Runa tak melakukannya.



Terakhir kali yang mengiriminya pesan seperti ini adalah Abay. Tapi apa mungkin pesan kosong yang ia terima hari ini juga dari Abay? Kalau iya, Runa pasti akan senang. Namun Runa masih dalam kebimbangannya. Balas, enggak, balas, enggak, balas....enggak!


Runa membatalkan niatnya untuk membalas pesan itu, biarkan sajalah paling memang hanya orang iseng. Lagi saat ia akan memejamkan matanya, satu pesan masuk lagi.



From : +628250991xxx


Runa?



Nomor tak dikenalnya itu tau namanya? Sudah hampir setengah jam pesan itu ia baca namun ia tak juga membalasnya. Sudahlah, Runa tak ingin ambil pusing kalaupun orang ini ada perlu dengan Runa, pasti ia akan meneleponnya langsung bukan dengan ala anak alay seperti ini.



***



"Kamu pagi ini ada kelas Ge?" tanya Runa ketika mereka duduk sarapan bersama.


Sambil mengoleskan selai kacang ke dalam roti bakarnya Gevan mengiyakan pertanyaan Runa dengan mengangguk. "Iya Kak.."



Runa hanya mengangguk kecil dan tersenyum,"Semuanya lancar kan?"



"So far.."



"Oh ya, kok Mas Darta kayanya sudah jarang banget main ke sini Ka.." tanya Gevan setelah mengunyah roti yang ia selai tadi.



"Mungkin sibuk Ge, apalagi akhir - akhir ini itu perusahaan memang lagi sibuk - sibuknya jadi Darta pasti enggak punya waktu untuk main kesini.." Runa tersenyum, agak berat. Karena hatinya saat ini berkata lain tentang Darta.



Gevan tersenyum namun tetap diam dan ia rasa Kakaknya menyembunyikan sesuatu. Itu terlihat dari tatapan matanya yang kosong dan senyum yang ia paksakan. Ada apa antara Mas Darta dan Kak Runa? Apakah Darta menyakiti hati Kakaknya?



Gevan selesai dengan sarapannya, menghabiskan sisa susunya, dan membersihkan sisa selai kacang diujung mulutnya dengan tisu. Lantas mencium pipi kiri Runa sekilas dan berangkat kuliah.



"Hati - hati Ge.."



Anak itu sekarang sudah sangat besar dan terlihat mulai dewasa. Hanya Gevan satu - satunya keluarga yang Runa punya. Ia akan berjuang untuk adiknya itu, ia tak akan menyerah dengan keadaan.


__ADS_1


Ketika Runa ingin beranjak pergi ke kantor, Bi Jem menghampirinya. "Maaf Mba Runa, ada Mas Darta di ruang tengah...". Runa mengangguk tersenyum, kemudian Bi Jem kembali ke dapur.



Runa menghirup udara sekuat tenaga dan menghembuskannya perlahan sebelum ia menemui Darta. Ia akan mencoba bersikap sabar jikalau Darta masih marah padanya.



"Pagi sayang...." sapa Darta terlebih dahulu. Runa mencoba tersenyum menyembunyikan keterkejutannya akan sikap Darta yang tiba - tiba manis kepadanya.



"Pagi.... Tumben enggak hubungin dulu mau kesini?"



Darta tersenyum. Entahlah, ini senyum yang dipaksakan atau memang tulus dilakukannya.



"Kenapa? Enggak boleh?"



"Ya enggak apa - apa sih... Oh ya, kamu sudah sarapan? Kalau belum sarapan dulu gih.."



"Sudah kok tadi. Oh ya, maafin atas sikapku kemarin ya ke kamu. Aku enggak bermaksud marah - marahin kamu. Mungkin aku kecapean aja kali ya? Jadinya kebawa emosi dan malah kamu yang kena.." kini Darta mengelus lembut punggung tangan Runa.



Walau nyatanya begitu sakit hati Runa saat itu, tapi kini ia menjadi tak tega melihat Darta seperti ini. Sampai bela - belajmin sepagi ini ke rumah hanya untuk mengakui kesalahannya.



Runa mengangguk perlahan,"Iya aku maafin kamu. Aku ngerti kok, kamu pasti kecapean karena kerja. Tapi aku mohon sama kamu, supaya kamu tau kalau aku ada sampai saat ini disampingmu karena aku sayang sama kamu Darta.."




Kini Runa merasa lega setelah Darta mulai memahami dirinya dan semoga Darta akan bersikap lebih lembut padanya.



"Ya udah, kita berangkat ke kantor sekarang? Kamu sama aku aja, okey?" kata Darta tersenyum yang dibalas Runa dengan anggukan.



Ditatapnya wajah Darta yang tengah berada dibelakang kemudi. Sebenarnya Darta pria yang cukup tampan, dengan mata yang tak terlalu besar, hiidung yang bangir, senyum yang menawan. Pasti banyak wanita diluar sana yang mengagumi sosok Darta.


Selain itu juga dia bukan tipe bos yang introvert. Dia sangat senang bersosialisasi dengan karyawan - karyawannya walaupun diluar jam kantor. Bahkan terkadang duduk satu meja saat makan siang dengan beberapa karyawannya saat dikantin kantor. Bukan bos yang galak, suka ngatur. Walaupun dia disiplin dan sangat profesional dalam pekerjaan.



"Runa, kenapa jadi senyum - senyum gitu sih liatin aku?" tanya Darta heran.


Runa menggeleng tersenyum namun tetap memandangi Darta.



"Kamu mikirin apa emang? Jangan - jangan......." Darta menggantung kalimatnya disana dan membiarkan Runa memikirkan sendiri kira - kira apa yang ada dalam pikiran Darta.



"Jangan - jangan apa?"


__ADS_1


"Jangan - jangan....kamu lagi membayangkan kita berdua lagi......." lagi - lagi Darta menggantung kalimatnya dan menahan tawanya kini melihat ekspresi keheranan Runa.



"Apa?! Enggak loh ya, kamu kira aku bayangin yang jorok - jorok?! Enggak!" kini Runa memasang wajah cemberutnya dan tak lagi menghadap Darta.



"Ih, gitu aja ngambek.... Makin cantik tau.." Darta terus menggodanya. "Enggak lucu! Udah, nyetir aja sana!" Runa masih kesal. Darta semakin gemas dibuatnya.



Runa ingin segera turun dari mobil ketika mereka sudah sampai di halaman parkir kantor. Tapi tangannya ditahan oleh Darta. Runa tak bereaksi dengan tampang yang datar.


"Kamu masih kesal ya sama aku? Hey....." Darta mencoba merayunya.


Tapi Runa bertahan supaya dia tak tertawa. Mana bisa Runa marah karena hal yang sepele seperti tadi.



"Liat sini dong kalau di ajak bicara..."



Perlahan Runa membalikkan badannya menghadap Darta.



"Apa?" tanyanya datar.



Tiba - tiba wajah Darta mendekat semakin dekat dengan wajahnya. "Kamu ngapain sih?" tanya Runa. Tapi Darta tak menjawab pertanyaannya, malah kini semakin dekat dengan wajah Runa sampai - sampai Runa dapat merasakan nafas Darta. Sekilas Darta mengecup bibirnya perlahan.



"Maafin ya sayang...?" bisik Darta perlahan.



"Iya..." Runa tersenyum. "Gitu dong... Berarti besok - besok kalau ngambek dicium aja lagi, pasti enggak jadi ngambek.." Darta terkekeh.



Mata Runa melotot. Dan sekali lagi Darta mengecup bibirnya lembut.



Perlahan Runa mendorong wajahnya dari Darta. "Udah dong, enggak enak kalau ada yang liat, inikan wilayah kantor. Lagian kita belum resmi menikah..."



"Ya udah, kita nikah aja sekarang!"



Sekenanya Runa mencubit perut Darta sampai pria itu mengaduh. Runa turun dari mobil tanpa menghiraukan Darta yang tengah tertawa.



Ketika mereka berjalan dari parkiran menuju lobi kantor mereka berpapasan dengan Selly, sekretaris Darta. "Selamat pagi Pak Darta... Bu..Runa" sapa Selly.



Darta dan Runa menjawab hampir bersamaan. Karena Runa dan Darta beda divisi, ruangan mereka pun dilantai yang berbeda. "Sayang, kayanya kita harus berpisah disini deh.." kata Darta ketika mereka berada didepan pintu lift.



"Iya, enggak apa - apa.. Bye.."

__ADS_1



Darta mengangguk tersenyum. "Selly, kamu ke lantai atas juga kan? Kita barengan aja.." ajak Darta. "Baik Pak.. Mari Bu..Runa..". Runa tersenyum sampai Darta dan Selly masuk ke dalam lift barulah Runa menuju ruangannya.


__ADS_2