Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
14


__ADS_3

Abay segera menuju rumah sakit setelah mendapatkan telpon dari Mayra kalau ia, Kia dan juga Ibu hampir saja mengalami kecelakaan. Abay tak ingin sampai terjadi apa - apa dengan mereka. Ia terus melajukan mobilnya dengan perasaan tak tenang. Sampai akhirnya ia tiba di rumah sakit yang sudah diberitahukan oleh Mayra ditelpon tadi.



Abay berlari menuju UGD dan benar saja Ibu dan Mayra menunggu dengan gelisah didepan ruang UGD. Kia mana? Batin Abay dari kejauhan.



"Abay...." Mayra menangis dipelukan Abay.



"May, Kia mana?"



"Iya Mba May, Kia mana? Gimana keadaan anakku?" tanya Dita cemas.



"Dita, maafin aku... Aku udah lalai menjaga Kia..." Mayra tersedu.



Dita terduduk lemas.



Ibu memeluknya,"Semoga Kia baik - baik saja. Karena ia sempat diselamatkan oleh seorang perempuan yang memang kebetulan dekat dengan lokasi kejadian. Sekarang kita tunggu kabar Kia dan juga perempuan itu dari dokter dulu ya?"



Memang pagi itu Mayra ingin pergi berbelanja kebutuhan untuk dirumah Abay. Ketika ia hendak berangkat, Ibu juga ingin ikut. Dan Kia juga tak kalah merengeknya untuk di ajak berbelanja. Jadilah mereka bertiga yang berangkat. Saat sudah selesai berbelanja dan mereka keluar dari toko Kia berlari ke tengah jalan. Karena melihat tukang balon di seberang jalan. Dan.....terjadilah insiden itu.



Tak berapa lama dokter keluar dari ruangan UGD.



"Dok, gimana keadaan anak saya?" tanya Dita cemas.



"Anak Ibu, baik - baik saja. Hanya goresan luka kecil di lengannya. Dan untuk bagian dalam kami tidak menemukan luka sama sekali. Hari ini juga boleh pulang..." kata Dokter menjelaskan.



Abay dan Ibu, juga Dita merasa lega termasuk Mayra.



"Tapi Dok, gimana keadaan perempuan yang menyelamatkan keponakan saya?" tanya Abay tak kalah cemas.



"Dia masih belum sadar. Memang kami menemukan ada benturan yang cukup kuat dibagian kepalanya. Semoga dalam beberapa jam ke depan pasien akan segera sadar, kalaupun belum sadar juga kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut.."



"Kita boleh masuk dok? Kita cuma ingin memastikan keadaannya..." pinta Abay.



"Pasien sudah kami pindahkahkan ke ruang rawat inap. Saya harap jangan sampai mengganggu ketenangan pasien. Saya permisi dulu.."



Saat dokter berlalu Abay dan yang lainnya segera menemui Kia.


__ADS_1


"Kia sayang.. Gimana Nak, apa ada yang sakit?" Dita langsung memeluk anak semata wayangnya itu.



Kia tersenyum dan menggeleng,"Enggak ada Bunda. Aku baik - baik aja kok. Bun..gimana keadaan Tante yang nolongin aku, dia baik - baik aja kan?"



Dita menoleh ke arah Abay dia bingung harus menjawab apa.



Abay paham dan langsung menghampiri Kia. "Tante itu enggak apa - apa. Dia udah diperiksa sama dokter, jadi Kia enggak usah mikirin itu ya? Kia istirahat aja dulu.."


Abay enggak mau Kia memikirkan hal yang tidak - tidak, dia masih terlalu kecil untuk mengerti.



Abay meminta izin untuk menemui perempuan itu dikamar inapnya. Ia merasa ia harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa perempuan yang menyelamatkan keponakannya itu.



Kini ia sudah tiba didepan kamar perempuan penyelamat Kia. Entah mengapa ia merasa sangat gugup. Ia seperti tak siap mengetahui kalau orang yang ada didalam sana sedang kritis. Apa yang akan ia katakan pada keluarga pasien ini jikalau nanti terjadi apa - apa pada saudaranya ini.



Dihembuskannya nafas panjang dan berat. Ia langkahkan kaki perlahan. Dari depan pintu kamar sangat jelas oleh Abay kalau orang disana sedang menggunakan selang oksigen dihidungnya. Selang infus ditangan kirinya, luka perban dikepalanya. Sangat pilu rasanya melihat orang baik ini.



Dalam hati ia berjanji akan bertanggungjawab sampai pasien ini sembuh seperti sedia kala. Pelan tapi pasti langkah Abay menuju ranjang pasien. Walau sebagian wajahnya terpasang selang oksigen tapi Abay seperti mengenal perempuan ini.



Jantungnya berdetak cepat, seketika lututnya tak mampu menopang tubuhnya. Ia kenal dengan perempuan ini. Ia sangat mengenal perempuan ini dengan baik. Bahkan ia pernah hidup didalam hatinya. Dan kini ia sedang terbaring tak berdaya, melawan masa - masa kritisnya.



Abay tak perduli kalau ia harus mengeluarkan airmatanya. Kata orang lelaki pantang menangis demi apapun. Tapi persetan dengan saat ini.



Sangat perih rasanya menyaksikan orang yang kita sayangi terbaring tak berdaya.



"Terima kasih banyak Runa, karena kamu sudah menyelamatkan Kia. Tanpa kita sadari, takdir yang membuat kita bertemu lagi. Tapi please.....bangun Runa... Demi aku....". Abay berbicara lirih dengan Runa yang masih belum sadar.



Abay masih menggenggam jemari tangan Runa, mencoba mengalirkan energi yang siapa tau Runa akan segera sadar. Sampai kehadiran Mayra pun Abay tak menyadarinya.



Mayra juga ingin tau keadaan perempuan yang sudah menyelamatkan nyawa Kia. Ia juga sangat sedih dan terpukul mengetahui kalau korban tabrakan itu belum juga sadar.



Perlahan ia langkahkan kaki memasuki kamar perempuan itu. Dari kejauhan ia melihat Abay menggenggam erat jemari perempuan itu. Haruskah sikapnya seperti itu? Dengan orang yang baru dikenalnya.



Mayra mengelus lembut pundak Abay,"Dia masih belum sadar juga?".



Abay melepaskan genggamannya dan dengan cepat menyeka airmatanya. "Belum".



"Kamu kenal sama orang ini?" tanya Mayra akhirnya karena ia begitu penasaran dengan sikap Abay yang tak biasa.

__ADS_1



"Dia Runa"



Dunia seakan berhenti berputar. Mayra terpaku ditempatnya berdiri. Apa yang selama ditakutinya kini terjadi. Mayra tau dengan nama itu, bahkan sudah sangat bosan mendengarnya dari mulut Abay dulu. Kebahagiannya bersama Runa, kegalauannya, kesedihannya karena Runa. Semua tentang Runa, Runa, Runa. Sampai sekarang pun masih selalu tentang Runa?



Ingin rasanya Mayra menangis mengetahui ternyata Abay masih menyimpan perasaan terhadap Runa. Tapi tak mungkin ia lakukan.



"Kamu mau aku belikan makanan atau minuman?" tanya Mayra, hanya berbasa basi menutupi tangis yang ia tahan



"Saat ini aku enggak perlu apa - apa...."



Mendengar jawaban Abay, Mayra tau ia juga tak diperlukh&an disini. Bahkan kedatangannya menyusul Abay ke kota ini juga kesalahan besar. Mencintai orang yang tak mencintai kita rasanya sangat menyakitkan.



"Aku pikir kamu perlu waktu berdua bersama Runa. Aku ada di luar kalau kamu perlu apa - apa hubungin aja aku.."



"Terima kasih ya May, kamu memang sahabat yang pengertian"



... ... ...



Mayra mencoba tersenyum. Kecut rasanya. Sahabat? Hanya sebatas sahabat. Ya mungkin Abay merasa hubungan yang terjalin begitu lama tanpa adanya ikatan apapun memang hanya bisa diartikan sebagai jalinan persahabatan. Tapi tidak dengan Mayra, tidak dengan hatinya. Bahkan ia mencintai Abay sejak mereka SMA.



Mayra tak sanggup berlama - lama lagi diruangan ini, menyaksikan perhatian Abay untuk Runa. Seandainya Mayra yang berada diposisi Runa, apakah Abay akan seperhatian ini padanya?



Mayra berjalan tergesa keluar ruangan itu, tak ingin airmatanya pecah ditempat yang tak tepat.



"Mba May...?" sapa Dita saat mereka berpapasan diluar pintu ruang inap Runa. Tapi Mayra tak merespon ia setengah berlari sambil menundukkan wajahnya.



Dita bingung apa yang terjadi dengan Mayra. Saat ia masuk ke kamar perempuan yang menyelamatkan putrinya itu, terlihat Abay menggenggam erat tangan perempuan itu bahkan sesekali mengecup lembut punggung tangannya.



Dita heran. Dan saat ia berdiri ditepi ranjang perempuan itu, Abay tersadar akan kehadiran Dita. Sama halnya seperti Mayra, Dita menanyakan apakah perempuan itu sudah sadar apa belum? Apakah Abay mengenalnya atau tidak? Dan ya, jawaban Abay juga sama seperti ketika Mayra menanyakannya. Dia adalah Runa.



Dita sekarang mengerti apa yang terjadi dengan Mayra barusan. Kemungkinan Mayra sudah tau siapa Runa



Ia adalah mantan kekasih kakaknya dulu. Dengan adanya kejadian ini tak menutup kemungkinan Abay kembali menjalin hubungan dengan Runa. Dan Mayra? Mayra adalah teman kakaknya bahkan mereka terlihat lebih dari seorang teman. Bisa jadi selama ini Mayra mencintai kakaknya. Itu terlihat dari sikap Mayra barusan. Dan Abay tak pernah menyadari itu, atau mungkin Abay tak pernah memikirkan hal sejauh itu.



***

__ADS_1


__ADS_2