
Perjalanan panjang hari ini seperti tak membuat Runa kelelahan. Ia masih mengingat alamat rumah Abay di Jogja dan langsung menuju ke sana.
Untuk beberapa saat Runa terdiam didepan rumah itu. Tak ada yang berubah dari rumah ini. Dulu saat masih berkuliah disini ia terbilang sering ke sini hanya untuk bertemu Ibu dan Bapak.
Dilangkahkannya kakinya perlahan memasuki teras rumah itu. Hembusan nafas panjang ia keluarkan perlahan. Jantungnya menjadi berdetak tak karuan, menerka - nerka apa yang akan terjadi nanti setelah ia bertemu dengan Abay. Apakah ia akan memarahi Abay, atau malah akan menangis?
"Kamu enggak apa - apa Runa?". Melda mengelus lembut pundak Runa. Runa mengangguk dan mulai mengetuk pintu didepannya. Beberapa kali sambil mengucapkan salam.
Rumah ini terlihat sunyi seperti tak ada orang disini. Ibu sama Bapak enggak mungkin pindah rumah kan? Batin Runa.
Sampai ada dua orang ibu - ibu yang kebetulan sedang melintas.
"Permisi Bu, numpang tanya. Ibu Winarsih sama keluarganya masih tinggal disini kan? Soalnya dari tadi saya panggil - panggil tapi enggak ada yang nyahut. Kira - kira Ibu tau enggak mereka kemana?"
"Oh, Ibu Winarsih memang masih tinggal disini Mbak. Cuman hari ini mereka semua pergi ke gedung. Kan Mas Bayu hari ini menikah. Ini kami baru aja dari sana.."
__ADS_1
Lutut Runa lemas seketika. "Bayu, Bayu anak Ibu Winarsih? Menikah? Hari ini? Sama siapa Bu..". Runa hampir tak sanggup melanjutkan pertanyaannya. Tapi ia harus tau kebenarannya.
"Sama Mbak Mayra. Tetangga sebelah rumahnya itu, kan mereka udah lama temenan. Ya sudah kalau gitu kita permisi dulu ya Mbak.."
Melda berusaha menopang tubuh Runa yang lemas mendengar kenyataan bahwa Abay menikah dengan Mayra. Airmata Runa tak bisa ia bendung lagi terus saja mengalir dari wajah cantiknya.
"Abay menikah dengan Mayra?" Runa bertanya dengan dirinya sendiri. "Kenapa beberapa hari yang lalu dia bilang sangat mencintai aku? Itu semua enggak benar! Abay hanya mempermainkan hatiku! Dia pasti balas dendam sama aku...."
Melda memeluk sahabatnya itu. "Kamu yang sabar ya Runa? Tuhan pasti mempunyai rencana lain. Tuhan punya jalan yang terbaik buat kamu dan Abay. Oke? Sudah, hapus airmata kamu. Jangan buang airmata kamu sia - sia untuk orang yang sudah menyakiti kamu.."
"Mel, temanin aku ke gedung pernikahan Abay..".
Melda melotot, "Buat apa Runa? Kamu enggak mungkin mempermalukan dirimu sendiri disana kan?".
Runa menggeleng,"Aku cuma mau memastikan sekali lagi kalau Abay bahagia sudah menikahi sahabatnya itu..".
__ADS_1
"Kamu yakin?".
Runa menggangguk,"Aku enggak apa - apa. Setelah aku tau dia bahagia bersama Mayra kita langsung pulang ke Jakarta..".
Melda terpaksa menemani Runa walau ragu apakah sahabatnya itu akan baik -baik saja saat tiba disana nanti.
***
Sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta, Melda menatap wajah Runa yang kecewa bercampur sedih dan amarah yang ia pendam. Tak ada air mata yang mengalir di wajah cantiknya, tapi Melda tau hati Runa pasti sangat sakit.
Melda juga bahkan tak percaya Abay malah menikahi Mayra. Setau Melda, Abay juga sangat mencintai Runa.
Dipeluknya sahabatnya itu. "Are you okay?"
Runa mencoba tersenyum dihadapan Melda. Walau tau senyuman itu hanyalah topeng agar Melda tak mengkhawatirkannya. "Aku enggak apa - apa kok...".
__ADS_1
***