Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
43


__ADS_3

Sudah dua hari ini ponsel Runa sepi dari kegaduhannya Mr.Rese. Ada sedikit kangen juga dengan kereseannya. Tanpa sadar Runa tersenyum sendiri.


Saat ia ingin beranjak sarapan ponselnya berdering menampilkan nama Arsan. Arsan menghubunginya lewat panggilan video.


Tangan Runa sedikit gemetar dan dadanya juga deg - degan. Dengan cepat ia merapikan tatanan rambutnya.


"Hei.."


"Hai, Runa. Selamat pagi.."


Sapa Arsan tersenyum manis sekali.


"Pagi juga, tumben video call pagi - pagi. Ada apa?"


"Kayaknya aku bakalan kangen deh sama kamu..."


Arsan tak melanjutkan kalimatnya.


"Kangen? Maksudnya?"


"Pagi ini aku harus pergi ke Surabaya. Ada pekerjaan yang harus cepat aku selesaikan disana."


"Oh.."


Entahlah, Runa merasa ada sedikit perasaan kecewa saat mendengar bahwa Arsan harus pergi.


"Tapi aku enggak lama kok. Cuma tiga hari aku janji"


"Lama juga enggak apa - apa. Apa hubungannya sama aku?"


"Tapi kayaknya kamu enggak ikhlas deh aku pergi ke Surabaya.."


"Kata siapa? Ngaco!"


"Kalau kamu enggak bolehin aku pergi, aku enggak pergi kok"


"Ih! Enggak! Ya udah sana pergi, pergi aja.."


"Bener ya? Oke lah kalau gitu, aku pergi dulu ya istriku..."


"Arsan!"


Arsan tersenyum. Runa pun memutuskan sambungan telponnya.

__ADS_1


Memang sejauh ini yang Runa rasakan, Arsan memang tulus mencintainya. Tapi entah bagaimana dengan dirinya sendiri. Ia masih trauma dengan bayang - bayang masa lalunya. Kalau saja hal yang sama akan terulang lagi.


***


Selama tiga hari di Surabaya Arsan tak pernah absen menghubungi Runa. Selalu via video call. Kalau ditanya kenapa, pasti Arsan akan menjawab rindunya akan sedikit berkurang kalau melihat wajah Runa.


Sedangkan Runa selalu merasa jantungnya akan lepas saat harus menatap wajah Arsan.


Arsan menghubunginya lagi.


"Mr.Rese video call tuh. Kenapa enggak di angkat?" Melda yang sedikit mengintip ponsel Runa saat mereka sibuk membicarakan beberapa laporan.


"Iya, biarin aja. Nanti pasti nelpon lagi..".


Runa memang sangat sibuk memeriksa


beberapa laporan.


Tapi Melda tak peduli, segera ia mengangkat panggilan itu.


"Halloo..." serunya sumringah.


"Eh, kenapa jadi kamu yang angkat telponnya? Runa mana?"


"Istrimu lagi sibuk. Ada apa sih?"


"Kasih ponselnya ke Runa aku mau ngomong!"


Melda menyerahkan ponselnya ke Runa.


"Ada apa sih?"


"Sayang, kamu mau di bawain oleh - oleh apa? Besok aku pulang.."


Runa terkejut dengan apa yang barusan ia dengar.


Melda menyambar dari belakang. "Cukup bawa hati kamu aja, sa-yang....".


"Astaga! Itu anak masih disitu? Sana Melda pergi sana! Nguping aja!"


Melda cekikikan mendengar mas-nya itu marah - marah.


"Iya..iya aku kabur deh. Entar aku balik lagi ya Na?"

__ADS_1


Runa mengangguk sambil menahan tawanya melihat dua saudara ini seperti tom and jerry.


"Jadi gimana? Kamu mau apa?"


"Bentar, tadi kamu ngomong apa?"


"Kamu mau dibawain oleh - oleh apa dari sini?"


Arsan bicara lambat dan perlahan agar Runa bisa mendengar dengan jelas.


Runa menggeleng.


"Bukan. Bukan itu. Sebelumnya"


Arsan tersenyum manis sekali.


"Sayang?"


Runa mengangguk.


"Kenapa manggilnya gitu?"


"Ya karena kamu istriku dan aku memang sayang kamu. Memangnya kamu enggak sayang sama suami kamu?"


"Sejak kapan kita nikah? Jangan halu ya?"


"Besok, tunggu aku pulang. Aku akan nikahin kamu"


"Jangan mulai ya..?"


"Ya udah, jadi maunya apa nih?"


"Terserah kamu aja deh kalau kamu maksa"


"Oke kalau gitu. Sampai ketemu besok istriku..bye..."


Arsan tersenyum.


"Bye..". Runa sudah tak tau lagi harus bagaimana menolak Arsan. Pria itu tak perduli ia tak pernah menyerah demi meluluhkan hati Runa.


Runa tak juga menolak namun tak ingin langsung menerima cinta itu tumbuh di hatinya. Luka masa lalunya masih menghantuinya. Biarkan saja benih - benih cinta itu tumbuh dengan sendirinya.


***

__ADS_1


__ADS_2