Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
2


__ADS_3

Hari ini Ayah dan Ibunya Abay datang berkunjung menemui Abay di Jakarta. Beberapa tahun terakhir ini Abay memang bekerja di salah satu perusahaan besar di sana. Karena kesibukannya terkadang Abay tak sempat menemui orang tuanya di Yogyakarta, nah kebetulan hari ini orang tuanya datang dan tak memberitahukan kedatangan mereka untuk Abay. Bisa diketahui Abay gembira bukan main apalagi Dita adiknya juga ikut serta bersama Kia anaknya.


“Dita, Ayahnya Kia mana? Apa enggak ikut mengantarkan kalian sampai ke sini?” tanya Abay ketika melihat Fiko tak ikut serta bersama mereka ke Jakarta. Karena biasanya mereka selalu bersama.


“Fiko lagi ada dinas keluar kota Mas kemarin. Makanya enggak sempat nganterin kita” kata Dita menjelaskan tapi Abay merasa ada yang disembunyikan oleh Dita. Ia akan menanyakannya nanti karena sekarang ia akan mengajak keponakan perempuannya yang imut itu pergi ke Mall. Kia pasti akan senang.


***


Abay mengajak Kia bermain – main di TimeFun, belanja berbagai keperluan dapur untuk Ibunya memasak nanti, pokoknya hari itu mereka habiskan untuk bersama setelah beberapa tahun tak bertemu.


“Bu, aku tunggu disana aja ya? Kalian keliling – keliling aja lagi...” kata Abay kemudian pergi menuju bangku panjang dilobby mall. Ketika ia menuju bangku panjang itu tiba – tiba seseorang menabraknya. Hampir saja menjatuhkan ponsel ditangannya.


“Maaf.. Enggak sengaja..”


Abay menoleh ke arah si pemilik suara itu, karena suara itu seperti sudah tak asing ditelinganya.Sampai akhirnya ia yakin perempuan yang tak sengaja menabraknya itu adalah Daruna. Perempuan yang pernah ada dihatinya dulu dan karena ada sesuatu dan lain hal yang membuat mereka akhirnya berpisah. Dan setelah delapan tahun kemudian mereka kembali dipertemukan disini. Banyak yang berubah dari fisiknya Daruna. Sekarang ia terlihat lebih dewasa dan semakin cantik. Ah, itu mungkin karena tak pernah bertemu selama bertahun – tahun.


“Runa, kamu baik – baik aja?” tanya Abay akhirnya karena Runa seperti baru saja melihat hantu.


“Abay?” tanyanya memastikan kalau orang yang ada dihadapannya ini memang Abay. Abay mengangguk tersenyum. ”Hey..kamu kenapa malah menjadi melamun seperti itu?”


“Oh, enggak apa – apa. Kamu sendirian ke sini?” tanya Daruna. Dan Abay sadar kalau dia bersama Ayah, Ibu dan adiknya. Dia berusaha mencari mereka dibalik keramaian untuk mengenalkan Runa namun ia tak menemukan Ayah, Ibu dan Dita. Abay memberitahukan kalau dia bersama keluarganya.


“Kamu sendirian?” tanya Abay penasaran kalau – kalau saja Runa bersama pasangannya kini. Runa memberitahukan kalau dirinya pergi bersama teman dan Gevan adiknya. Untuk beberapa saat mereka berdua hanya diam tak tahu harus mengatakan apa lagi.


“Kamu apa kabar Runa?” tanya Abay akhirnya karena ia harus tau bagaimana perasaan Runa beberapa tahun terakhir ini.


“Baik. Kamu sendiri?” Runa balik bertanya padanya.


Abay menghela nafas panjang, walau sebenarnya ia merasa tak baik, “Semoga sama baiknya kaya kamu”. Walau ia merasa sangat senang karena bertemu lagi dengan Runa, ia rasa saat ini Runa sudah berkeluarga dengan pilihan orang tuanya tentu saja.


Kemudian hanya pembicaraan kecil untuk sekedar tahu kabar keluarga masing – masing sampai akhirnya Kia datang dan merengek untuk segera di ajak bermain lagi di TimeFun. Belum sempat Abay memberitahukan tentang Kia ke Runa, anak itu hampir histeris karena ingin segera bermain.


“Ayo...kita main. Dicariin Bunda dari tadi loh....” Kia terus merengek tanpa sempat memberi jeda untuk Abay bicara ke Runa. Runa seperti terlihat bingung dengan Kia, pasti ia mengira Kia anak Abay.


“Runa, aku duluan ya..?”


Setelah selesai bermain dengan Kia, Abay kembali ke tempat dimana ia dan Runa tak sengaja bertemu siapa tahu Runa masih disana. Tapi ternyata Runa sudah pergi dari sana. Ada sedikit kecewa menyusup ke dalam dadanya, ia tak begitu yakin apakah setelah pertemuan ini akan ada pertemuan – pertemuan selanjutnya.


***


Setelah pertemuan tak sengaja di mall beberapa hari yang lalu Runa masih saja memikirkan tentang Abay. Walaupun ia tau ia harus kecewa lagi karena Abay ternyata sudah berkeluarga. Ada rasa kecewa, karena Runa berharap paling tidak bisa dekat kembali dengan Abay.



Runa membereskan piring sisa makan malam mereka ke dapur. Kini hanya ia dan Gevan yang tinggal dirumah sebesar ini. Hanya ditemani Bi Jem dan Pak Yono, mereka adalah sepasang suami istri yang sudah lama bekerja dirumah Runa, sejak Gevan bayi sampai berumur 22 tahun seperti saat ini. Pasangan suami istri itu tak tega meninggalkan dua bersaudara ini karena Mamah dan Papah mereka sudah tiada. Apalagi mereka menganggap Runa dan Gevan sudah seperti anak mereka sendiri karena mereka sudah sangat lama tidak dikaruniai anak.



Runa pernah beberapa kali mengatakan kalau seandainya Bi Jem dan suaminya ingin pulang kampung ia mengizinkannya. Tapi Bi Jem dan suaminya tetap memilih tinggal bersama Runa dan Gevan. Apalagi Papahnya baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu.


__ADS_1


"Sini Non biar saya aja yang mencuci piringnya.." Bi Jem mengambil piring kotor dari tangan Runa dan mulai mencucinya.



"Bi Jem, enggak apa - apa kali. Saya bisa kok. Lagian kasian Bi Jem, kan udah seharian ngurus rumah pasti capek.." Runa kini sudah ada disamping Bi Jem, membilas piring yang sudah disabun oleh Bi Jem.



Bi Jem tersenyum,"Non Runa, juga pasti enggak kalah capeknya habis pulang dari kantor seharian terus tadi bantuin saya masak juga.."



"Enggak apa - apa Bi. Itung - itung sama - sama meringankan tugas. Kan kalau dikerjakan bersama pasti akan cepat selesai. Ya kan?"



Setelah selesai membantu Bi Jem mencuci piring dan merapikan dapur Runa kembali ke kamarnya. Namun ia sempat melirik sebentar ke arah kamar Gevan yang hanya berjarak satu ruangan dengan kamarnya, kamar Gevan sudah tertutup rapat. Pasti anak itu sudah beristirahat. Ia ingin masuk kamar adiknya itu mencium keningnya dan mengucapkan selamat malam untuknya, namun niatnya itu ia urungkan karena ponselnya berdering terus menerus disaku celananya.



Ditatapnya agak lama layar berkedip ponselnya menampilkan sebuah nama yang membuatnya merasa pusing beberapa hari ini. Runa mengabaikan panggilan itu dan kemudian merebahkan dirinya diranjang empuk miliknya. Nada dering ponselnya berhenti sesaat namun berdering agak lama lagi. Begitu seterusnya untuk beberapa lama.


Ponselnya akan terus berdering jika Runa tak menjawab telponnya itu. Diraihnya malas ponselnya dan mulai membuka suara dengan agak malas.



"Kenapa lama banget sih angkat telponnya. Kamu ngapain aja?"




"Aku tadi lagi membereskan dapur.." kata Runa datar.



"Aku cuma mau bilang, besok aku enggak bisa jemput kamu karena ada meeting pagi.." nadanya terdengar seperti bos yang memerintah anak buahnya.



Walaupun Runa tau ia memang bos dikantornya dan Runa bukan anak buahnya, Runa kekasihnya. Ya, dia adalah Darta. Laki - laki yang dijodohkan Papahnya sebelum Papahnya meninggal.



Darta adalah anak sahabat alm.Papahnya dan salah satu kolega Papahnya diperusahaan mereka. Untuk itu Papahnya ingin Runa dan Darta berjodoh. Tadinya Runa tak memikirkan tentang cinta, laki - laki apalagi pernikahan. Itu jauh dari list mimpi - mimpinya. Apalagi setelah putus dan berpisah dari Abay ia tak ingin membuka hatinya untuk laki - laki manapun.



Namun karena Papahnya yang meminta, Runa tak bisa langsung menolak begitu saja. Ia dengan halus dan perlahan mengatakan ia akan menjalani hubungan ini terlebih dahulu bersama Darta tanpa harus terburu - buru untuk menikah. Papahnya menyetujuinya tapi tetap harus menikah secepatnya karena saat ini perusahaan mereka dalam ambang kehancuran.


__ADS_1


Sampai akhirnya Papahnya meninggal dunia karena penyakit jantung terlebih dari itu penyakit itu muncul karena banyaknya berita yang beredar dan mengatakan kalau Papahnya korupsi uang perusahaan yang seharusnya untuk menyuplai barang - barang ke berbagai cabang, berujung dengan terhentinya supalaian mereka. Papahnya sudah mengadakan konferensi pers mengenai masalah ini dengan mengatakan ini hanya ada kesalahpahaman dan semua akan baik - baik saja. Namun ternyata masih ada beberapa orang yang bersikeras membawa permasalahan ini ke meja hijau.


Semakin hari Papahnya terlihat semakin menderita bukan karena kesalahannya tapi karena harus bertanggung jawab atas kesalahan yang bukan darinya. Sampai akhirnya Papahnya tak mampu lagi bertahan. Ia menghembuskan nafasnya beberapa bulan yang lalu. Dan setelah Papah meninggal, kasus ini bukannya mereda malah merembet kemana - mana.



Runa tak ingin menuduh siapa - siapa, tapi ia yakin pasti ada orang yang tak suka terhadap keluarganya dan ingin mengambil alih perusahaan mereka dengan cara seperti ini.



"Runa...?" tanya Darta membuat lamunannya tersadar.



"Mm..." Runa sedang malas berdebat dengan Darta kali ini.



"Kamu dengerin aku bicara enggak sih tadi?" tanya Darta sekali lagi.



"Iya. Aku tau besok kamu enggak bisa jemput.." Runa mengulang lagi kata - kata Darta tadi.



"Ya sudah, kalau gitu aku mau tidur dulu. Bye.."



Tanpa menunggu respon Runa telponnya sudah terputus. Runa mendengus.


Darta selalu seperti itu. Semenjak Papahnya meninggal, sikap Darta mulai berubah padanya. Walaupun dia orang pertama yang menolak perjodohan itu, Runa masih bisa bersikap sopan dan setidaknya lembut dihadapan Darta. Ia tak ingin membuat Papahnya bersedih dengan terlebih dahulu merasa nyaman saat bersama dengan Darta. Sedangkan Darta, kali pertama bertemu dan disuruh menikah dengan Runa ialah yang begitu terlihat antusias dan menerima begitu saja.


Tak ada yang berbeda dengan Darta waktu beberapa bulan terakhir ini saat Runa bersamanya. Semua berjalan biasa saja, walaupun Runa menyadari terkadang Darta jarang sekali. Hampir tak pernah mengajaknya pergi keluar, seperti layaknya pasangan yang sedang memadu kasih. Pernah beberapa kali, itupun saat ada makan malam bersama beberapa kolega yang akan bekerja sama dengan perusahaan mereka. Dan undangan pernikahan anaknya salah satu investor besar diperusahaan mereka pada saat itu.


Setelah Runa memikirkannya dengan detil ternyata itu terjadi hanya ketika berhubungan dengan kantor. Runa tak pernah peduli. Apalagi memprotes sikap Darta yang seperti itu. Karena mereka bukan pasangan kekasih yang sedang kasmaran. Mereka bersama hanya karena sudah dianggap sebagai pasangan kekasih dikantor dan akan segera menikah. Menikah?


Kata - kata itu terus mengiang - ngiang ditelinganya. Haruskah pernikahan ini benar - benar terjadi? Apakah ia akan menikah dengan Darta? Walaupun laki - laki itu sempat mengisi kekosongan hatinya, tapi ia tetap tak yakin dengan ini semua. Sebenarnya dengan sangat mudah membatalkan pernikahan ini karena Papahnya juga sudah meninggal dan tak ada lagi yang membuat Runa menjadi tak enak hati. Lantas bagaimana dengan perjanjian yang akan perusahaan keluarga Darta lakukan pada perusahaan mereka jikalau pernikahan ini tak dilanjutkan.


Tanpa ia sadari air hangat dari ujung matanya mengaliri pipinya yang mulus. Dadanya penuh dan nafasnya sesak. Apa yang harus ia lakukan? Seandainya saja Mamah masih ada, pasti ia akan memeluk Runa, mengusap lembut rambut Runa dan membisikkan kata - kata penyemangat untuknya. Namun Mamah juga sudah terlebih dahulu meninggalkannya. Tak ada tempat untuk membagi beban ini. Tangisnya semakin menjadi sampai ia lelah menangis dan sampai akhirnya ia tertidur di ujung malam.






__ADS_1


__ADS_2