Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
44


__ADS_3

Benar saja, sepulang dari Surabaya Arsan langsung ke rumah Runa. Dengan buket bunga cantik yang sudah ia siapkan ditangannya. Dan kotak cincin yang masih ia simpan di kantong celananya. Senyum sumringahnya disambut dengan manis oleh Runa.


"Arsan?" Runa tak percaya Arsan yang baru tiba dari Surabaya masih dengan kopernya langsung menuju rumah Runa.


"Ini oleh - olehnya". Arsan menyerahkan buket bunga itu. Setelah Runa menerimanya barulah ia menyodorkan kotak cincin itu dan berlutut.


"Runa, Will you marry me?"


Runa terdiam. Arsan melamarnya?


"Sesuai janjiku, pulang dari Surabaya aku akan menikahimu.."


"Kalau aku enggak mau?"


Arsan bangkit. Bukannya kesal, ia malah tersenyum.


"Aku yakin kamu pasti mau"


Runa menahan tawanya melihat ekspresi Arsan.


Runa menggeleng.


Arsan mengangguk.


Runa menggeleng lagi sambil terus tersenyum.


Arsan yakin Runa hanya mengalihkan situasi. Runa pasti belum siap.

__ADS_1


"Oke. Kayaknya malam ini kamu masih belum bisa menerima aku. Aku yakin besok pasti kamu bakal nerima aku. Kalaupun masih belum diterima juga, pasti besoknya lagi. Besok, besok dan besok pasti kamu mau jadi istriku. Ya kan?"


Runa menggeleng tersenyum,"Enggak. Mending kamu pulang sana, mandi istirahat pasti kamu masih capek kan habis dari perjalanan jauh?"


Arsan menggeleng. " Enggak tuh, aku enggak merasa capek sama sekali karena aku udah ketemu sama kamu. Capeknya langsung hilaaang..!"


"Udah, jangan ngawur. Sana pulang."


"Oke, aku pulang. Awas kangen ya?"


Runa menggeleng.


"Bener? Yakin?"


Runa mengangguk.


Arsan melangkah mundur sambil terus tersenyum meyakinkan Runa.


"Arsan! Awas!"


Saat Runa berteriak, Arsan tak sempat menghindar karena mobil itu melaju dengan sangat kencang ke arahnya.


Runa berlari ke arah Arsan yang sudah terbaring di jalan dengan darah segar yang mengalir dari kepalanya. Sedangkan mobil yang menabrak Arsan langsung pergi gitu aja.


"Arsan..? Oh Tuhan...."


---

__ADS_1


Kini Arsan sudah dipindahkan ke ruang inap. Setelah beberapa jam yang lalu dokter menjahit bagian belakang kepalanya yang terbentur bagian depan mobil yang cukup keras. Selama Arsan didalam ruang UGD, Runa tak henti - hentinya menangis. Ia terus berdoa agar Arsan baik - baik saja.


Tante dan juga Om Marwan bersama Melda serta suaminya setengah berlari menghampiri Runa yang gelisah didepan ruang UGD. Tante langsung memeluk Runa yang terisak.


"Tante....,maafin Runa. Kalau saja Arsan tak menemui Runa,ini semua pasti enggak terjadi..".


Walau sangat nampak jelas kecemasan di wajah Tante Aliyah, namun ia berusaha tegar. Dihapusnya air mata Runa dan menenangkannya.


"Sudah. Kamu tenang ya? Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa. Tante yakin, Arsan pasti kuat"


Tak berapa lama kemudian dokter sudah selesai menjahit luka Arsan dan membersihkannya. Kini Arsan sudah dipindahkan ke ruang inap. Tapi ia belum juga sadarkan diri. Perasaan Runa masih tak karuan.


"Runa, kamu pulang aja istirahat, biar Tante disini nungguin Arsan.."


"Enggak apa - apa Tante. Biar Runa yang nungguin Arsan, Runa masih enggak tenang kalau Arsan belum siuman. Kalian enggak keberatan kan, kalau Runa nungguin Arsan?"


Tante dan Om tersenyum mengangguk.


"Kamu boleh disini sampai Arsan siuman..".


"Terima kasih ya Tante..Om.."


"Kalau gitu aku sama Abram nganter Mami sama Papi dulu ya Na? Nanti pulangnya aku bawain makanan buat kamu".


"Terima kasih ya Mel..."


Melda tersenyum mengangguk. "Aku yakin Mas Arsan pasti akan segera siuman. Dia pasti kuat buat kamu...".

__ADS_1


Runa tersenyum. Harus. Arsan harus kuat. Ia harus segera siuman demi dirinya.


---


__ADS_2