Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
10


__ADS_3

"Hey..." sapa Mayra ketika menemui Abay duduk ditepi kolam renang saat mereka selesai makan malam.



"Ngelamun apa sih? Bagi - bagi dong..." katanya lagi, kemudian ikut duduk disebelah Abay.



"Enggak lah.. Ngapain juga ngelamun? Oh ya, kamu udah ngabarin Ibu kamu kalau kamu udah disini?"



Mayra mengangguk tersenyum,"Udah lah.."



Untuk sesaat keduanya hanya diam, berkutat dengan pikiran masing - masing. Abay dengan keinginannya menghubungi Runa dan Mayra bingung untuk mengutarakan perasaannya ke Abay.



Akhirnya Abay mengirim pesan singkat ke Runa yang hanya berisikan tanda tanya, lagi. Mayra sebenarnya merasa seperti di acuhkan, tapi ia mencoba bersikap biasa.



"Bay...."



Abay tersadar karena ia mengacuhkan Mayra sesaat, karena mengetik pesan untuk Runa tadi.



"Mm..iya maaf. Kenapa?" tanya Abay kemudian membalikkan badannya menghadap Mayra. Membuat Mayra menjadi salah tingkah dan lidahnya menjadi kaku.



"Rasanya udah lama sekali kita enggak pernah seperti ini lagi. Aku masih ingat, waktu kita masih SMA. Kita sering menghabiskan malam di atas genteng rumahku, melihat bintang - bintang, menyanyi - nyanyi enggak jelas..." Mayra tersenyum sambil mengingat kembali kenangannya bersama Abay.



"Iya, terus terkadang kamu menangis enggak jelas. Karena enggak ada satu bintang pun di langit tapi sesaat kemudian malah diam. Enggak taunya malah tidur, terus jadinya aku yang susah banguninnya..." Abay terkekeh.



"Mana kamu ngiler lagi..."



Mata Mayra melotot, "Iih..masa? Enggak ada tau, sembarangan!"


__ADS_1


"Yey, dia enggak percaya. Kamu mana tau, wong kamu tidur kok..." Abay kini tertawa lepas, mengingat masa - masa sekolah dulu bersama Mayra. Begitu juga dengan Mayra. Sampai - sampai ujung matanya berair.



"Jadi pengen balik ke masa itu, andai aja bisa..." katanya seiring melemahnya tawanya.



"Kamu nangis May?" tanya Abay, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke Mayra, memastikan yang dilihatnya adalah air mata yang keluar dari mata Mayra.



"Bukannya bintangnya banyak noh dilangit, coba liat.." katanya ke Mayra. Mayra memandang sebentar langit yang memang dipenuhi bintang - bintang. Tapi sebenarnya bukan itu yang ditangisi Mayra.



"Hey...." Abay kemudian meraih wajah Mayra yang tertunduk menyembunyikan wajahnya.



"Kamu beneran nangis? Kenapa sih? Cerita dong, siapa tau aku bisa bantu.."



Bukannya mereda airmata Mayra semakin mengalir deras. Apakah ia sanggup mengutarakan perasaannya? Apakah ia sanggup jikalau nantinya Abay menolak dirinya? Kemungkinan - kemungkinan itulah yang terus menghantui Mayra.



Abay kemudian menyeka airmata Mayra, menuntunnya untuk bersandar dipundak Abay.




Bibir Mayra tersungging masih dengan sisa - sisa airmata dipipinya, mendengar kalimat terakhir dari mulut Abay. Kemudian dipejamkannya matanya, merasakan dekapan hangat yang dialirkan Abay dari belaian lembut dipunggungnya.



"Kamu sekarang udah gede yah. Tangan aku sampai pegel loh ini nahan badanmu.." kata Abay seketika membuat Mayra bangun dari dekapan Abay dan mencubit perut Abay sekenanya. Membuat Abay mengaduh.



"Nah gitu dong, ini baru namanya Mayra Ajeng Kartika penuh dengan senyum, selalu ceria.."


Mayra terkekeh dibuatnya.



Kemudian ia menghembuskan nafasnya,"Cape juga ternyata nangis ya?" katanya tertawa.


__ADS_1


"Yey, makanya siapa suruh nangis?"



"Kamu.."



Abay terdiam. "Aku? Jadi kamu nangis gara - gara aku? Memangnya aku ngapain kamu sampai bikin kamu nangis?" Raut wajah Abay berubah serius.



Mayra terdiam, memandang wajah Abay dihadapannya kini. Kamu, yang udah mengacaukan hatiku, membuatnya menjadi aneh. Membuat otakku tak bekerja sempurna, itu karena hanya ada kamu dari dulu sampai saat ini. Andai aja kamu tau.....



"May..? Tuh kan.. Jadi bener, gara - gara aku? Aku minta maaaaf banget kalau udah bikin kamu jadi kaya gini.." Abay meraih tangan Mayra, menggenggamnya erat.



Jangan lepasin tangan kamu Bay... Mayra menatap tangannya yang digenggam oleh Abay.



Mayra kemudian tertawa. Tertawa lepas. "Liat mukamu?"



Abay terdiam melihat Mayra yang tiba - tiba menertawakan dirinya, apanya yang lucu?



"Kamu ngerjain aku ya? Awas kamu ya?" Abay berdiri mengejar Mayra yang sudah terlebih dahulu melarikan diri dari Abay. Akhirnya sebelum sampai diteras belakang, Abay mampu meraih tangan Mayra dan membuatnya hampir terjatuh. Seketika itu juga Abay meraih badannya. Untuk sesaat hanya terjadi saling pandang, yang berhasil membuat jantung Mayra berdetak tak berirama.



"Kamu enggak apa - apa kan?" tanya Abay. Mayra mengangguk.



"Ya udah, kalo gitu kamu istirahat aja. Kamu pasti masih cape kan? Good night..."



Mayra tersenyum, "Good night".



Abay kembali ke kamarnya dan Mayra tidur dengan hati yang bahagia, khususnya malam ini.


***

__ADS_1




__ADS_2