
"Permisi Pak Abay, ada yang ingin bertemu dengan Anda.." kata Nita sekretaris Abay.
"Siapa Nita?" tanya Abay masih dengan berkas - berkas ditangannya.
"Seorang perempuan Pak, dia tidak mau memberitahukan identitasnya.."
Abay berhenti sejenak dengan berkasnya, seperti berfikir siapa perempuan yang ingin menemuinya diluar sana tanpa memberitahukan identitasnya. Apa mungkin Runa? Tapi pasti dia enggak mungkin tau kantornya Abay.
"Ya sudah, suruh masuk aja.."
Nita mengangguk kemudian pergi keluar. Tak berapa lama setelah itu muncullah sesosok perempuan cantik dibalik pintu. Dengan rambut hitamnya yang tergerai lurus, kulitnya yang putih langsat, begitu mempesona. Apalagi ia memakai blus silver pas badan dengan krah yang tak terlalu tinggi, menampilkan lehernya yang jenjang. Dengan rok hitam di atas lututnya.
"Selamat siang Pak Abay....." katanya tersenyum. Suaranya begitu teduh.
Abay tak langsung menjawab salamnya. Karena waktu seakan berhenti saat ketika ia merasa kehilangan Runa, perempuan inilah yang meneduhkannya, menyemangati dirinya. Mencoba menghapus luka dihatinya karena Runa. Dan saat Abay mencoba melamar pekerjaan di beberapa perusahaan dan berulang kali gagal, perempuan inilah yang menguatkannya, memberi motivasi dan akhirnya Abay bisa bangkit dan bisa sesukses saat ini.
"Mayra?" Abay meyakinkan sekali lagi kalau perempuan yang ada didepannya ini benar - benar Mayra. Teman perempuannya yang begitu baik.
Mayra melangkah sambil terus tersenyum,"Surprise..!"
Abay langsung memeluk perempuan itu, yang dipeluk tak mengelak justru seperti sangat merindukan sosok yang memeluknya itu.
"Kenapa kamu enggak bilang - bilang sih kalau mau main ke Jakarta. Kan aku bisa jemput kamu di bandara" kata Abay sembari melepaskan pelukannya.
"Kalau bilang - bilang kan berarti enggak surprise dong. Ya kan? Nyatanya kejutan dari aku berhasil.."
"Iya deh..."
__ADS_1
"Tapi aku ganggu kamu enggak nih? Kayanya Pak Bos ini sibuk deh..."
"Yah..enggak juga sih. Tapi kok jadi tumben gini mau main kesini dalam rangka apa?"
Mayra jadi bingung sendiri harus menjawab dalam rangka apa? Karena ia sengaja datang ke Jakarta hanya untuk bertemu dan melepas rindu dengan pria yang ia cintai, Abay.
Ya, Mayra tau cinta itu tumbuh seiring kedekatannya dengan Abay dulu, Abay tetangganya dan Abay adalah teman kecilnya juga saat mereka masih di Yogyakarta. Saat tau Abay sudah mempunyai kekasih ada rasa kecewa dihatinya dan pada saat ia tau Abay putus dari kekasihnya itu, Mayra menjadi bingung bagaimana mengungkapkan rasa dihatinya kala itu. Apakah ia harus berbahagia? Karena kesempatannya untuk dekat kembali dengan Abay akan terwujud.
Tetapi melihat Abay seperti sangat terpuruk membuatnya juga merasa sedih.
Di sela kesedihan itulah Mayra mencoba menghibur Abay. Abay juga seperti akan lupa akan kesedihannya sendiri. Pernah suatu ketika Mayra ingin mengutarakan perasaanya ke Abay, tapi sesegera itu juga ia menepis niatannya itu. Takut, jikalau Abay tau perasaannya, Abay akan menjauh darinya. Biarlah dulu, untuk saat ini biarkan seperti ini. Mayra sangat menikmatinya.
"Hey May, ditanya kok malah bengong..."
Mayra tersentak,"Oh iya, itu.. Mm.. Sebenarnya sih, aku sengaja ke sini. Kata Ibuku, Bapak, terus Ibumu ke sini buat nengokin kamu. Jadinya dirumah sepi kan, terus aku pikir aku juga harus nengokin kamu..." katanya sambil tersenyum.
"Ya, paling enggak aku harus tau, apakah kamu sudah sembuh dari kegalauan - galauanmu itu? Atau malah udah punya gandengan baru?" Mayra sengaja, siapa tau aja Abay malah udah punya cewe baru lagi.
Seandainya Abay ternyata masih belum mempunyai kekasih, Mayra akan mengungkapkan perasaannya.
Karena ia memang dengan sengaja datang jauh - jauh dari Yogyakarta ke Jakarta menemui Abay untuk agar Abay tau kalau Mayra mencintainya, ia tak ingin menyesal nantinya tak bisa mengungkapkan ini semua.
"May...May.. Kamu ini ada - ada aja. Siapa yang lagi galau - galauan? Enggak ada..." Abay tersenyum.
Mayra tersenyum. Kemudian menunggu, lanjutan kalimat Abay. Hanya itu, hanya sampai disitu? Bukannya tadi di akhir kalimat Mayra menanyakan 'apa udah punya gandengan baru?' tapi kenapa malah enggak ada jawaban untuk bagian itu? Apa mungkin Abay tak ingat untum menjawab bagian itu? Ah, sudahlah Mayra tak ingin mengulang bagian itu lagi.
"May, Ibu sama Bapak pasti senang banget nih tau kamu ada disini.."
__ADS_1
Mayra hanya mengangguk.
Abay melirik jam ditangannya. Kemudian membereskan laptop dan berkas - berkas di atas mejanya.
"Kita pergi makan siang yuk? Kamu udah pasti laper kan?" ajak Abay.
Dan Mayra tidak menolak sama sekali.
***
"Bay, nanti minta tolong dong, cariin kontrakan buat aku. Tapi kalau bisa yang enggak terlalu jauh dari tempat kamu tinggal. Ya?" kata Mayra sambil menyantap makan siangnya.
"Kenapa harus di ngontrak? Di rumah aku aja..." jawab Abay santai.
Mayra terkejut. "Di rumah kamu? Apa nanti kata orang sekitar kamu, kalau ada perempuan yang bukan muhrim kamu, tapi tinggal satu rumah?"
Abay berhenti mengunyah makanan dimulutnya dan tersenyum,"May, kamu enggak ingat ya? Di rumah kan ada Ibu sama Bapak, ada Dita juga. Lagian kamu itubudah aku anggap seperti adikku sendiri. Kita kan keluarga, ingat?"
Mayra terdiam mencoba mencerna kata - kata Abay barusan. Sudah di anggap seperti adik sendiri, kita keluarga? Oh tidak, Abay benar - benar tak pernah menyadari keberadaan Mayra selama ini. Mayra yang selalu ada untuknya, memberi perhatian lebih padanya, malah di anggap sebagai saudara?
"May, tuh kan... Kenapa bengong lagi? Jadi gimana?"
Diam. Tak ada kata yang keluar dari mulut Mayra.
"Ya udah kita ke rumah aja dulu ke kita beri kejutan buat Ibu. Oke?"
__ADS_1
***