Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
Episode 23


__ADS_3

Pada saat jam makan malam semua sudah berkumpul di meja makan. Runa dengan sigap menyiapkan semuanya di meja makan. “Sini, Ibu bantuin, sibuk banget kamu...”.


Namun dengan lembut Runa menolak Ibu


membantunya,”Udah, enggak apa – apa kok Bu. Aku udah biasa, Ibu duduk aja ya?


Enggak usah capek – capek..”


Ibu tersenyum. Dan Mayra?  Ia merasa sangat terancam. Terlebih melihat Runa yang juga sok akrab dengan Ibu. Dengan cepat ia juga menyiapkan semuanya di atas meja.


“Udah May, kamu nemenin Ibu aja. Biar aku yang siapin semua. Lagian kamu kan tamu disini, masa iya aku tega biarin tamu – tamu aku ikut capek. Enggak kan?” kata Runa sambil tetap menyiapkan piring – piring


di atas meja makan. Mayra hanya tersenyum, “Enggak apa – apa. Aku malah yang enggak enak sama kamu..”.


Dan ketika semuanya sudah berkumpul dimeja makan, Ibu tiba – tiba meminta Runa untuk menghubungi Darta agar bisa berkumpul untuk makan malam bersama lagi. Runa meminta izin sebentar untuk menelpon Darta. Dan


Mayra juga seperti ingat akan sesuatu. Ia juga meminta izin untuk menelpon Abay.


Saat Runa kembali ke meja makan wajahnya terlihat agak sendu. Ternyata Darta tak bisa ikut makan malam bersama mereka karena harus lembur dikantor. Ada sedikit kecewa, tapi ya sudahlah. Runa tak tau harus berbuat apa.


“Mayra  mana Bu?” tanya Runa ketika ia tak melihat Mayra dikursinya.

__ADS_1


“Tadi dia minta izin untuk menelpon Abay, biar makan malam disini juga. Enggak apa – apa kan?”. Dengan cepat Runa mengangguk.


***


Setelah agak lama bersantai dan berbincang sebentar Abay berpamitan pulang. Runa meminta izin sebentar ke Ibu untuk mengantarkan Abay sampai ke pintu depan.


“Ya udah aku pulang dulu ya? Terima kasih makan malamnya dan terima kasih udah mau ngizinin Ibu sama yang lainnya juga untuk nginep disini...” kata Abay tersenyum.


Runa mengangguk, ”Sama – sama. Ya....mumpung mereka ada disini. Lagian aku juga udah menganggap Ibu sama Bapak itu kaya orang tua aku sendiri. Aku seneng mereka ada disini...”


“Kalau Ibu sama Bapak kamu anggap kaya orangtuamu sendiri.., berarti.....” Abay menggangantung katanya lama disitu.


“Berarti...harusnya kamu anggap aku kaya suamimu sendiri..” katanya kemudian tawanya pecah.


Runa hanya tersenyum, tapi kenapa Abay malah tertawa? Apa yang ia tertawakan?


“Oh iya lupa, kan udah mau nikah kan ya? Sama Pak Darta? Sorry...sorry...” katanya dengan sisa tawa yang ia tahan.


“Enggak ada yang perlu ditertawakan. Enggak ada yang lucu!” Runa cemberut dan tawa Abay seketika berhenti.


“Lah emang iya kan? Bentar lagi mau nikah sama Pak Darta?” tanya Abay sekali lagi. Tapi terdengar ada sedikit nada kecewa yang ia tegaskan di akhir kalimat.

__ADS_1


         Runa diam.


Tak ingin menjawab. Karena menurutnya Abay bukan bertanya melainkan menyudutkannya bahkan terdengar seperti sedang menyinggung dirinya yang telah meninggalkan Abay kekasih yang sudah lama ia pacari tetapi menikah dengan orang lain.


Runa tak ingin Abay sakit hati lagi karena ini.


Kenapa Abay masih menyinggung soal ini? Batin Runa.


“Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu. Selamat


malam...” kata Abay akhirnya.Karena sedari tadi Runa hanya diam.


Bahkan ketika Abay sudah masuk ke dalam mobilnya pun Runa masih berdiri ditempatnya tadi tak juga menatap Abay disana.


Kecewa dan sakit hati seketika menyusup kembali ke dalam hatinya. Ia mengakui kesalahannya dahulu telah meninggalkan Abay karena permintaan orangtuanya yang mengharuskannya menikah dengan Darta. Ia tak mungkin menolak permintaan orangtuanya itu. Paling tidak ini adalah salah satu bentuk baktinya pada orangtuanya selain menyelamatkan keadaan perusahaan mereka.


Tapi kenapa dalam kisah ini harus cintanya kepada Abay yang ia korbankan?


 


 

__ADS_1


__ADS_2