Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
Episode 16


__ADS_3

“Selamat pagi...” sapa seorang perempuan yang


menurut Runa terlihat sangat ayu.


“Maaf Anda mencari siapa?” tanya Runa bingung,


takutnya orang ini salah masuk kamar.


Perempuan itu mendekat dan menaruh keranjang buah di


meja kecil tepat disamping tempat tidur Runa.


“Perkenalkan aku Mayra. Aku tantenya Kia, anak kecil


yang kamu selamatkan tempo hari.”


Runa sekarang tahu. Ia mencoba untuk bangun namun


masih terasa sakit dibagian tangannya. Mayra mencoba membantu Runa. “Makasih


ya? Oh ya kenalin juga aku....”


“Runa” jawab Mayra. Runa terlihat bingung bagaimana


bisa Mayra tau namanya.


“Abay. Abay yang udah ngasih tau. Bahkan aku udah


tau namamu dari bertahun – tahun yang lalu...”


Kini Runa bertambah bingung, tapi ia tetap diam


menunggu kata – kata selanjutnya dari Mayra.


“Aku sama Abay udah berteman dari kecil, kita


bertetangga dekat di Jogja sampai sekarang. Dulu dia sering banget cerita


tentang kamu ke aku, rasanya hampir setiap hari..” Mayra tersenyum. Tapi yang


Runa lihat seperti senyum yang tak ingin ia keluarkan.


“Dan apa yang menjadi alasan kalian berpisah pun aku


juga tau. Abay masih sangat mencintai kamu Runa. Bahkan sampai saat ini ia tak


pernah membuka hatinya untuk siapapun..” kini Runa menangkap kesedihan dibalik


senyum terpaksa Mayra kepadanya.


“Ya udah sih, kenapa malah membahas Abay? Entar


kalau orangnya denger malah kegeeran lagi..” katanya membuang mukanya sesaat


dan kembali tersenyum.


Runa ikut tersenyum. “Oh ya? Keadaan Kia sekarang


gimana?”


“Kia sudah dibolehkan pulang semalam. Dia baik –


baik aja. Makasih ya Runa..”


“Sama – sama. Syukurlah kalau Kia baik – baik aja.”


Sesaat kemudian keduanya asyik berbincang, tentang


segala hal. Runa merasa sangat senang karena ia juga sangat bosan sendirian di


rumah sakit. Dan Mayra, walaupun ia baru mengenalnya ternyata Mayra teman yang


menyenangkan.


Tiba – tiba pintu diketuk dan muncul seorang laki –


laki yang terlihat sangat panik setengah berlari menuju ranjang Runa. Mayra


juga ikut tersentak.


“Sayang...kamu enggak apa – apakan? Aku baru pulang


dari luar kota dan langsung ke sini ketika mendapat kabar dari orang kantor.


Katanya kamu mengalami kecelakaan..” katanya panik. Runa yang dipeluknya pun


hanya diam dan tersenyum.

__ADS_1


Sayang? Batin Mayra. Berarti laki – laki ini adalah


kekasihnya Runa. Itu berarti juga tak ada kemungkinan untuk Abay dan Runa


kembali menjalin hubungan lagi. Mayra bernafas lega.


“Kata dokter sih enggak ada luka yang cukup serius


kok. Kamu tenang aja ya?”


“Syukurlah kalau gitu, aku jadi lega dengernya..”


Runa seperti baru sadar kalau Mayra masih berada


bersama mereka diruangan itu. “Mm..Darta, kenalin ini teman aku. Namanya Mayra.


Dan Mayra, ini cowok aku Darta..”


Mayra dan Darta saling berjabat tangan memperkenalkan


nama mereka masing – masing.


“Runa, kan sekarang udah ada yang nemenin aku pulang


dulu ya?” kata Mayra berpamitan.


“Kenapa cepet banget sih? Mentang – mentang aku datang


masa kamu pergi?” Darta menimpali.


“Bukan gitu Darta, malahan udah dari tadi pagi


disini. Ya udah kalau gitu aku pulang ya? Cepat sembuh Runa.. Bye..”


“Thanks ya May..”


Mayra pun berlalu dibalik pintu. Kini hanya ada Runa


bersama Darta diruangan itu. Mereka saling melepas rindu setelah beberapa hari


tak bertemu.


Tak berapa lama kemudian pintu diketuk kembali. Dan


betapa terkejutnya Runa ternyata yang datang adalah Abay. Darta kemudian


makan siangnya dari rumah sakit ini.


“Maaf...tapi sepertinya kita pernah ketemu? Tapi


dimana?” tanya Darta tak yakin setelah ia menghampiri Abay dan mencoba


mengenalinya.


Abay pun juga tak kalah tersentaknya ketika


mengetahui kalau Runa bersama Darta di ruangan itu.


“Pak Darta kan? Saya Bayu Anggaraksa dari perusahaan


SmartLife waktu itu, Bapak sudah ingat?”


Darta sekarang sudah ingat, sebelum ia keluar kota


ia sudah bertemu dan sepakat akan rapat kembali dengan perusahaan yang dikelola


oleh Abay.


“Ya sekarang saya ingat, silahkan masuk Pak Bayu”


Abay pun masuk dan menaruh nampan makan siang Runa


itu disamping tempat tidur Runa. Dan menyempatkan diri menatap Runa yang


ternyata juga memperhatikannya sedari tadi.


“Pak Bayu enggak perlu repot seperti itu, sampai –


sampai membawakan makan siang untuk calon istri saya..” kata Darta santai.


Calon istri? Abay enggak mugkin salah dengar. Darta


dan Runa? Itu artinya mereka akan segera menikah? Abay bertanya sendiri dalam


hatinya.


Ditatapnya sebentar ke arah Runa yang ternyata

__ADS_1


sedang membuang mukanya ke arah lain. Sepertinya Runa tak ingin menatap matanya


lagi.


“Oh...iya. Mm.. tadi kebetulan saya bertemu dengan


suster didepan katanya itu makan siang untuk Ibu Runa, karena saya memang


berniat untuk menjenguknya, jadinya saya bawakan saja langsung kesini..” nada


Abay terdengar tak yakin ditelinga Runa. Apa karena ia baru tau kalau Darta


adalah kekasih Runa.


Runa tak berharap ini terjadi, Abay akan bertemu


Darta. Tapi ini sudah terjadi. Pasti setelah ini Abay tak akan pernah lagi


menghubunginya.


Abay kembali seperti biasa, seolah – olah ia tak


pernah kenal Runa sebelumnya. Abay dan Darta berbincang santai, yang


pembahasannya tak jauh dari bisnis. Kemudian ponsel Darta berdering, ia


menerima telponnya diluar kamar ruangan Runa. Untuk sesaat baik Abay dan Runa


hanya diam. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut keduanya.


 Sampai ketika Runa ingin turun dari ranjangnya ia seperti kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Dan


dengan segera Abay meraihnya. “Kamu mau kemana?” tanyanya terdengar ketus dan


ada nada tak biasa yang ditangkap oleh Runa.


                “Toilet..” jawab Runa seadanya.


Kini Abay menuntunnya sampai didepan pintu toilet. Dan kembalinya dari toilet


pun Abay masih menuntun Runa kembali ke ranjangnya. Tapi yang Runa rasakan Abay


seperti merangkulnya, dan Runa hanya diam menikmati momen terakhir ini bersama


dengan Abay. Karena ia yakin setelah ini ia tak pernah bertemu lagi dengan


Abay.


                Darta kembali setelah menerima


telpon dari luar. Ia setengah berlari menghampiri Abay yang terlihat seperti


merangkulnya kekasihnya itu.


                “Ada apa ini?” tanyanya


terdengar seperti ‘apa yang kalian lakukan?’.


                “Maaf...” Abay segera melepaskan


rangkulannya ke Runa. Dan dengan sigap Darta menggantikan posisi Abay.


                “Tadi aku mau ke toilet, aku


enggak mungkin kan nunggu kamu dari luar? Ya udah aku putusin buat sendiri ke


toilet. Dan tiba – tiba kepalaku pusing saat aku turun dari tempat tidur, aku


hampir terjatuh. Dan Pak...” Runa menatap sebentar ke arah Abay dibelakang


sana.


                “Dan Pak Bayu nolongin aku..”


kata Runa. Raut muka Darta kini berubah seperti biasa. “Terima kasih Pak Bayu


sekali lagi. Anda benar – benar baik sekali..”


                “Sama – sama... Sepertinya saya


juga harus kembali ke kantor. Selamat siang. Sekali lagi semoga cepat sembuh Bu


Runa..” Abay kemudian berlalu dengan cepat dibalik pintu, bukan karena langkah


kakinya yang cepat. Namun ia tak mungkin bisa berada lama disana.


***

__ADS_1


__ADS_2