
“Selamat pagi...” sapa seorang perempuan yang
menurut Runa terlihat sangat ayu.
“Maaf Anda mencari siapa?” tanya Runa bingung,
takutnya orang ini salah masuk kamar.
Perempuan itu mendekat dan menaruh keranjang buah di
meja kecil tepat disamping tempat tidur Runa.
“Perkenalkan aku Mayra. Aku tantenya Kia, anak kecil
yang kamu selamatkan tempo hari.”
Runa sekarang tahu. Ia mencoba untuk bangun namun
masih terasa sakit dibagian tangannya. Mayra mencoba membantu Runa. “Makasih
ya? Oh ya kenalin juga aku....”
“Runa” jawab Mayra. Runa terlihat bingung bagaimana
bisa Mayra tau namanya.
“Abay. Abay yang udah ngasih tau. Bahkan aku udah
tau namamu dari bertahun – tahun yang lalu...”
Kini Runa bertambah bingung, tapi ia tetap diam
menunggu kata – kata selanjutnya dari Mayra.
“Aku sama Abay udah berteman dari kecil, kita
bertetangga dekat di Jogja sampai sekarang. Dulu dia sering banget cerita
tentang kamu ke aku, rasanya hampir setiap hari..” Mayra tersenyum. Tapi yang
Runa lihat seperti senyum yang tak ingin ia keluarkan.
“Dan apa yang menjadi alasan kalian berpisah pun aku
juga tau. Abay masih sangat mencintai kamu Runa. Bahkan sampai saat ini ia tak
pernah membuka hatinya untuk siapapun..” kini Runa menangkap kesedihan dibalik
senyum terpaksa Mayra kepadanya.
“Ya udah sih, kenapa malah membahas Abay? Entar
kalau orangnya denger malah kegeeran lagi..” katanya membuang mukanya sesaat
dan kembali tersenyum.
Runa ikut tersenyum. “Oh ya? Keadaan Kia sekarang
gimana?”
“Kia sudah dibolehkan pulang semalam. Dia baik –
baik aja. Makasih ya Runa..”
“Sama – sama. Syukurlah kalau Kia baik – baik aja.”
Sesaat kemudian keduanya asyik berbincang, tentang
segala hal. Runa merasa sangat senang karena ia juga sangat bosan sendirian di
rumah sakit. Dan Mayra, walaupun ia baru mengenalnya ternyata Mayra teman yang
menyenangkan.
Tiba – tiba pintu diketuk dan muncul seorang laki –
laki yang terlihat sangat panik setengah berlari menuju ranjang Runa. Mayra
juga ikut tersentak.
“Sayang...kamu enggak apa – apakan? Aku baru pulang
dari luar kota dan langsung ke sini ketika mendapat kabar dari orang kantor.
Katanya kamu mengalami kecelakaan..” katanya panik. Runa yang dipeluknya pun
hanya diam dan tersenyum.
__ADS_1
Sayang? Batin Mayra. Berarti laki – laki ini adalah
kekasihnya Runa. Itu berarti juga tak ada kemungkinan untuk Abay dan Runa
kembali menjalin hubungan lagi. Mayra bernafas lega.
“Kata dokter sih enggak ada luka yang cukup serius
kok. Kamu tenang aja ya?”
“Syukurlah kalau gitu, aku jadi lega dengernya..”
Runa seperti baru sadar kalau Mayra masih berada
bersama mereka diruangan itu. “Mm..Darta, kenalin ini teman aku. Namanya Mayra.
Dan Mayra, ini cowok aku Darta..”
Mayra dan Darta saling berjabat tangan memperkenalkan
nama mereka masing – masing.
“Runa, kan sekarang udah ada yang nemenin aku pulang
dulu ya?” kata Mayra berpamitan.
“Kenapa cepet banget sih? Mentang – mentang aku datang
masa kamu pergi?” Darta menimpali.
“Bukan gitu Darta, malahan udah dari tadi pagi
disini. Ya udah kalau gitu aku pulang ya? Cepat sembuh Runa.. Bye..”
“Thanks ya May..”
Mayra pun berlalu dibalik pintu. Kini hanya ada Runa
bersama Darta diruangan itu. Mereka saling melepas rindu setelah beberapa hari
tak bertemu.
Tak berapa lama kemudian pintu diketuk kembali. Dan
betapa terkejutnya Runa ternyata yang datang adalah Abay. Darta kemudian
makan siangnya dari rumah sakit ini.
“Maaf...tapi sepertinya kita pernah ketemu? Tapi
dimana?” tanya Darta tak yakin setelah ia menghampiri Abay dan mencoba
mengenalinya.
Abay pun juga tak kalah tersentaknya ketika
mengetahui kalau Runa bersama Darta di ruangan itu.
“Pak Darta kan? Saya Bayu Anggaraksa dari perusahaan
SmartLife waktu itu, Bapak sudah ingat?”
Darta sekarang sudah ingat, sebelum ia keluar kota
ia sudah bertemu dan sepakat akan rapat kembali dengan perusahaan yang dikelola
oleh Abay.
“Ya sekarang saya ingat, silahkan masuk Pak Bayu”
Abay pun masuk dan menaruh nampan makan siang Runa
itu disamping tempat tidur Runa. Dan menyempatkan diri menatap Runa yang
ternyata juga memperhatikannya sedari tadi.
“Pak Bayu enggak perlu repot seperti itu, sampai –
sampai membawakan makan siang untuk calon istri saya..” kata Darta santai.
Calon istri? Abay enggak mugkin salah dengar. Darta
dan Runa? Itu artinya mereka akan segera menikah? Abay bertanya sendiri dalam
hatinya.
Ditatapnya sebentar ke arah Runa yang ternyata
__ADS_1
sedang membuang mukanya ke arah lain. Sepertinya Runa tak ingin menatap matanya
lagi.
“Oh...iya. Mm.. tadi kebetulan saya bertemu dengan
suster didepan katanya itu makan siang untuk Ibu Runa, karena saya memang
berniat untuk menjenguknya, jadinya saya bawakan saja langsung kesini..” nada
Abay terdengar tak yakin ditelinga Runa. Apa karena ia baru tau kalau Darta
adalah kekasih Runa.
Runa tak berharap ini terjadi, Abay akan bertemu
Darta. Tapi ini sudah terjadi. Pasti setelah ini Abay tak akan pernah lagi
menghubunginya.
Abay kembali seperti biasa, seolah – olah ia tak
pernah kenal Runa sebelumnya. Abay dan Darta berbincang santai, yang
pembahasannya tak jauh dari bisnis. Kemudian ponsel Darta berdering, ia
menerima telponnya diluar kamar ruangan Runa. Untuk sesaat baik Abay dan Runa
hanya diam. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut keduanya.
Sampai ketika Runa ingin turun dari ranjangnya ia seperti kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Dan
dengan segera Abay meraihnya. “Kamu mau kemana?” tanyanya terdengar ketus dan
ada nada tak biasa yang ditangkap oleh Runa.
“Toilet..” jawab Runa seadanya.
Kini Abay menuntunnya sampai didepan pintu toilet. Dan kembalinya dari toilet
pun Abay masih menuntun Runa kembali ke ranjangnya. Tapi yang Runa rasakan Abay
seperti merangkulnya, dan Runa hanya diam menikmati momen terakhir ini bersama
dengan Abay. Karena ia yakin setelah ini ia tak pernah bertemu lagi dengan
Abay.
Darta kembali setelah menerima
telpon dari luar. Ia setengah berlari menghampiri Abay yang terlihat seperti
merangkulnya kekasihnya itu.
“Ada apa ini?” tanyanya
terdengar seperti ‘apa yang kalian lakukan?’.
“Maaf...” Abay segera melepaskan
rangkulannya ke Runa. Dan dengan sigap Darta menggantikan posisi Abay.
“Tadi aku mau ke toilet, aku
enggak mungkin kan nunggu kamu dari luar? Ya udah aku putusin buat sendiri ke
toilet. Dan tiba – tiba kepalaku pusing saat aku turun dari tempat tidur, aku
hampir terjatuh. Dan Pak...” Runa menatap sebentar ke arah Abay dibelakang
sana.
“Dan Pak Bayu nolongin aku..”
kata Runa. Raut muka Darta kini berubah seperti biasa. “Terima kasih Pak Bayu
sekali lagi. Anda benar – benar baik sekali..”
“Sama – sama... Sepertinya saya
juga harus kembali ke kantor. Selamat siang. Sekali lagi semoga cepat sembuh Bu
Runa..” Abay kemudian berlalu dengan cepat dibalik pintu, bukan karena langkah
kakinya yang cepat. Namun ia tak mungkin bisa berada lama disana.
***
__ADS_1