Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
Episode 26


__ADS_3

Abay melangkahkan kakinya gontai memasuki rumahnya sendiri. Kata – kata Runa masih terngiang – ngiang


dikepalanya. Runa tak menginginkan kehadirannya lagi. Siapa yang harus disalahkan dalam keadaan ini? Dirinya ataukah Runa? Haruskah menyalahkan Tuhan juga yang entah mengapa mempertemukan kembali dirinya dan Runa. Tentu saja tidak. Mana mungkin menyalahkan Tuhan.


       “Abay? Kamu baru pulang? Semalaman ini kamu kemana aja?”. Mayra terlihat sangat cemas karena Abay yang tak pulang semalam, dan sekarang pulang dengan wajah penuh lebam.


    “Kamu habis berantem?”. Tangannya mencoba meraih wajah Abay yang terluka tapi dengan cepat Abay menghindar.


     "Enggak apa – apa. Aku ke kamar dulu”


 Tangan Abay ditahan oleh Mayra ketika ia ingin beranjak pergi.


     “Tunggu dulu. Luka kamu itu harus segera di obatin Bay. Nanti jadi infeksi tau ga? Ya udah, sini!”. Mayra menarik


paksa Abay dan menyuruhnya untuk duduk disofa sementara dirinya setengah berlari mengambil kotak P3K disudut ruangan itu.


     “Udah May, enggak usah heboh gitu. Cuma luka kecil doang..”

__ADS_1


 Mayra tak peduli dengan celotehannya Abay. Dengan cekatan namun tetap perlahan Mayra mulai mengusapkan kapas yang terlebih dahulu ia beri obat merah itu ke sudut bibir Abay dan dipelipisnya. Sesekali Abay meringis kesakitan saat bersentuhan dengan kapas itu.


     “Kayak anak kecil aja. Berantem – berantem segala”


 Abay diam. Tak menggubris perkataan Mayra.


    “Kalau Ibu sama Ayah tau keadaan kamu kayak gini pasti mereka sangat cemas. Kamu ada masalah? Kalau kamu punya masalah, kamu bisa cerita ke aku, siapa tau aku bisa bantu kamu. Enggak usah pake kekerasan kayak gini---“


 Abay meraih tangan Mayra yang masih berkutat diwajahnya. Sontak membuat pergerakan Mayra terhenti. Ia seperti salah tingkah sendiri.


 Mayra tersenyum senang mendengar ucapan manis dari bibir Abay. “Sama – sama Bay. Aku ngelakuin ini tulus kok”


     “Kamu benar – benar saudara yang baik May”


 Lagi – lagi kata itu. Mayra sudah sangat bosan mendengarnya. Hanya saudara? Seketika itu juga wajah Mayra berubah kesal.


     “Kamu enggak usah terlalu jauh peduli dengan masalahku. Ini masalahku, aku bisa mengatasinya sendiri. Thanks udah bersihin lukanya. Aku ke kamar dulu”

__ADS_1


Mayra terdiam. Ia sangat kesal. Baru beberapa menit yang lalu ia begitu senang karena bisa memperhatikan Abay, tapi sekarang Abay malah membuatnya kesal.


     “Oh ya”. Abay membalikkan badannya kembali.


     “Kalau kamu mau pergi ke kantor, kamu pergi aja duluan. Enggak usah nungguin aku, aku enggak pergi ke kantor hari ini”. Abay kemudian berlalu.


 Mayra mengangguk paham dan tersenyum. Ya, sudah seminggu ini ia bekerja di kantornya Abay. Ia sengaja bekerja dan pindah ke kota ini agar bisa lebih dekat dengan Abay.


 Saat Ibunya Abay tau kalau Mayra akan bekerja dikantornya Abay, Ibu sangat senang. Bahkan Ibu sendirilah yang


memintanya untuk tetap tinggal di rumahnya Abay. Karena Ibu khawatir kalau Mayra tinggal sendirian. Bagaimanapun juga Ibu sudah menganggap Mayra seperti putrinya sendiri.


 Mayra tersenyum bahagia sendiri. Sambil tetap memperhatikan punggung Abay yang menjauh, ia sangat yakin suatu saat nanti Abay akan menjadi miliknya. Abay pasti akan segera menikahinya.


     “Abay sayang...,kamu pasti akan menjadi milikku suatu saat nanti...”. Mayra terus tersenyum bahagia.


 ***

__ADS_1


__ADS_2