
"Ayah..... Ayah....". Shira berusaha membangunkan Abay yang tertidur disamping ranjangnya di keesokan harinya.
"Hm... Iya. Shira ada apa?"
"Ayah, tante Runa mana? Dia enggak ada disini".
Shira celingukan, memperhatikan setiap sudut ruangan. Ia tak menjumpai Runa.
Hanya ada Eyang dan Mba Nur saja.
Benar saja, bangun pagi ini Shira malah mencari Runa.
"Mm.... Shira sayang. Tante Runa lagi sibuk, dia enggak bisa ke sini"
Raut wajah Shira mulai berubah, dia siap menangis.
"Eyang, tante Runa mana? Ayah pasti bohong kan? Tante Runa pasti ke sini kan Eyang?".
Ibu juga panik mencari alasan yang tepat agar tak membuat Shira sedih.
"Ayah enggak bohong sayang. Kan bohong itu perbuatan yang enggak baik. Tante Runa memang sibuk. Nanti kalau kita ganggu tante Runa, pekerjaannya malah enggak cepat selesai. Sekarang, kita siap - siap yuk. Kan Shira sudah diperbolehkan pulang hari ini sama dokter. Nanti kita ajak Ayah bikin pesta dirumah karena kamu sudah pulang.. Gimana?"
"Iya Eyang. Aku mau balon yang banyak. Kue yang enak. Dan hadiah yang banyak!"
kini Shira terlihat bersemangat.
Semoga ia tak mengingat Runa lagi. Harap Abay.
---
Segala persiapan untuk pesta sudah dilakukan. Dekorasi untuk pesta sudah selesai dipasang. Kue \- kue yang cantik.
Shira juga mengundang teman - teman playgrupnya untuk datang.
"Waah....pestanya bagus banget..." kata Shira senang kemudian memeluk Abay.
"Kamu senang?".
__ADS_1
Shira mengangguk.
"Ayah, boleh pinjam ponselnya?".
"Boleh, tapi buat apa?".
Dengan sok tahu Shira mencari - cari nomor ponsel Runa. Di umurnya yang sekarang Shira masih belum bisa membaca. Pasti ia juga tak tahu dimana nomor ponsel Runa.
"Nyari apa sih kamu?"
"Pasti ada....pasti ada...dimana..." Shira bergumam sendiri. Sepertinya ia menyerah kemudian mengembalikan ponsel Abay.
"Ayah, pasti Ayah punya nomor ponsel Tante Runa. Ya kan? Tolong telpon dong Yah, aku mau undang tante Runa juga..."
Untuk sesaat Abay terdiam memikirkan alasan yang tepat agar tak membuat Shira sedih. Nomor ponsel Runa masih tetap ada di kontaknya bahkan ia sudah sangat hafal diluar kepala. Tapi ia tak ingin mengganggu Runa lagi.
"Ayah.....ayo telpon sekarang... Ayo....". Shira mulai merengek dan hampir menangis.
Ibu datang dan mulai menenangkan Shira.
Abay lalu menceritakan apa yang diinginkan Shira sampai ia merengek dari tadi.
"Ya sudah, kamu telpon Runa, biar Ibu sama Shira yang bicara".
Akhirnya Abay menyerah, ia menekan nomor ponsel Runa dan menyerahkannya ke Ibu.
"Halo...Runa. Ini Ibu...."
***
Tadinya setelah Ibu menelpon dirinya, Runa ragu apakah ia akan datang ke pesta Shira atau tidak. Tapi mengingat anak manis itu, hati Runa luluh.
Runa memang masih sakit hati terhadap kedua orang tuanya. Tapi tidak terhadap anak kecil yang tak tau apa - apa.
Akhirnya Runa memutuskan untuk mengajak Arsan juga. Ia tak ingin Arsan akan menjadi salah paham nantinya.
"Terima kasih ya Runa kamu sudah mau datang ke sini".
__ADS_1
Ibu menyambut kedatangan Runa dan Arsan. Tak berapa lama kemudian Abay menghampiri mereka.
"Terima kasih ya sudah mau ke sini, Shira pasti senang banget..."
Runa mengangguk, "Ya udah, aku mau menemui Shira dulu"
Ibu juga pergi menyusul Runa. Kini hanya ada Arsan dan Abay berdua.
"Kalau boleh tau, kamu dan Runa saling mengenal dimana?"
Abay membuka pembicaraannya dengan calon suami Runa dengan pertanyaannya seperti itu? Terdengar seperti nada kecemburuan.
Arsan tersenyum sendiri mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Runa dulu. Arsan kemudian menceritakan bagaimana pertama kali ia mengenal Runa. Pendekatannya, dan perjuangannya selama ini untuk Runa.
"Dia sangat manis, dia selalu menebarkan kebahagiaan untuk orang di sekitarnya. Dia penuh cinta dan kasih sayang. Betapa sangat bodoh orang yang pernah melukai Runa, melepaskan Runa begitu saja---"
Ya, dirinya memang sangat bodoh pernah melukai hati Runa.
Abay mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. Sambil terus menatap Runa dari kejauhan tersenyum bahagia bersama Shira.
"Ya, Runa pantas bahagia...." nada Abay terdengar aneh ditelinga Arsan.
Ditatapnya sebentar Abay disebelahnya yang tengah menatap Runa di kejauhan.
"Maaf.....?"
Abay tersadar.
"Maksudnya, sebentar lagi kan kalian ingin menikah. Aku yakin, saat bersama kamu Runa pasti bahagia"
Arsan tersenyum. " Pasti, aku enggak akan pernah menyia - nyiakan hidupku. Karena hidupku adalah Runa".
Abay tak bisa menggambarkan perasaan yang ia rasakan saat ini. Kembali bertemu dengan Runa, melihat betapa bahagianya Shira saat bersama Runa. Entah apa yang akan terjadi nanti terhadap Shira. Ia pasti akan merasakan kehilangan untuk kedua kalinya saat Runa pergi menikah dengan Arsan nanti.
Tak penting rasanya saat ini memikirkan ego sendiri. Kebahagiaan Shira-lah yang menjadi prioritas hidup Abay. Tapi akankah Shira bahagia saat Runa pergi suatu saat nanti darinya?
***
__ADS_1