
Semenjak
terakhir kalinya Abay dari Rumah Sakit tempo hari, ia yakin pasti Runa juga
sudah keluar dari sana. Ia sangat ingin menghubungi Runa seperti yang sudah –
sudah ia lakukan, tapi begitu ingat betapa mesranya Darta merangkul tubuh Runa
seketika ia berhenti untuk memikirkan Runa. Ia selalu menyibukkan dirinya
dengan pekerjaan dikantornya.
Abay sadar dan sangat tahu
betul, dari dulu ia tak akan mungkin pernah bisa bersatu dengan Runa. Walaupun
mereka masih sangat mencintai satu sama lain. Sampai sekarang, tapi entah
bagaimana dengan perasaan Runa terhadap dirinya. Mungkin tidak, karena kini ia
sudah bersama Darta.
Tiba – tiba ia tersadar karena
ketukan dipintu ruangannya. Kemudian Nita sekretarisnya masuk dengan membawa
beberapa berkas ditangannya.
“Permisi Pak. Siang ini Pak Bayu
ada janji bertemu dengan perusahaan Green Living. Saya hanya mengingatkan.”
“Syukurlah kamu mengingatkan,
hampir saja saya lupa. Oke, kamu hubungin Pras dan Gito juga, takutnya mereka
juga lupa.”
Nita mengangguk tanda paham dan
ia segera melakukan apa yang diperintahkan atasannya itu.
***
“Terima kasih atas kerjasamanya.
Semoga kita bisa saling menguntungkan..”
“Sama – sama Pak Bayu. Baik
kalau begitu, kita permisi. Selamat siang...”
Pertemuan mereka di sebuah
restoran itu pun selesai juga. Dan ketika Abay ingin keluar dari restoran itu,
langkahnya terhenti.
“Pras, Gito kalian duluan aja.
Tiba – tiba aku mau ke toilet..”
Ketika Pras dan Gito sudah agak
menjauh, barulah Abay mencoba mendekat ke arah dimana matanya melihat sesuatu
yang janggal.
Sebenarnya tujuannya bukan ke
toilet, melainkan ia penasaran dengan apa yang ia lihat kali ini.
Beberapa kali ia mencoba
meyakinkan dirinya kalau yang dilihatnya adalah Darta. Darta begitu mesra
bersama seorang wanita yang Abay pikir adalah Runa. Tapi ternyata wanita itu
bukan Runa. Untuk berapa saat Abay memperhatikan gelagat Darta bersama wanita
itu. Mereka tak terlihat seperti hubungan antarteman. Lebih dari itu yang dapat
ditangkap Abay.
Kenapa Darta berbuat seperti
itu? Padahal ia dan Runa akan segera menikah. Sudahlah, Abay tak mau ambil
pusing. Itu urusan mereka.
***
Sepulang
dari kantor, Abay mampir ke sebuah mini market. Ia hanya membeli latte coklat
panas dan beberapa roti untuk mengganjal perutnya sebelum sampai dirumah.
Ketika ia ingin menuju ke kasir,
__ADS_1
langkahnya terhenti dan kemudian ia agak menjauh. Dia tak mungkin salah lihat.
Runa. Ada Runa disini, ditempat yang sama. Agak lama ia memperhatikan Runa dari
kejauhan, takutnya seseorang datang bersamanya. Tapi ternyata tidak. Runa hanya
seorang diri dan dengan tangannya yang masih memakai penyangga lengan.
Kecelakaan itu membuat tangannya cedera. Dan semoga saja tak berapa lagi ia
bisa kembali normal.
Kemudian ia ingat akan Darta,
yang baru saja tadi siang ia ihat bersama wanita lain. Apa Runa tak tau dengan
kelakuan Darta dibelakangnya seperti apa? Ingin sekali memberitahu Runa saat
ini juga kalau Darta itu tak pantas untuk dirinya. Darta selingkuh.
Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya
itu. Kalaupun bisa mengatakan itu kepada Runa, pasti Runa enggak bakalan
percaya. Dan yang ada bisa – bisa malah Abay yang kena imbasnya. Akhirnya Abay
memutuskan untuk cepat – cepat menuju kasir dan tak usah menghampiri Runa.
Tapi apalah daya. Langkahnya
terhenti dan kemudian kakinya terasa kaku ketika mendengar suara merdu khas
Runa memanggil namanya. Rasanya menyejukkan hati. Dan suara inilah yang selalu
Abay rindukan.
Abay berpaling dan menghadap ke
arah Runa yang kini tepat berada dibelakangnya. “Hai...”. Hanya itu dan senyum
yang terasa kaku untuk Abay lakukan. Entahlah, apa karena sudah ketahuan atau
merasa deg – degan.
“Hei..udah lama disitu?” tanya
Runa, tapi seperti terlihat mengejek dirinya dimata Abay.
“Hh..? Enggak juga tuh. Mm..kamu
belanja? Sendirian?” tanyanya menutupi rasa deg – degannya.
dia belanja dan dia sendirian.
“Oya, memangnya Pak...Darta
enggak nemenin Bu Runa nih? Apalagi kan tangannya masih sakit. Masa...calon
istri lagi sakit gini, suaminya enggak nemenin....” Abay tersenyum, kaku.
Bahkan seperti sedang meledek Runa.
Untuk sesaat Runa diam, seperti
sedang mangatur kata yang tepat agar tak menyinggung perasaan Abay. “Masih
calon suami. Belum jadi suami. Darta masih ada lembur. Dan enggak mungkin juga
aku paksa dia buat nemenin aku..” kata Runa mencoba tersenyum didepan Abay.
Lembur apaan? Lembur ngapelin
cewe lain? Batin Abay.
“Ya sudah, kalau gitu aku duluan
ya? Aku udah selesai belanjanya..”
Abay mengangguk menatap Runa
yang seperti tergesa meninggalkannya. Runa kemudian menuju kasir untuk membayar
belanjaannya. Namun ketika hendak membayar belanjaannya ia kesusahan karena
hanya sebelah tangannya yang bisa ia gunakan saat ini dan hampir membuat
belanjaannya terjatuh.
Abay tiba – tiba saja sudah
berada dibelakangnya dan dengan cepat menahan belanjaan Runa agar tak terjatuh.
“Biar saya aja Mba yang bayar.
Pakai ini aja..” kemudian ia menyerahkan sebuah kartu kredit.
“Bay, enggak usah. Enggak apa –
apa kok ini. Mbak jangan Mbak, biar saya aja..” Runa merasa malu karena Abay
__ADS_1
mau membayar belanjaannya.
“Enggak apa – apa Mbak. Pakai
itu aja, cepat ya?” Abay tetap bersikeras.
Mba kasir malah tersenyum sambil
menggesek kartu kredit milik Abay di alat elektrik. “Mbak-nya enggak usah merasa
enggak enak gitu, dibayarin sama pacarnya juga kan? Lagian pacarnya Mba ini
kan, pengertian banget liat keadaan Mba gini. Kalau saya mah malah seneng Mba
diperhatiin.”
Runa sangat terkejut dan hampir
aja membantah perkataan Mbak kasir itu, tapi keburu dipotong sama Abay.
“Makasih ya Mbak..”
Begitu sampai dipintu luar
minimarket itu dengan cepat Runa mencercanya dengan begitu banyak pertanyaan.
Kenapa Abay mau membayar belanjaannya, kenapa Abay hanya diam aja saat Mbak
tadi bilang mereka pacaran. Kenapa, kenapa dan kenapa?
Seperti biasa Abay hanya
tersenyum kemudian berkata,”Jelek”
Dan
berhasil membuat Runa terdiam. Itu panggilan sayang dari Abay dulu untuknya.
Kenapa Abay mengucapkan itu lagi?
“Ya udah, aku anterin kamu
pulang ya? Jangan nolak dan jangan banyak nanya. Oke Bu Runa?” katanya
tersenyum. Manis sama seperti dahulu. Batin Runa. Runa mengangguk menuruti
perintah Abay.
Untuk beberapa saat keduanya
hanya terdiam didalam mobil. Abay fokus dengan jalanan, dan Runa sesekali
memperhatikan Abay disampingnya yang entah kenapa menjadi sangat Runa inginkan
kembali ke dalam pelukannya. Tapi itu tak mungkin terjadi.
Runa melihat Abay kini sudah
menjadi orang yang sukses. Perusahaan yang besar, jabatan yang tinggi, dan Runa
rasa kini kehidupannya sangat mapan. Perempuan yang akan menjadi istrinya nanti
pasti akan merasa sangat beruntung mempunyai suami seperti Abay. Terlebih
karena Abay pasti akan sangat mencintai perempuan itu dengan tulus.
“Terpesona ya sama kharisma
orang ganteng ini..” kata Abay tiba – tiba. Membuat Runa gelagapan segera
membuang mukanya.
“Apaan sih? Siapa juga yang
merhatiin kamu. Jangan kegeeran deh jadi orang..”
“Na, kita makan dulu ya? Tiba –
tiba perutku laper. Makan Cuma tadi siang doang. Enggak apa – apa kan? Enggak
bakal dicariin juga kan?”
“Dicariin siapa? Enggak lah. Ya
udah aku temenin kamu makan. Lagian kerja itu harus ingat waktu Pak Bos. Jangan
sampai nanti perut buncitnya jadi kempes..” Runa tertawa lepas. Abay bukannya
marah, malah ikut tertawa.
“Siapa yang buncit? Udah sixpack
tau! Rajin olahraga ini. Bahkan tenpack, mau liat?” katany menggoda Runa. Runa
segera menutup wajahnya.
“Enggak mau....” katanya
tertawa.
__ADS_1