Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
Episode 17


__ADS_3

Semenjak


terakhir kalinya Abay dari Rumah Sakit tempo hari, ia yakin pasti Runa juga


sudah keluar dari sana. Ia sangat ingin menghubungi Runa seperti yang sudah –


sudah ia lakukan, tapi begitu ingat betapa mesranya Darta merangkul tubuh Runa


seketika ia berhenti untuk memikirkan Runa. Ia selalu menyibukkan dirinya


dengan pekerjaan dikantornya.


                Abay sadar dan sangat tahu


betul, dari dulu ia tak akan mungkin pernah bisa bersatu dengan Runa. Walaupun


mereka masih sangat mencintai satu sama lain. Sampai sekarang, tapi entah


bagaimana dengan perasaan Runa terhadap dirinya. Mungkin tidak, karena kini ia


sudah bersama Darta.


                Tiba – tiba ia tersadar karena


ketukan dipintu ruangannya. Kemudian Nita sekretarisnya masuk dengan membawa


beberapa berkas ditangannya.


                “Permisi Pak. Siang ini Pak Bayu


ada janji bertemu dengan perusahaan Green Living. Saya hanya mengingatkan.”


                “Syukurlah kamu mengingatkan,


hampir saja saya lupa. Oke, kamu hubungin Pras dan Gito juga, takutnya mereka


juga lupa.”


                Nita mengangguk tanda paham dan


ia segera melakukan apa yang diperintahkan atasannya itu.


***


                “Terima kasih atas kerjasamanya.


Semoga kita bisa saling menguntungkan..”


                “Sama – sama Pak Bayu. Baik


kalau begitu, kita permisi. Selamat siang...”


                Pertemuan mereka di sebuah


restoran itu pun selesai juga. Dan ketika Abay ingin keluar dari restoran itu,


langkahnya terhenti.


                “Pras, Gito kalian duluan aja.


Tiba – tiba aku mau ke toilet..”


                Ketika Pras dan Gito sudah agak


menjauh, barulah Abay mencoba mendekat ke arah dimana matanya melihat sesuatu


yang janggal.


                Sebenarnya tujuannya bukan ke


toilet, melainkan ia penasaran dengan apa yang ia lihat kali ini.


                Beberapa kali ia mencoba


meyakinkan dirinya kalau yang dilihatnya adalah Darta. Darta begitu mesra


bersama seorang wanita yang Abay pikir adalah Runa. Tapi ternyata wanita itu


bukan Runa. Untuk berapa saat Abay memperhatikan gelagat Darta bersama wanita


itu. Mereka tak terlihat seperti hubungan antarteman. Lebih dari itu yang dapat


ditangkap Abay.


                Kenapa Darta berbuat seperti


itu? Padahal ia dan Runa akan segera menikah. Sudahlah, Abay tak mau ambil


pusing. Itu urusan mereka.


***


Sepulang


dari kantor, Abay mampir ke sebuah mini market. Ia hanya membeli latte coklat


panas dan beberapa roti untuk mengganjal perutnya sebelum sampai dirumah.


                Ketika ia ingin menuju ke kasir,

__ADS_1


langkahnya terhenti dan kemudian ia agak menjauh. Dia tak mungkin salah lihat.


Runa. Ada Runa disini, ditempat yang sama. Agak lama ia memperhatikan Runa dari


kejauhan, takutnya seseorang datang bersamanya. Tapi ternyata tidak. Runa hanya


seorang diri dan dengan tangannya yang masih memakai penyangga lengan.


Kecelakaan itu membuat tangannya cedera. Dan semoga saja tak berapa lagi ia


bisa kembali normal.


                Kemudian ia ingat akan Darta,


yang baru saja tadi siang ia ihat bersama wanita lain. Apa Runa tak tau dengan


kelakuan Darta dibelakangnya seperti apa? Ingin sekali memberitahu Runa saat


ini juga kalau Darta itu tak pantas untuk dirinya. Darta selingkuh.


                Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya


itu. Kalaupun bisa mengatakan itu kepada Runa, pasti Runa enggak bakalan


percaya. Dan yang ada bisa – bisa malah Abay yang kena imbasnya. Akhirnya Abay


memutuskan untuk cepat – cepat menuju kasir dan tak usah menghampiri Runa.


                Tapi apalah daya. Langkahnya


terhenti dan kemudian kakinya terasa kaku ketika mendengar suara merdu khas


Runa memanggil namanya. Rasanya menyejukkan hati. Dan suara inilah yang selalu


Abay rindukan.


                Abay berpaling dan menghadap ke


arah Runa yang kini tepat berada dibelakangnya. “Hai...”. Hanya itu dan senyum


yang terasa kaku untuk Abay lakukan. Entahlah, apa karena sudah ketahuan atau


merasa deg – degan.


                “Hei..udah lama disitu?” tanya


Runa, tapi seperti terlihat mengejek dirinya dimata Abay.


                “Hh..? Enggak juga tuh. Mm..kamu


belanja? Sendirian?” tanyanya menutupi rasa deg – degannya.


dia belanja dan dia sendirian.


                “Oya, memangnya Pak...Darta


enggak nemenin Bu Runa nih? Apalagi kan tangannya masih sakit. Masa...calon


istri lagi sakit gini, suaminya enggak nemenin....” Abay tersenyum, kaku.


Bahkan seperti sedang meledek Runa.


                Untuk sesaat Runa diam, seperti


sedang mangatur kata yang tepat agar tak menyinggung perasaan Abay. “Masih


calon suami. Belum jadi suami. Darta masih ada lembur. Dan enggak mungkin juga


aku paksa dia buat nemenin aku..” kata Runa mencoba tersenyum didepan Abay.


                Lembur apaan? Lembur ngapelin


cewe lain? Batin Abay.


                “Ya sudah, kalau gitu aku duluan


ya? Aku udah selesai belanjanya..”


                Abay mengangguk menatap Runa


yang seperti tergesa meninggalkannya. Runa kemudian menuju kasir untuk membayar


belanjaannya. Namun ketika hendak membayar belanjaannya ia kesusahan karena


hanya sebelah tangannya yang bisa ia gunakan saat ini dan hampir membuat


belanjaannya terjatuh.


                Abay tiba – tiba saja sudah


berada dibelakangnya dan dengan cepat menahan belanjaan Runa agar tak terjatuh.


                “Biar saya aja Mba yang bayar.


Pakai ini aja..” kemudian ia menyerahkan sebuah kartu kredit.


                “Bay, enggak usah. Enggak apa –


apa kok ini. Mbak jangan Mbak, biar saya aja..” Runa merasa malu karena Abay

__ADS_1


mau membayar belanjaannya.


                “Enggak apa – apa Mbak. Pakai


itu aja, cepat ya?” Abay tetap bersikeras.


                Mba kasir malah tersenyum sambil


menggesek kartu kredit milik Abay di alat elektrik. “Mbak-nya enggak usah merasa


enggak enak gitu, dibayarin sama pacarnya juga kan? Lagian pacarnya Mba ini


kan, pengertian banget liat keadaan Mba gini. Kalau saya mah malah seneng Mba


diperhatiin.”


                Runa sangat terkejut dan hampir


aja membantah perkataan Mbak kasir itu, tapi keburu dipotong sama Abay.


“Makasih ya Mbak..”


                Begitu sampai dipintu luar


minimarket itu dengan cepat Runa mencercanya dengan begitu banyak pertanyaan.


Kenapa Abay mau membayar belanjaannya, kenapa Abay hanya diam aja saat Mbak


tadi bilang mereka pacaran. Kenapa, kenapa dan kenapa?


                Seperti biasa Abay hanya


tersenyum kemudian berkata,”Jelek”


Dan


berhasil membuat Runa terdiam. Itu panggilan sayang dari Abay dulu untuknya.


Kenapa Abay mengucapkan itu lagi?


                “Ya udah, aku anterin kamu


pulang ya? Jangan nolak dan jangan banyak nanya. Oke Bu Runa?” katanya


tersenyum. Manis sama seperti dahulu. Batin Runa. Runa mengangguk menuruti


perintah Abay.


                Untuk beberapa saat keduanya


hanya terdiam didalam mobil. Abay fokus dengan jalanan, dan Runa sesekali


memperhatikan Abay disampingnya yang entah kenapa menjadi sangat Runa inginkan


kembali ke dalam pelukannya. Tapi itu tak mungkin terjadi.


                Runa melihat Abay kini sudah


menjadi orang yang sukses. Perusahaan yang besar, jabatan yang tinggi, dan Runa


rasa kini kehidupannya sangat mapan. Perempuan yang akan menjadi istrinya nanti


pasti akan merasa sangat beruntung mempunyai suami seperti Abay. Terlebih


karena Abay pasti akan sangat mencintai perempuan itu dengan tulus.


                “Terpesona ya sama kharisma


orang ganteng ini..” kata Abay tiba – tiba. Membuat Runa gelagapan segera


membuang mukanya.


                “Apaan sih? Siapa juga yang


merhatiin kamu. Jangan kegeeran deh jadi orang..”


                “Na, kita makan dulu ya? Tiba –


tiba perutku laper. Makan Cuma tadi siang doang. Enggak apa – apa kan? Enggak


bakal dicariin juga kan?”


                “Dicariin siapa? Enggak lah. Ya


udah aku temenin kamu makan. Lagian kerja itu harus ingat waktu Pak Bos. Jangan


sampai nanti perut buncitnya jadi kempes..” Runa tertawa lepas. Abay bukannya


marah, malah ikut tertawa.


                “Siapa yang buncit? Udah sixpack


tau! Rajin olahraga ini. Bahkan tenpack, mau liat?” katany menggoda Runa. Runa


segera menutup wajahnya.


                “Enggak mau....” katanya


tertawa.

__ADS_1


__ADS_2