
Perlahan namun pasti
Runa mencoba membuka matanya. Hanya samar langit - langit kamar rumah sakit
yang pertama ia lihat. Ia meyakinkan dirinya kalau ia tak berada dikamarnya. Ia
mencoba melihat ke sekeliling ruangan itu. Ia mendapati seseorang sedang tertidur
ditepi ranjangnya dengan wajah tertelungkup.
Dari rambutnya ini
pasti bukan Darta. Tatanan rambut Darta tak seperti ini. Apa mungkin Gevan?
"Ge....."
tangan Runa mencoba meraih kepala yang dianggapnya Gevan itu.
Beberapa kali sampai
seseorang itu tersadar dari tidurnya. Walau masih agak samar Runa yakin kalau
seseorang yang tertidur ditepi ranjangnya itu adalah Abay. Beberapa kali ia
meyakinkan dirinya kalau ia tidak sedang bermimpi.
"Runa... Syukurlah
kamu sadar juga.."
"Abay?"
"Apa ada yang
sakit? Kamu merasa pusing? Atau dibagian mana yang sakit?" seketika Abay
berubah menjadi cerewet.
"Kamu kenapa?
Terus kenapa kamu ada disini?"
Abay menjelaskan kenapa
dia bisa berada bersama dengan Runa di rumah sakit. Menjelaskan kembali siapa
yang Runa selamatkan saat kecelakaan itu. Kini Runa tau kalau anak kecil yang
bersama Abay di mall waktu itu bukan anaknya melainkan keponakannya sendiri.
"Terimakasih
karena kamu udah menyelematkan Kia.."
__ADS_1
"Ya..karena waktu
itu kebetulan aku ada disekitar tempat itu. Seandainya orang lain pun yang ada
disana pasti akan melakukan hal yang sama.."
Runa seperti mencari
sesuatu. "Kamu nyari apaan?" tanya Abay.
"Ponselku, aku
harus menghubungi seseorang.
Dia pasti sekarang udah cemas banget kalau aku enggak ada dirumah.."
Bukannya ikut mencari
Abay malah tersenyum.Abay tau
Runa pasti ingin memberitahukan adiknya Gevan. Abay sudah bertemu tadi sore
dengan Gevan, ia terlihat sangat cemas. Setelah Abay memberitahukan keadaan
Runa, Gevan terlihat sedikit tenang.
“Mau menghubungi Gevan?” tanya Abay tersenyum.
Runa hanya diam dan menatap Abay “udah tau nanya”.
di depan. Paling bentar lagi juga balik”
“Kalian udah saling kenal?” tanya Runa yang masih
berbaring. Abay mengangguk.
Kemudian ia menghampiri meja kecil disamping ranjang
Runa, mengambil semangkuk bubur hangat yang baru saja di antar seorang suster
bersamaan dengan obat yang harus diminum oleh Runa. “Makan dulu..”
Runa hanya melirik mengekor dari matanya melihat
gerak gerik Abay yang ia rasa begitu dewasa dengan segala bentuk perhatiannya.
Perempuan yang memiliki Abay saat ini pasti beruntung bisa mendapatkan kasih
sayang dan kesetiaan Abay. Ia merasa sedih kembali karena dulu harus terpisah
dari laki – laki yang masih sangat ia cintai. Sampai saat ini.
Ketika Abay hendak menyuapi Runa bubur, Runa menahan
__ADS_1
dengan tangannya. “Aku bisa sendiri. Kamu bisa pulang istirahat aja, lagian
kamu itu enggak seharusnya nemenin aku disini. Pasti seseorang juga lagi
nungguin kamu pulang...”
Alis Abay tertaut, kemudian tangannya menyentuh
kening Runa. “Enggak demam kok, kamu merasa enakan kan? Kamu ngigo? Kenapa
malah jadi enggak karuan gitu sih ngomongnya?”
Tanpa sadar Runa menepuk tangan Abay, “Apaan sih?
Aku sadar kok..”. wajah Runa cemberut.
Abay tersenyum hampir tertawa malahan,”Makanya,
jangan ngomong yang macam – macam sekarang kamu makan aja..” Abay menyodorkan
sendok yang berisi bubur ke dalam mulut Runa. Dan Runa tak bisa menolak.
Runa menatap Abay yang menyuapinya makan. Tanpa
mereka sadari mata mereka saling bertemu pandang. Ada rasa bahagia menyusup ke
dalam hati Runa karena ia bisa dekat kembali dengan Abay. Namun seketika itu
juga ia merasa sedih, karena kini ia sudah menjadi milik orang lain. Darta.
Ia teringat akan Darta. Lagi, tangannya menahan
suapan dari Abay. Abay kembali bingung lagi. Runa meraih ponselnya dan
menghubungi Darta. Masih, nomornya masih tak bisa dihubungi. Wajahnya berubah
sendu. Padahal hari ini seharusnya Darta sudah kembali ke Jakarta.
“Kenapa lagi?” tanya Abay. Runa menggeleng
menghembuskan nafasnya panjang.
“Enggak apa – apa. Enggak penting juga dibahas..”.
Tapi Abay tau, pasti ada sesuatu yang tak ingin Runa
beritahu padanya. “Okey, kalau gitu obatnya lagi nih diminum..”
Tiba – tiba Gevan sudah ada dibalik pintu. “Ganggu
nih? Ya udah kalau gitu keluar lagi ya?” katanya menggoda.
“Gevan.....” mata Runa melotot. Dan Gevan hanya tersenyum
__ADS_1
simpul.
***