Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
Episode 15


__ADS_3

Perlahan namun pasti


Runa mencoba membuka matanya. Hanya samar langit - langit kamar rumah sakit


yang pertama ia lihat. Ia meyakinkan dirinya kalau ia tak berada dikamarnya. Ia


mencoba melihat ke sekeliling ruangan itu. Ia mendapati seseorang sedang tertidur


ditepi ranjangnya dengan wajah tertelungkup.


Dari rambutnya ini


pasti bukan Darta. Tatanan rambut Darta tak seperti ini. Apa mungkin Gevan?


"Ge....."


tangan Runa mencoba meraih kepala yang dianggapnya Gevan itu.


Beberapa kali sampai


seseorang itu tersadar dari tidurnya. Walau masih agak samar Runa yakin kalau


seseorang yang tertidur ditepi ranjangnya itu adalah Abay. Beberapa kali ia


meyakinkan dirinya kalau ia tidak sedang bermimpi.


"Runa... Syukurlah


kamu sadar juga.."


"Abay?"


"Apa ada yang


sakit? Kamu merasa pusing? Atau dibagian mana yang sakit?" seketika Abay


berubah menjadi cerewet.


"Kamu kenapa?


Terus kenapa kamu ada disini?"


Abay menjelaskan kenapa


dia bisa berada bersama dengan Runa di rumah sakit. Menjelaskan kembali siapa


yang Runa selamatkan saat kecelakaan itu. Kini Runa tau kalau anak kecil yang


bersama Abay di mall waktu itu bukan anaknya melainkan keponakannya sendiri.


"Terimakasih


karena kamu udah menyelematkan Kia.."

__ADS_1


"Ya..karena waktu


itu kebetulan aku ada disekitar tempat itu. Seandainya orang lain pun yang ada


disana pasti akan melakukan hal yang sama.."


Runa seperti mencari


sesuatu. "Kamu nyari apaan?" tanya Abay.


"Ponselku, aku


harus menghubungi seseorang.


Dia pasti sekarang udah cemas banget kalau aku enggak ada dirumah.."


Bukannya ikut mencari


Abay malah tersenyum.Abay tau


Runa pasti ingin memberitahukan adiknya Gevan. Abay sudah bertemu tadi sore


dengan Gevan, ia terlihat sangat cemas. Setelah Abay memberitahukan keadaan


Runa, Gevan terlihat sedikit tenang.


“Mau menghubungi Gevan?” tanya Abay tersenyum.


Runa hanya diam dan menatap Abay “udah tau nanya”.


di depan. Paling bentar lagi juga balik”


“Kalian udah saling kenal?” tanya Runa yang masih


berbaring. Abay mengangguk.


Kemudian ia menghampiri meja kecil disamping ranjang


Runa, mengambil semangkuk bubur hangat yang baru saja di antar seorang suster


bersamaan dengan obat yang harus diminum oleh Runa. “Makan dulu..”


Runa hanya melirik mengekor dari matanya melihat


gerak gerik Abay yang ia rasa begitu dewasa dengan segala bentuk perhatiannya.


Perempuan yang memiliki Abay saat ini pasti beruntung bisa mendapatkan kasih


sayang dan kesetiaan Abay. Ia merasa sedih kembali karena dulu harus terpisah


dari laki – laki yang masih sangat ia cintai. Sampai saat ini.


Ketika Abay hendak menyuapi Runa bubur, Runa menahan

__ADS_1


dengan tangannya. “Aku bisa sendiri. Kamu bisa pulang istirahat aja, lagian


kamu itu enggak seharusnya nemenin aku disini. Pasti seseorang juga lagi


nungguin kamu pulang...”


Alis Abay tertaut, kemudian tangannya menyentuh


kening Runa. “Enggak demam kok, kamu merasa enakan kan? Kamu ngigo? Kenapa


malah jadi enggak karuan gitu sih ngomongnya?”


Tanpa sadar Runa menepuk tangan Abay, “Apaan sih?


Aku sadar kok..”. wajah Runa cemberut.


Abay tersenyum hampir tertawa malahan,”Makanya,


jangan ngomong yang macam – macam sekarang kamu makan aja..” Abay menyodorkan


sendok yang berisi bubur ke dalam mulut Runa. Dan Runa tak bisa menolak.


Runa menatap Abay yang menyuapinya makan. Tanpa


mereka sadari mata mereka saling bertemu pandang. Ada rasa bahagia menyusup ke


dalam hati Runa karena ia bisa dekat kembali dengan Abay. Namun seketika itu


juga ia merasa sedih, karena kini ia sudah menjadi milik orang lain. Darta.


Ia teringat akan Darta. Lagi, tangannya menahan


suapan dari Abay. Abay kembali bingung lagi. Runa meraih ponselnya dan


menghubungi Darta. Masih, nomornya masih tak bisa dihubungi. Wajahnya berubah


sendu. Padahal hari ini seharusnya Darta sudah kembali ke Jakarta.


“Kenapa lagi?” tanya Abay. Runa menggeleng


menghembuskan nafasnya panjang.


“Enggak apa – apa. Enggak penting juga dibahas..”.


Tapi Abay tau, pasti ada sesuatu yang tak ingin Runa


beritahu padanya. “Okey, kalau gitu obatnya lagi nih diminum..”


Tiba – tiba Gevan sudah ada dibalik pintu. “Ganggu


nih? Ya udah kalau gitu keluar lagi ya?” katanya menggoda.


“Gevan.....” mata Runa melotot. Dan Gevan hanya tersenyum

__ADS_1


simpul.


***


__ADS_2