Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
37


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian.......


Hari ini adalah hari bahagia Melda karena ia akan menikah dengan Abram pria yang sudah mengisi harinya - harinya baik dalam keadaan suka maupun duka beberapa tahun terakhir ini. Runa sebagai sahabatnya pun ikut turut berbahagia.


"Selamat ya Melda, Abram. Aku turut berbahagia." Runa kemudian memeluk sahabatnya itu.


"Terimakasih ya Runa. Aku juga doain kamu supaya cepat - cepat menyusul menikah juga..". Runa mengaminkan.


Beberapa tahun terakhir ini Runa menyibukkan dirinya dengan bekerja. Ia tak memikirkan untuk menikah. Beberapa teman laki - laki yang Melda kenalkan padanya tak pernah ia gubris. Runa tak ingin berurusan dengan laki - laki yang akan menyakitinya saja nanti.


Runa mendapat telpon dari Gevan, karena suasana dalam gedung yang ramai ia memutuskan untuk menerima telpon di luar gedung. Karena setengah tergesa ia menabrak seseorang dan membuat minuman yang ada ditangannya sedikit tumpah mengenai jas orang itu.


"Maaf, saya enggak sengaja.." Runa segera mengambil sapu tangannya dan mencoba menghilangkan noda yang ada di jas seseorang itu.


"Maaf..". Runa tak berani menatap orang yang ada didepannya ini. Jas ini terlihat mahal.


"Anda bisa meninggalkan nomor telpon Anda. Saya akan mengganti jas Anda dengan yang baru besok..".


Runa masih tak berani menatap orang yang ada didepannya ini.


Orang itu menengadahkan tangannya. Runa segera mengambil ponselnya dan menyerahkan ke orang itu. Tak berapa lama orang itu mengembalikan ponsel Runa.


Arsan. Ternyata namanya Arsan.


"Baik Pak Arsan. Setelah mendapatkan jas baru Anda, saya akan segera menghubungi Anda.."


Suara pria itu terdengar seperti terkekeh.

__ADS_1


"Jangan panggil 'pak'. Saya terdengar sangat tua. Kenapa dari tadi kamu hanya menunduk?".


Dengan perlahan Runa mengangkat kepalanya menatap pria didepannya ini masih dengan rasa takut. Ternyata benar dia masih muda, batin Runa.


"Panggil Arsan saja..". Runa mengangguk.


"Oh ya, nama kamu siapa?"


"Runa"


"Baiklah kalau gitu saya tunggu besok".


Arsan lantas berlalu. Runa menghembuskan nafasnya panjang. Ia benar - benar ceroboh.


***


"Runa...". Suara Arsan mengejutkannya.


Arsan langsung duduk didepan Runa dan tersenyum. Oh Tuhan, kenapa senyumnya membuat tubuh Runa menjadi lemas. Kalau diperhatikan Arsan memang lumayan menawan.


"Udah lama nunggu?".


Runa menggeleng. Ia seperti tersadar segera Runa menyerahkan paperbag berisi jas baru untuk Arsan. "Ini jas baru, sama persis..".


Arsan tersenyum. "Tadinya aku udah enggak berniat sama jas baru itu. Tapi ya sudahlah aku terima ya?"


"Jasnya sudah kamu terima. Kalau gitu urusan kita selesaikan?".

__ADS_1


"Kata siapa? Urusan kita belum selesai. Tapi sebelumnya aku mau tanya sama kamu. Kamu sudah punya pacar? Atau bahkan kamu sudah menikah?".


Runa terlihat bingung dengan pertanyaan Arsan. "Kenapa kalau aku sudah menikah atau belum? Kamu jangan macam - macam ya?"


"Jawab aja kenapa sih?".


Runa menggeleng.


"Kamu jangan mikir yang macam - macam ya? Aku punya undangan pesta ulang tahun temanku. Dan yang lebih anehnya lagi di undangan itu aku harus membawa pasangan....". Arsan menggantung kalimatnya disana menunggu reaksi Runa.


"Jadi aku mau mengajak kamu ke pesta itu. Aku enggak mau ada salah paham karena aku ngajak pasangan orang lain. Jadi apa kamu mau nemenin aku?"


"Sebentar, kalau diperhatikan tampang kamu lumayan oke. Tapi masa kamu enggak punya pasangan gitu? Kenapa harus aku? Lagian kita baru beberapa kali ketemu, emang kamu percaya gitu sama orang yang baru kamu kenal?"


Arsan hanya tersenyum. "Oke, itu artinya kamu bersedia-"


Sejak kapan Runa mengangguk setuju?


"-nanti malam aku jemput kamu jam 7. Dandan yang cantik". Arsan bangkit.


"Eh, tapi aku juga punya acara nanti malam aku enggak bisa". Runa setengah berteriak karena Arsan mulai bergerak jauh.


"Batalin aja urusan kamu. Demi aku!". Arsan menyempatkan tersenyum kemudian melambaikan tangannya.


"Siapa dia? Penting banget? Lagian itu orang aneh banget, memang mau jemput dimana? Dia kan enggak tau alamat rumahku? Biarin aja...". Runa berbicara sendiri lantas tersenyum sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2