Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
3


__ADS_3

"Pagi Mba Runa.." sapa Pak Nurdin salah satu satpam di kantor Runa.



"Pagi juga Pak Nur..."



"Tumben hari ini enggak bareng Mas Darta, biasanya selalu berdua kemana - mana.."



Runa tersenyum,"Tadi Darta ada meeting pagi, kasian juga dia kalau harus jemput saya dulu, makanya dia duluan ke kantor"



"Bukannya saya mau ikut campur ya Mba, kenapa enggak cepat - cepat nikah aja Mba biar barengan terus.."



"Di doain aja ya Pak. Kalau gitu saya masuk dulu..."



Runa masuk kemudian menuju ruangannya. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya, mengecek dan membalas email dari cabang kantor daerah, memeriksa file - file keuangan, menandatangani beberapa proposal. Sampai suara pesan masuk pun tak sempat ia buka. Ia masih berkutat dengan laptopnya sampai ketika ponselnya berdering.



"Hallo.." kata Runa tetap dengan matanya yang masih menatap laptop.



"Runa, kamu datang ke Cafe Coffe siang ini sekalian bawa berkas penandatanganan kerjasama dengan perusahaan I-Electricka tempo hari. Sekarang, ditunggu.."



"Tapi Darta, kayanya aku bakal sibuk banget masih banyak laporan yang belum clear dan harus cepat. Gimana kalau aku suruh Tama yang antar ke sana, ya?"



"Enggak bisa Runa, pokoknya kamu yang harus ke sini. Lagian mereka mau ketemu kamu, calon istriku. Bukannya Tama. Ya udah, ditunggu, cepat.." Telpon terputus.


__ADS_1


Seperti biasa, tanpa mendengarkan Runa berkata apa - apa lagi.


Selalu. Selalu seperti itu. Semua yang dikerjakan oleh Darta harus terencana, cepat tanpa bisa ditolak. Apa yang diperintahkannya harus dipatuhi tanpa bantahan. Darta sangat benci menunggu, tak menyukai basa - basi, semua yang dilakukannya seperti sudah sangat terencana. Waktu setengah tahun dirasa Runa cukup untuk mengetahui sikap dan sifat Darta.



Tergesa Runa mematikan laptopnya, membereskan mejanya yang berantakan penuh dengan kertas - kertas kerjanya. Kemudian menyiapkan berkas yang diminta oleh Darta.



Sepanjang perjalanan menuju Cafe Coffe entah kenapa Runa tiba - tiba saja membandingkan sikap Darta dan.....Abay. Sikap Darta dan Abay jauh berbeda, Abay adalah semua kebalikannya sikap Darta. Begitu humoris, bersikap lembut, apa adanya. Dan semua yang ada pada Abay kini Runa sangat merindukannya. Apalagi setelah pertemuan singkat mereka di Mall beberapa waktu yang lalu. Memunculkan kembali desir aneh dalam dadanya.



Tiba - tiba ponselnya bergetar di atas dashboard mobilnya dengan cepat Runa meraih ponselnya kalau saja itu adalah Darta, karena Darta pasti akan mengomel jika telponnya tak dijawab cepat oleh Runa.


Mata Runa menyipit alisnya tertaut membaca pesan kosong dari nomor tak dikenalnya. Isinya hanya berupa titik - titik dan tanda tanya. Runa tak berniat membalas pesan itu, paling kerjaannya anak - anak alay yang cuma iseng doang seperti ini.



Setelah agak lama berjibaku dengan macetnya jalanan Ibukota, tibalah Runa di Cafe Coffe seperti yang diminta Darta. Saat Runa memasuki restoran tersebut tak sit baginya untuk mencari Darta dan beberapa kolega. Karena mereka sudah berkumpul dan menunggu kedatangan Runa.




"Tidak apa -apa Bu Daruna, kami juga baru tiba beberapa saat yang lalu.."



Mereka pun mulai membahas perjanjian kerjasama mereka, apa saja yang harus dilakukan terlebih dahulu, apa - apa saja keuntungan mereka kalau bekerjasama di perusahaan Runa. Setelah agak lama membahas pekerjaan, mereka memesan makanan untuk disantap siang ini. Diselingi dengan tawa renyah, dan tetap membahas tak jauh dari masalah pekerjaan.



"Setelah ini aku enggak langsung ke kantor, kamu duluan aja.." kata Darta sambil membereskan map - map kerjanya setelah klien mereka terlebih dahulu pulang.



"Kamu mau kemana?"



"Aku ada janji dengan klien lagi, mereka mau menawarkan kerjasama.." kata Darta datar dan sangat terburu - buru setelah beberapa saat yang lalu ia menerima telpon dikejauhan.

__ADS_1



"Ohya, perusahaan apa?"



"Kamu kok bawel banget sih?!" nada Darta terdengar sedikit lebih tinggi dari biasanya. Runa tersentak namun ia tetap biasa mencoba tak terpancing amarah.



"Apa aku sebawel itukah dimatamu Darta? Apa aku salah menanyakan itu, aku rasa itu enggak berlebihan..."



"Ya deh. Terserah... Terserah!" Darta langsung pergi tanpa menghiraukan Runa yang masih disitu.



"Sekarang kamu banyak berubah Darta.." langkah Darta terhenti ketika mendengar Runa mengatakan itu padanya.



"Wait. Kamu bilang apa barusan? Aku berubah? Enak banget kamu berbicara seperti itu.." kata Darta masih ditempatnya berdirinya.



"Itu memang benar kan? Sikap kamu yang enggak biasanya ke aku. Kamu yang sepertinya menghindar dari aku. Aku enggak menuntut banyak Darta, aku cuman mau kamu tau kalau aku adalah pasanganmu, sebentar lagi kita akan menikah.."



"Kenapa jadi ribet gini sih? Padahal aku kan cuma mau ketemu klien aja, kenapa jadi berantem gini?" nada Darta masih terdengar kesal.



Runa mencoba untuk merendah. "Bukan hanya hari ini saja Darta, tapi setelah Papah meninggal sikap kamu berubah ke aku. Enggak ada lembut - lembutnya lagi, enggak kaya dulu..."



"Ah, terserah kamu aja! Panas nih kuping, ceramah mulu!" Dan Darta langsung pergi tanpa memperdulikan Runa yang kini mulai merasa matanya penuh dengan airmata yang hanya dengan satu kedipan saja pasti akan menetes mengaliri pipinya.



Kini wajahnya ia benamkan dalam di atas meja. Dengan tangan yang terlipat ia selipkan wajahnya disana untuk airmatanya bisa bebas mengalir tanpa seorang pun tau kalau dia sedang menangis.

__ADS_1


Apa ia masih harus merasa yakin untuk tetap melanjutkan pernikahannya dengan Darta? Tapi wasiat terakhir Papah Runa yang mengharuskannya menikah dengan Darta. Entahlah, Runa tak bisa berpikir jernih untuk saat ini.


__ADS_2