
Melda tersedak dan hampir saja menumpahkan gelas air minum ditangannya ketika Runa mengatakan ia akan menikah dengan Darta lusa. “Ah, seriusan kamu Na? Kamu sudah memikirkan ini matang – matang? Jangan sampai keputusan yang kamu ambil ini membuat kamu menyesal”.
Runa tak langsung mengangguk. Ia terdiam menatap ke arah lantai.
“Insya Allah. Atas izin Allah”
Melda menghela nafas dan menghembuskannya berat. “Ini belum terlambat”
Runa menatap Melda. Seolah berkata apa maksud perkataanmu.
Dan mengalirlah penjelasan yang panjang dari mulut Melda tentang Darta selama ini.
“Aku yakin Darta tidak bermaksud seperti itu. Mungkin yang kamu lihat itu hanya sebuah kebetulan. Lagian antara Darta dan Selly hanya sebatas sekretaris dan atasan kan? Jadi wajar kalau mereka dekat.”
Ya ampun, harus bicara seperti apa lagi agar Runa mengerti kalau Darta pasti punya maksud lain dengan menikahinya. “Mungkin ada cara lain menyelamatkan perusahaan Ayah kamu selain harus menikah dengan Darta?”
“Entahlah Mel, sampai saat ini aku belum bisa menemukan solusinya. Aku punya tanggung jawab yang besar atas perusahaan Ayah. Semua keputusan ada ditanganku. Walaupun harus menikah dengan Darta adalah cara satu – satunya menyelematkan perusahaan Ayah, aku akan terima apapun itu resikonya.”
Melda mengusap lembut pundak sahabatnya ini,”Apapun keputusan kamu semoga yang terbaik..”. Runa dan Melda
hampir bersamaan mengaminkan harapan itu.
__ADS_1
***
Melda tersentak ketika seseorang menepuk pundaknya saat ia berada dicafe didepan kantornya.
“Melda? Kamu ngelamun barusan? Kayaknya kaget banget..”
“Eh, kamu Bay. Enggak juga kok. Cuman kepikiran aja..”
Abay memang biasa makan siang dikafe ini. Dan siang ini kebetulan ia bertemu dengan Melda disini.
“Memang apa sih yang membuat pikiranmu itu terganggu? Cerita lah, siapa tau aku bisa membantu apa gitu...”
“Runa yang menikah, aku yang gelisah”
“Runa? Menikah? Kapan?”
“Besok. Aku udah ngasih tau tentang Darta ke Runa, kalau Darta bukan pria yang baik.”
“Jadi kamu udah tau tentang Darta?”
Melda menyipitkan matanya. Abay juga tau tentang sikap Darta saat tak bersama Runa.
__ADS_1
“Runa tak memperdulikan itu. Ia hanya peduli dengan nasib perusahaan Ayahnya. Aku kasihan sama Runa, ia
terjebak dalam situasi ini. kalau Runa tidak menikah dengan Darta nasib perusahaannya pasti akan hancur”
Selama ini ternyata Runa menanggung beban yang berat. Abay tak mungkin membiarkan Runa menderita. Tapi apa yang bisa ia perbuat, Runa akan menikah besok.
“Kamu pasti masih sayang kan sama Runa?”. Pertanyaan Melda membuat Abay terkejut. Ia pasti sudah tahu hubungannya bersama Runa dimasa lalu. Ia memang masih sangat menyayangi Runa, tapi entah bagaimana dengan perasaan Runa sendiri terhadapnya. Saat ini pun Runa tak ingin dirinya ikut campur lagi dengan kehidupannya.
Abay menenangkan Melda yang gelisah. Sementara dirinya bergegas kembali ke kantornya. Memikirkan segala hal untuk menyelematkan perusahaan Runa tanpa sepengetahuannya.
***
Mayra menuju ruangan Abay untuk menandatangani beberapa laporan yang harus Abay tandatangani. Namun saat ia masuk ruangannya kosong. Sekretarisnya mengatakan kalau Abay belum kembali dari beberapa jam yang lalu. Saat ia ingin keluar tiba – tiba pintu terbuka. Abay setengah berlari menuju meja kerjanya. Ia tak memperhatikan Mayra yang terkejut dengan kedatangannya.
“Bay? Kamu kenapa? Kamu baik – baik aja?”
“Hm?”
Abay tak sempat menjawab pertanyaan Abay. Ia sangat sibuk mencari berkas – berkas, membuka laporan, mengecek laptopnya.
Mayra terlihat kesal karena Abay mengacuhkannya. “Kamu kenapa sih? Ada apa? Kalau kamu membutuhkan bantuan, aku bisa membantu kamu Bay—“.
__ADS_1
“Mendingan kamu kembali ke ruangan kamu. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan”. Abay memerintah tanpa menatap wajah Mayra yang semakin kesal dengan perlakuan Abay padanya. Terpaksa ia meninggalkan ruangan Abay. Tapi ia akan mencari tahu apa yang sedang Abay lakukan dengan gerak – geriknya yang mencurigakan.
***