Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
5


__ADS_3

"Hey...kenapa cemberut gitu sih mukanya? Masih pagi lho ini.." kata Darta kemudian mengangkat dagunya Selly dan mendekatkan wajahnya. Selly masih diam dalam cemberutnya.



"Sampai kapan sih kita kayak gini? Backstreet dihadapan semua orang? Aku udah capek Darta! Aku kekasihmu...!" nada Selly terdengar sangat kesal.



"Hey..hey.. Udah dong jangan marah - marah gitu. Aku tau, kalau kamu itu pacar aku. Makanya sejak tau kalau kamu melamar kerja disini, aku langsung mengangkat kamu jadi sekretaris aku. Karena aku ingin kembali dekat sama kamu, setelah sekian lama kita berpisah.."



"Tapi aku capek harus berpura - pura menjadi sekretaris bos yang baik. Yang mencoba enggak peduli dengan sikap romantis kamu tadi dihadapan Runa!!"



"Inikan cuma untuk sementara waktu aja. Setelah aku berhasil mengambil hatinya, semakin mudah untuk merebut perusahaan mereka dan kita akan segera menikah. Kamu yang sabar makanya.... Okey?" Darta mengecup bibir Selly sekilas. Dan bersamaan itu pintu lift terbuka. Selly pun sudah tak menampakkan wajah cemberutnya lagi. Mereka bersama keluar dari lift itu seolah tak terjadi apa - apa di antara mereka.



***



Ponsel Runa bergetar. Sebuah pesan masuk.


From : +628250991xxx


Runa?



Inikan nomor yang tempo hari mengiriminya pesan yang hanya ada titik - titik dan tanda tanya itu. Ada perlu apa sih ini orang? Runa membenarkan posisi duduknya.



To : +628250991xxx


...?



Terkirim. Runa tertawa dalam hati sendiri. Ia menuliskan pesan balasan yang sama dengan yang pernah dikirim orang iseng itu. Untuk beberapa saat tak ada balasan. Ya sudahlah, Runa memutuskan untuk kembali bekerja.



From : +628250991xxx


Apa kbar jlek?



Jelek? Yang tau panggilan itukan cuma Abay. Jelek adalah panggilan sayang Abay dulu untuk Runa. Dan Runa memanggil Abay dengan sebutan bau. Karena Abay yang suka kentut sembarangan. Kini Runa semakin yakin itu adalah Abay. Segera dilepaskannya ponselnya dan dengan cepat menaruhnya ke atas meja kerjanya. Mencoba menenangkan detak jantungnya yang entah kenapa berdetak tak karuan.



Runa memang tak pernah mengganti nomornya, mungkin karena itulah Abay masih bisa menghubunginya seperti sekarang ini. Kini Runa merasa kupu - kupu beterbangan didalam perutnya, diraihnya kembali ponselnya dan tersenyum sendiri karenanya.



To : Bau


Jlek? Spa?



Runa tersenyum sendiri. Ia mengganti kontak itu dengan nama "Bau". Ia seperti menemukan sesuatu yang hilang. Dulu.

__ADS_1



Di mulai seperti ini dulu Runa dan Abay memulai komunikasi. Terkadang keduanya berpura - pura sebagai orang lain. Terkadang sebagai asisten rumah tangga, tukang kebun, sopir, dan lain - lain. Walaupun keduanya tau itulah hanya lelucon. Justru hal - hal seperti itulah membuat hubungan keduanya semakin erat.



Abay bukan tipe orang yang romantis. Dia romantis dengan caranya yang tak terduga, bahkan dari lelucon yang ia lakukan, ia bisa terlihat sangat romantis.


Runa merasa rindunya sedikit terobati, paling tidak dia tak merasa sendiri. Walaupun kini ia bersama Darta, tapi Darta tak seperti bersamanya.



Hampir setengah jam sudah tak ada balasan dari Abay. Ada sedikit kecewa dihati Runa. Niatnya hanya untuk membalas ngisengin Abay, tapi Abay seperti yakin kalau ini bukan nomor Runa. Karena Runa membalas pesannya seperti tadi.



Ponselnya bergetar. Dengan cepat tangan Runa menyambar ponselnya dan membuka pesan masuk. Ternyata dari Melda, sahabat Runa yang juga bekerja di perusahaan Runa dan berada dilantai yang sama dengan Darta.



From : Melda


Na, kamu ke kantin kantor skrg!


Aku liat Darta sama sekretarisnya duduk breng mkn siang&mreka kliatan dkat bgt!



Runa hanya tersenyum membaca pesan Melda. Dia membalas pesan Melda dan meyakinkan Melda kalau mereka dekat itu karena memang pekerjaan. Wajar kan sekretaris dan bos selalu bersama?



Tapi Melda ngotot supaya Runa ke kantin sekarang dan melihat sendiri kedekatan yang aneh di mata Melda. Akhirnya Runa menuruti kemauan sahabatnya itu, sekalin makan siang aja.




Runa menuruti kemauan temannya itu, memperhatikan gerak gerik Selly dan Darta. Memang terlihat agak berbeda, namun sesegera itu Runa menepis pikiran negatifnya. Dihampirinya Darta dan Selly dengan tersenyum santai.



"Hei.... Kalian udah duluan aja nih..." Runa tersenyum menghampiri meja Darta dan Selly.


Baik Selly maupun Darta seperti terkejut dengan kadatangan Runa, namun mereka mencoba bersikap biasa.



"Mm..i-ya. Maaf ya sayang, tadi itu ada klien sekalian aja makan siang gitu, jadinya enggak sempat ngabarin kamu..."



"Ya udah, enggak apa - apa kok..." ketika Runa duduk, Selly berdiri dan ingin beranjak pergi.



"Loh Sel, mau kemana? Duduk aja dulu, kita makan siang bareng.." kata Runa.



"Maaf ya Bu Runa, kayaknya enggak bisa. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Selamat siang..." tanpa menunggu lagi Selly langsung pergi.



"Biasanya emang kaya gini ya?" tanya Runa.


__ADS_1


"Kaya gini gimana? Makan siang disini?" tanya Darta biasa.



Runa diam. Ia memang melihat ada sesuatu yang aneh ketika Selly dan Darta bersama. Tatapan mereka satu sama lain berbeda.



"I-iya. Emang biasanya makan disini juga kan? Apanya yang beda?" tanya Darta curiga.


"Enggak. Ya udah makan aja lagi, aku mau balik ke kantor dulu.."


"Na, tapi kamu belum makan siang lho.."



Tapi Runa berlalu dengan cepat meninggalkan Darta sendiri. Darta sama sekali tidak berusaha menahan Runa. Bahkan ketika Runa tiba diruangannya, Darta sama sekali tak menemuinya dan berusaha menjelaskan sesuatu yang membuatnya tenang.



Tiba - tiba saja perutnya berbunyi, ia memang belum makan siang sejak ia meninggalkan Darta dikantin tadi. Ia memutuskan untuk pergi makan siang di restoran mini di seberang kantornya. Ia memutuskan untuk pergi bersama Melda, walaupun ia menolak karena sudah makan siang dikantin tadi, tapi Runa tetap mengajaknya, karena sangat tidak mengenakan makan siang sendirian.



"Tadi bukannya makan bareng Darta ya? Kenapa makan disini lagi Na?" celoteh Melda ketika mereka menunggu pesanan datang.



"Enggak, tadi enggak jadi makan. Tiba - tiba aja aku kehilangan selera makan.."



"Kenapa?" Melda terus bertanya. "Tau ah, enggak usah bahas itu lagi.."



"Kamu cemburu kan sama kedekatan Selly dan Darta itu. Asalkan kamu tau aja ya Na, kayanya cuma kamu sendiri deh yang enggak tau apa - apa tentang mereka..." kini Melda memasang muka seperti detektif profesional.



"Ten-tang mereka? Maksudnya Selly dan Darta? Kenapa emang?" kini Runa semakin penasaran dan bersiap mendengar apa saja kata orang - orang diluar sana tentang kedekatan Selly dan Darta yang tidak pernah ia ketahui.



"Tapi kamu yakin, setelah mendengar ini kamu akan baik - baik aja?"



Runa mengangguk penuh yakin. Walaupun ia juga tak tau bagaimana ia menenangkan hatinya sendiri. "Cepetan Mel, apaan sih?"



"Yaa.. Ini kan cuma kasak kusuk yang beredar yang enggak jelas kebenarannya. Jadi aku harap kamu baik - baik aja. Jadi gini..........." mengalirlah penjelasan panjang dari mulut Melda tentang gosip - gosip kedetakan Darta dan sekretarisnya itu.



Runa menyimak dengan sangat seksama tanpa berkedip. Setelah mendengar cerita panjang lebar dari Melda, Runa mencoba mengingat - ingat kembali saat - saat dimana Darta dan Selly bertemu. Tatapan yang sama ketika mereka tiap kali bertemu, sebuah tatapan penuh kasih sayang dan cinta.


Dan begitu pula ketika saat seperti dikantin tadi, Selly langsung pergi ketika Runa datang. Ia seperti sangat tidak senang setiap kali bertemu Runa.



"Inikan cuma gosip, jadi belum tentu kebenarannya. Bagaimana selanjutnya kan terserah kamu aja Na..."



Runa menggangguk tapi tetap diam. "Ya udah, kamu lanjutin makannya, nanti malah sakit. Tadi udah enggak makan dikantin, makanya sekarang makan aja.." kata Melda sesaat sebelum menyeruput es kopi moccanya.

__ADS_1


__ADS_2