
Ternyata membutuhkan waktu yang lama bagi Abay untuk tidak mencoba menghubungi Runa setelah mereka bertemu di Mall beberapa waktu yang lalu. Ia ragu tapi juga sangat ingin menghubungi Runa lagi, paling tidak untuk mengobati rasa rindunya dulu. Walaupun ia sempat terluka karena terpaksa dipisah dari Runa, hanya karena Runa akan dijodohkan dengan anak sahabat Papahnya yang juga salah satu rekan kerja diperusahaan mereka.
Abay ragu tapi sangat ingin menghubungi Runa, ragu kalau - kalau Runa sudah menikah.
Dan ia tak ingin menjadi penyebab kehancuran pernikahan Runa, kalau saja itu benar adanya. Tapi semenjak dari Mall waktu itupun Abay tak melihat ada sebuah cincin dijari manis Runa. Itu berarti dia belum menikah kan? Dan Abay tak harus merasa bersalah jikalau berhubungan dengan Runa.
Ragu, namun tetap ia lakukan ia menekan nomor ponsel Runa yang sudah sangat dihafalnya itu. Semoga nomor ponselnya masih tetap yang dulu. Untuk beberapa saat menunggu dengan dada yang bergetar. Ternyata, panggilannya masuk. Namun tak diangkat sekalipun.
__ADS_1
Kemudian, ia mencoba untuk sedikit iseng dengan Runa. Apakah Runa akan merespon dirinya? Sekali, dua kali, tetap begitu, namun Abay tak menyerah sampai mengetahui kalau ini benar - benar nomor ponselnya Runa.
Sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk mengirim pesan ke Runa dengan menyebutnya 'jelek'. Ini adalah panggilannya untuk Runa, entahlah Abay merasa nyaman dengan panggilan sayang seperti itu. Kalaupun benar ia Runa, dia pasti akan merespon ketika dipanggil 'jelek'. Abay tersenyum sendiri, membayangkan bagaimana reaksi Runa.
Abay tau ini salah, salah dengan perbuatannya saat ini. Mungkin saja Runa sudah mempunyai suami dan suaminya pasti akan marah kalau tau Runa masih berhubungan dengan mantan kekasihnya dulu.
__ADS_1
Abay pernah mencoba membuka hatinya untuk perempuan lain, ia berhasil. Namun tetap tak berlangsung lama. Entahlah, apa karena masih ada Runa yang memenuhi hatinya? Sampai sekarang Abay bahkan tak mempunyai pikiran untuk dekat dengan perempuan manapun.
Sampai akhirnya hatinya terusik kembali saat ia bertemu dengan Runa tempo hari. Memori dikepalanya muncul begitu saja saat ia mengingat nama Runa. Bagaimana pertama kali mereka bertemu, berkenalan, sampai mereka menjalin sebuah hubungan.
Tanpa ia sadari bibirnya menyunggingkan senyum namun sedetik kemudian wajahnya berubah murung. Menyadari bahwa saat ini ia tak lagi bersama Runa. Buknnya ia tak mau memperjuangkan Runa saat itu, hanya saja ia merasa belum mapan dan belum pantas menemui orang tuanya Runa.
__ADS_1
Tapi saat sekarang ia sudah mendapatkan semua, ia sudah mapan dalam berkarier mempunyai jabatan penting di sebuah perusahaan tapi Runa tak bisa bersamanya. Apakah ini keadilan Tuhan? Jalan seperti apakah yang Tuhan berikan saat ini untuknya?