
Diam – diam
Mayra memperhatikan gelagat Abay yang terlihat sekali kecemburuan diwajahnya.
Abay masih mencintai Runa. Batin Mayra.
“Bay...lagi liatin apa sih? Serius banget...” tanya Mayra padahal ia tau apa yang sedang diperhatikan
Abay. Abay menggeleng kemudian membuang mukanya ke arah lain. “Enggak apa – apa. Siapa juga yang ngelamun?”
“Kalau enggak ngelamun pasti lagi mikirin......” Mayra sengaja menggantung katanya. Biar Abay yang mengartikannya.
“Mikirin apa? Enggak loh ya? Aku enggak pernah ngeres loh pikirannya. Awas kamu ya...” Abay mengejar Mayra yang sudah terlebih dahulu berlari menghindar. Sesekali Abay mencipratkan air pantai ke Mayra yang dibalas Mayra sebaliknya.
Sampai akhirnya Abay dapat meraih tangannya dan Mayra hampir terjatuh olehnya. Dengan cepat Abay
meraihnya. Dan kini Mayra sudah berada dipelukan Abay. Untuk sesaat mata keduanya saling beradu diantara degup jantung yang berdetak cepat.
Seperti ini rasanya berada dipelukan Abay. Aroma tubuhnya, aroma nafasnya, membuat Mayra semakin ingin bersama Abay.
“Maaf...”. Abay kemudian melepaskan dekapannya dari Mayra. Mayra hanya diam. Kemudian Abay mengajaknya untuk duduk sambil menikmati matahari tenggelam.
“Hari ini aku senang banget bisa menikmati sunset sama kamu...” kata Mayra yang masih menatap sunset. “Makasih ya udah ngajak aku ke sini..”
Abay tersenyum. Dan Mayra tanpa ia sadari menyandarkan kepalanya ke pundak Abay. Abay tak bergeming sedikitpun. Ia juga menatap sunset yang indah, tapi pikirannya malah melayang ke Runa. Yang mungkin saat ini sedang berada dipelukan Darta.
Ia membayangkan kembali begitu cepatnya Runa akrab sama Ibu dan Bapak. Mereka terlihat akrab sekali, padahal mereka baru saja bertemu. Seandainya Runa benar – benar menjadi bagian dari keluarga ini. Batinnya.
***
Sebagai tanda permintaan maafnya, karena sudah meninggalkan Runa tadi siang, Darta mengajaknya dinner.
Ditepi pantai. Makan malam romantis.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, tiba – tiba Darta menyematkan sebuah bunga cantik ditelinga Runa. Membuat Runa tersipu. “Kamu cantik banget...”
“Enggak usah ngerayu deh... “ Runa agak manyun. Karena ia tetap merasa kesal. Beruntungnya ia ketemu sama keluarganya Abay, paling tidak enggak bosan – bosan amat nungguin Darta balik.
“Iya maaf deh, udah ninggalin kamu tadi. Tapi itu telponnya penting banget, kalau enggak diterima telponnya
bisa – bisa perusahaan kita rugi besar. Makanya jangan manyun gitu dong, tambah cantik jadinya...” Darta berusaha agar Runa tersenyum lagi.
Akhirnya makanan mereka pun datang. “Emangnya kamu tadi ngapain aja selama aku pergi?” tanya Darta.
“Nyari anak kepiting” jawab Runa santai.
Darta agak terkejut, ”Nyari anak kepiting? Kaya anak kecil aja..”.
“Biarin. Emangnya kenapa? Enggak boleh? Enggak kan?” Runa bertambah manyun, mendengar Darta menyebutnya anak kecil.
“Iya deh. Enggak apa – apa. Terus sekarang mana anak kepiting punyamu?”
“Udah dikasih lah, sama anakkecil yang ada disana...”
“Jadi ceritanya tadi kamu main sama anak – anak kecil?” tanya Darta tak percaya. Runa mengangguk sambil tetap mengunyah makanannya.
“Dari pada main sama anak kecil kurang seru tau, mending mainnya sama aku aja. Kita bikin anak kecil.. Hehe”
Seketika itu juga Runa mencubit pergelangan tangan Darta sampai ia mengaduh. Namun saat itu juga tawa Darta pecah melihat reaksi Runa.
Weekend kali ini walaupun tidak
sepenuhnya menghabiskan waktu bersama Darta, paling tidak Darta mempunyai waktu
__ADS_1
untuknya. Dan bertemu Abay dan keluarganya adalah termasuk bonus untuk Runa
hari ini.
***
Runa terbangun mendengar suara ponselnya berdering, dilihatnya segera jam didinding kamarnya. Sudah jam 7 pagi? Dikirain masih tengah malam. Kemudian diraihnya ponselnya dengan mata terpejam karena masih terlalu mengantuk.
“Hallo....”
“Hallo. Jelek, baru bangun? Mm..pasti gara – gara keasyikan pacaran kan kemarin?”
Runa terkejut mendengar sebutan itu. Ditegaskannya matanya, kembali ia baca sebuah nama diponselnya. Abay.
“Apaan sih? Tumben nelpon pagi – pagi, ada apa kangen?” tanya Runa sengaja.
“Emm....”
Runa terdiam. Walaupun tak langsung mengiyakan, tapi Runa tau. Abay tak berani mengatakan iya dihadapan Runa.
“Kalau bukan Ibu yang maksa, aku juga ogah nelpon kamu. Ngapain..?”
“Ih, kenapa gitu?
“Enggak aja. Males gangguin calon istri orang...” nada Abay terdengar ketus.
“Lah ini, yang nelpon duluan siapa? Yang bilang ‘jelek’ tadi siapa? Yang bilang kangen tadi siapa, hayoo..,
masih enggak mau ngaku?”
“Ya, makanya ini kalau bukan Ibu yang maksa, aku enggak mau nelpon kamu. Ibu minta kamu datang kerumah ngajak kamu masak, sekalian makan – makan katanya”
“Ooh, boleh kok. Kasih tau alamatnya aja..”
Runa berteriak dalam hati, ia senang sekali. Abay akan menjemputnya dan ia bertemu Ibu Abay lagi. Ini seperti ingin bertemu calon mertua.
Ditutupnya mulutnya takutnya saat mulutnya terbuka teriakannya akan pecah. “Hallo, jelek. Gimana mau enggak? Atau takut suaminya marah? Ya udah.......nanti aku bilangin Ibu gitu..”
"Eh, eh..Bay. Jangan gitu dong. Harus berapa kali aku bilang sih, belum jadi SU-A-MI! Iya, aku mau, bilangin sama Ibu..”
“Ya udah, tunggu aja. Entar aku jemput. Bye..” Nada Abay masih aja datar. Dia kenapa sih? Ah, biarin yang penting ketemu Ibu.
Semenjak bertemu Ibu sama Bapak dipantai beberapa waktu lalu Runa seperti bertemu keluarganya kembali, Ibu yang baru ia kenal sudah ia anggap seperti Mamahnya sendiri. Runa bergegas mandi.
***
__ADS_1
__ADS_1