
“Pagi Bu..”kata Abay saat ia ke dapur untuk mengambil air minum.
“Pagi sayang...”
“Ibu mau masak? Masak apa?”
“Masak apa aja, yang penting sehat dan mengeyangkan..”
Abay manggut – manggut. “Iya deh, terserah Ibu aja. Semua apa yang Ibu masak, aku pasti suka..”
Ibu tersenyum. Dan saat Abay ingin kembali ke dalam Ibu memanggilnya kembali. “Bay, sini bentaran dong...”
“Eh, Runa itu bukannya teman kerja kamu kan? Kamu telpon dia dong suruh dia ke sini. Bilang Ibu yang minta, Ibu mau ngajak dia masak – masak.. Ya?”
Abay diam untuk sesaat. Padahal ia berjanji enggak akan menghubungi Runa lagi, tapi gimana sama Ibu?. “Bay..? Kamu enggak mau nelpon dia nih?”
“Emangnya kenapa harus Runa sih Bu? Sama Mayra aja enggak cukup?” tanya Abay.
“Ih, kamu ini. Bukannya gitu ,Ibu senang aja kalau Runa kesini, kan tambah rame keluarga kita. Lagian dia itu udah menyelamatkan Kia, kita berutang budi loh sama dia. Paling enggak, kita harus berbuat baik. Salah satunya dengan mengajaknya makan disini. Ya? Telpon ya?”
Abay enggak mungkin bisa menolak permintaan Ibunya, ia mengangguk perlahan. “Iya nanti aku coba telpon dia, semoga dia enggak sibuk ya?”
Ibu tersenyum senang. Dan wajah Mayra terlihat sendu. Ibu senang sekali sepertinya dengan Runa. Ibu seperti akan bertemu calon menantunya. Dan dirinya selama ini hanya dianggap sepertisaudara saja oleh keluarga ini.
“Bay...” Ibu memanggilnya kembali. Dan Abay kembali membalikkan badannya. “Kalau Runa mau, sekalian kamu jemput dia. Ya? Jangan nolak, demi Ibu...” wajah Ibu memelas, lagi. Dan Abay hanya mengangguk.
Kini Mayra seperti tak dianggap dirumah ini. Ibu yang senang dengan kehadiran Runa, bahkan meminta Abay menjemputnya. Bukan tak mungkin, sisa benih cinta yang lalu bisa saja tumbuh kembali diantara mereka. Hati Mayra menjadi tak tenang.
***
“Kenapa sih, dari tadi diperhatiin senyum – senyum terus? Kayak mau ketemu calon mertua aja..” kata Abay ketika mereka dalam perjalanan ke rumah Abay.
“Emang iya kan?” kata Runa tetap tersenyum. Abay diam, kemudian menoleh sebentar ke arah Runa yang ada disampingnya. “Emang mau ketemu sama Ibu kan?” kata Runa sekali lagi.
“Kamu senang banget kayaknya mau ketemu Ibu? Keliatan banget semenjak kalian ketemu dipantai waktu itu..”
“Masa? Tapi emang iya sih, enggak tau kenapa, kayak udah lama gitu kenal sama Ibu. Apalagi semenjak papah sama mamah udah enggak ada, jadi pas ketemu Bapak sama Ibu dipantai waktu, jadi ingat mereka...” kini nada Runa berubah sendu. Abay menyempatkan melirik ke arahnya, wajah Runa tertunduk sedih. Abay mengelus lembut pundak Runa,”Kalau kamu mau, kamu bisa anggap orangtuaku sebagai orangtuamu juga. Aku senang liat
kamu bisa dekat sama Ibu..”
Runa tersenyum,”Makasih ya? Kamu selalu baik sama aku..”.
Abay tak lagi merespon perkataan Runa, ia hanya fokus dengan jalanan didepannya. Namun jujur, jauh dalam lubuk hatinya ia ingin Runa menjadi anak Ibu, menantu Ibu, menjadi istrinya. Tapitakdir tak pernah sama dengan apa yang kita harapkan.
Tak berapa lama kemudian tibalah mereka dirumah Abay. Rumahnya cukup besar, secara sekarang Abay menjabat posisi penting disebuah perusahaan.
__ADS_1
“Tante Runa... Yey, Tante Runa datang...” Kia berseru, kemudian berlari ke dalam. Dan Ibu tiba dari arah
dapur, ”Runa..”
Runa menyalami tangan Ibu dan memeluk Ibu sejenak,”Ibu apa kabar?”. “Ibu sehat, kamu tapi tadi enggak sibukkan?”. Runa menggeleng tersenyum,”Enggak kok Bu. Aku malah senang bisa diajak kesini. Ohya, tadi sebelum kesini, aku ngajak Abay sebentar mampir beli ini..”.
Runa kemudian menyerahkan sebuah kantung plastik berisikan sayur mayur kepada Ibu. “Waah, banyak sekali ini. Kamu enggak perlu repot – repot. Ibu juga sudah sediakan kok bahan – bahannya..”
“Enggak apa – apa kok, ya udah gimana kalau kita mulai masak aja. Aku udah enggak sabar...” ajak Runa ke Ibu. Dan Ibu mengajaknya ke dapur.
Di dapur ternyata sudah ada Mayra yang memotong – motong sayur. “Hey, May...”. Runa kemudian menghampiri Mayra dan hanya dibalas senyum oleh Mayra, agak kecut.
Sesekali Mayra melirik ke arah Ibu dan Runa yang terlihat sangat akrab. Bahkan kini ia juga cemburu melihat kedekatan Runa dan Ibu. Buat apa coba Runa bersikap seperti itu ke Ibu? Dia kan mau nikah sama orang juga, bukan sama Abay. Sok memgambil hati Ibu lagi, Mayra terus bergumam dalam hati.
“Oh ya Bu, Ibu tau enggak sebentar lagi Runa mau nikah loh Bu...” kata Mayra tiba – tiba.
Ibu agak terkejut. Apalagi Runa. Ia tak ingin membahas itu saat berada ditengah – tengah keluarga ini.
“Benar Runa? Kapan?” tanya Ibu.
“Mm..belum kok Bu. Aku juga enggak tau kapan..”
“Ibu turut bahagia deh kalau gitu...”
“Makasih Bu. Doain yang terbaik aja...” Runa mencoba tersenyum dihadapan Ibu. Tapi ia seperti menangkap lain maksud dari Mayra berkata tiba – tiba seperti tadi.
Runa mengangguk. Namun ketika ia melewati Mayra yang masih memotong sayur, ia sempat melihat Mayra yang langsung membuang mukanya. Pasti dari tadi ia memperhatikan Runa.
“May, aku minta tolong kamu aja ya yang nganterin ini buat Abay dibelakang. Aku kebelet pipis..” Runa
berbohong, padahal ia tak ingin ke toilet. Runa tau, pasti Mayra cemburu dengan Runa yang dekat dengan Abay. Terlebih dengan keluarga ini.
Tanpa menunggu persetujuan Mayra, Runa langsung meninggalkannya. Terpaksa Mayra yang menyerahkan mangkok itu untuk Abay.
Sekembalinya Runa dari toilet, diliriknya sebentar dari balik jendela dapur. Kini Mayra sudah bersama Abay dibelakang membantu Abay memanggang ikan. Runa tersenyum.
Akhirnya semua masakan pun siap
semua berkumpul untuk bersama – sama menyantap makan siang. Tak terasa waktu
cepat berlalu, senja pun berubah menjadi malam.
“Pak, Bu, Runa pamit pulang dulu
ya udah malam. kapan – kapan Ibu sama Bapak harus nginap dirumah ku. Enggak
__ADS_1
boleh nolak.. Hehehe..” kata Runa. Ibu sama Bapak tersenyum,”Iya, Ibu usahain
buat kamu..”.
Runa sudah menceritakan tentang kedua orangtuanya yang sudah tiada. Dan saat Runa mengenal Ibu sama Bapak, ia seperti mendapatkan orangtua baru.
Kemudian Kia datang minta digendong sama Bapak. “Masa Cuma eyang aja yang boleh nginap dirumah tante Runa, aku enggak diajak?” katanya cemberut.
Runa tersenyum,”Iya maaf tante lupa.. Kamu juga boleh kok nginap dirumah tante, Ibunya Kia juga boleh, tante Mayra juga boleh, semuanya juga boleh nginap dirumah tante. Tante malah senang tau, jadi dirumah tante enggak sendirian...”
Kia tersenyum senang,”Bener ya tante Runa?”. Runa mengangguk tersenyum.
Runa menyalami tangan Ibu sama Bapak,”Kalau gitu aku pulang dulu ya Bu?”.
“Bentar Runa...” Ibu menghentikan langkah Runa.
“Abay mana?” tanyanya ke Dita.
Dita juga celingukan mencari Abay dengan matanya ke sekeliling ruangan, tapi tak mendapati Abay disana.
“Mungkin di atas Bu, bentar aku panggilin..”
“Bentar ya Runa..” kata Ibu lagi. Tak berapa lama kemudian Abay turun. “Ada apa Bu?”
“Kamu anterin Runa pulang, kasian dia masa pulang sendiri malam – malam gini, enggak baik tau..”
Runa tersentak dengan ucapan Ibu. Dia semakin merasa enggak enak dengan Mayra. “Mm..Bu, enggak usah repot – repot. Aku bisa kok pulang sendiri..”
“Udah, jangan nolak. Kalau kamu nolak, nanti Ibu juga enggak mau nginap dirumah kamu..”
Yah Ibu, pake ngancem segala lagi. Diliriknya ke arah Mayra yang membuang mukanya ke arah lain, seolah tak mau tau apa yang Ibu katakan kepadanya.
“Yah Ibu, ngancemnya gitu banget sih. Ya udah, aku mau dianterin sama Abay. Tapi Mayra juga harus ikut ya?” kata Runa yang membuat Mayra terkejut.
“Aku?” tanyanya tak percaya.
Runa mengangguk, “Mau ya?”. Akhirnya ia mengangguk setuju. Runa tersenyum dan sekali lagi ia berpamitan sama Ibu dan Bapak.
“Udah, kamu duduk didepan aja, biar aku dibelakang..” kata Runa saat mereka ingin memasuki mobil Abay. “Tapi Runa...”
Runa mengangguk tersenyum,”Udah enggak apa – apa..”.
Runa sengaja mengajak Mayra, paling enggak Mayra bisa berduaan dengan Abay saat mereka pulang nanti. Batin Runa.
Sepanjang perjalanan ketiganya hanya diam. Tak ada yang bersuara. Entahlah, apa yang sedang ada dalam pikiran mereka masing – masing.
__ADS_1
***