
Kini Runa sudah berada dikamarnya sendiri. Dokter sudah membolehkannya pulang. Ponselnya berdering ketika ia
pergi ke kamar mandi. Ditatapnya sebentar layar berkedip disana tapi sepertinya ia tak berniat untuk menerima panggilan itu. Diletakkannya asal ponsel yang terus berdering menampilkan nama Darta disana.
Tak berapa lama kemudian sebuah pesan masuk. Dari Darta rupanya. Ia menuyuruh Runa menatap ke bawah ke luar jendelanya. Ragu namun tetap ia lakukan. Perlahan Runa membuka tirai jendela kamarnya.
Sebuah gambar hati yang cukup besar yang dipenuhi dengan kelopak bunga bertuliskan “I’m So Sorry Runa” didalamnya. Darta melakukan ini? Untuk apa? Runa tidak akan trenyuh. Setelah beberapa hari yang lalu Darta sudah membuatnya kesal.
Tak berapa lama kemudian Darta muncul disamping tulisan itu. “Runa, aku minta maaf. Aku sangat menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan semalam. Aku mohon maafin aku---“
“Lebih baik kamu pulang sekarang!”
“Enggak, aku enggak akan pulang sebelum kamu maafin aku. Aku akan nungguin kamu disini!”
Runa menghela nafas panjang. Darta benar – benar keras kepala.
“Jangan kayak anak kecil Darta. Kamu pulang sekarang, aku udah maafin kamu”
Setelah berkata seperti itu Runa pikir Darta akan segera pergi. Tapi ia malah tak bergeming dari tempatnya berdiri.
“Aku akan tetap disini. Aku enggak akan pulang, sebelum kamu mau menemuiku”
Runa diam. Ia akan berfikir dua kali kalau harus menemui Darta. Karena dirinya saat ini sedang tak ingin menemui
laki – laki menjengkelkan seperti ini.
“Terserah kalau itu mau kamu!”. Runa kemudian masuk menutup jendela dan tirai kamarnya.
__ADS_1
Tak ada lagi suara dari bawah sana. Darta tak berkata apa – apa lagi. Ia harus menunggu Runa dibawah sini, demi
apapun juga. Walau ia tau sebentar lagi pasti akan turun hujan. Dia tidak akan menyerah begitu saja. Karena untuk mendapatkan hal yang sangat besar, pasti dibutuhkan pengorbanan yang besar pula. Darta tersenyum sendiri membayangkan semua harta Runa akan jatuh ke tangannya nanti.
Benar saja, hujan mengguyur sangat deras. Darta tetap berdiri ditempatnya. Tak beranjak sedikitpun. Runa mengintip dibalik tirainya, Darta masih disana. Laki – laki itu benar – benar keras kepala. Ada perasaan tak tega melihatnya kehujanan dibawah sana. Kalau ia masih berlama – lama disana Darta pasti akan jatuh sakit.
Sesekali Darta melirik ke arah jendela kamar Runa. Berharap Runa akan turun dan memaafkannya. “Pak Darta, ayo masuk Pak. Bapak bisa sakit kalau lama – lama kehujanan seperti ini..” kata Bi Jem menghampirinya dan memayungi Darta yang sudah terlanjur basah.
“Terima kasih Bi. Tapi saya akan tetap disini. Saya enggak akan pergi sebelum Runa memaafkan saya. Bibi masuk aja”
Bi Jem tak bisa berkata apa – apa lagi kalau itu yang Darta inginkan. Dengan raut wajah sedih Bi Jem meninggalkan Darta yang sudah terlihat pucat dan kedinginan.
“Maaf Non, bukannya Bibi mau ikut campur masalah Non dan Pak Darta. Tapi alangkah baiknya kalau Non Runa menemui Pak Darta. Kasian Non, nanti dia sakit kedinginan diluar sana. Bibi jadi enggak tega liatnya..” kata Bi Jem saat berpapasan dengan Runa di dapur.
Runa tau ia salah karena tak menemui Darta dan membiarkannya kehujanan di luar sana. Tapi Runa juga tak terima dengan sikapnya yang sok jagoan dan berkelahi dengan Abay tempo hari.
“Biarin aja Bi. Dia yang mau. Aku udah nyuruh dia pulang dari tadi, tapi dia memilih untuk disana kan? Ya udah
Namun ketika Runa baru saja melangkahkan kakinya ia mendengar suara dari arah luar. Ia mengintip di balik
tirai memastikan Darta baik – baik saja. Tapi nyatanya Darta tidak baik – baik saja. Darta pingsan. Dengan cepat Runa memanggil suaminya Bi Jem untuk segera membawa Darta ke dalam rumah.
Darta sudah berada di atas sofa dengan terbalut selimut tebal. Ia masih tak sadarkan diri. Runa merasa bersalah
membiarkannya kehujanan diluar. Saat Runa memandangnya cemas tiba – tiba tangan Darta menarik lengannya dan membuatnya wajahnya dekat sekali dengan wajah Darta.
Tiba – tiba saja mata lelaki itu terbuka perlahan dan tersenyum dihadapan Runa yang mulai merasa tak nyaman
__ADS_1
ditatap sedekat ini oleh Darta.
“Aku benar kan? Hanya dengan cara seperti ini kamu akhirnya mau menemuiku”
Runa menjauhkan wajahnya dari Darta. “Ini enggak lucu Darta”
Darta tersenyum.
“Gimana kalau seandainya tadi terjadi apa – apa ke kamu? Bercandaan kamu enggak lucu”
“Tapi berhasil membuat kamu memperhatikan aku. Aku tau cinta dan sayang kamu begitu besar sama aku. Kamu enggak bakalan tega sampai terjadi apa – apa sama aku. Ya kan?”
Runa terdiam. Cinta macam apa ini? Berulang kali memaafkan berungkali juga disakiti? Runa benar – benar tak
mengerti.
Darta meraih wajah Runa yang tertunduk dalam diam. “Maafin aku.....”
“Aku tau, aku sudah terlalu banyakmenyakiti perasaan kamu. Tapi asal kamu tau Runa, itu semua aku lakukan karena aku sayang sama kamu. Aku enggak mau sampai kehilangan kamu. Aku benar – benar menyesal atas apa yang sudah aku lakukan...”
Runa menatap lelaki itu. Terlihat penyesalan diwajahnya. “Kalau kamu sayang sama aku, kamu enggak seharusnya
melakukan hal – hal bodoh kayak kemaren”
Darta menatap kembali ke dalam matanya memperlihatkan penyesalannya yang dalam. “Maafin aku, aku janji aku
enggak akan bertindak bodoh lagi”. Darta langsung memeluk Runa. Ia berbisik lirih,”Aku sayang kamu Runa...”.
__ADS_1
Sesaat kemudian ia lantas tersenyum senang. Sekali lagi, Runa dapat ia taklukan. Darta akan melakukan apapun
termasuk mengorbankan dirinya untuk mendapatkan kekayaan keluarganya Runa yang sudah berada didepan matanya.