Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
48


__ADS_3

"Shira sayang, sebentar ya Ayah harus bicara sebentar sama tante Runa..".


Abay mengajak Runa ke luar ruangan Shira.


"Terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan Shira.."


Runa tak berani menatap wajah itu. Karena takut rasa sakit hatinya akan bertambah.


Dulu, ia juga pernah menyelematkan Kia, dan akhirnya bertemu dengan Abay setelah sekian tahun. Sekarang, ia menyelamatkan Shira anaknya dan akhirnya juga bertemu dengan Abay.


Kenapa Abay membuat hidupnya seperti roller coaster? Naik turun tak karuan. Datang dan pergi begitu saja.


Abay mendekat dan meraih tangan Runa. "Maafin aku...".


Runa menepis perlahan tangan Abay bukan tak ingin Abay menyentuhnya. Ia juga sangat merindukan Abay. Tapi itu beberapa tahun yang lalu, sebelum Abay pergi meninggalkannya tanpa kabar apa - apa.


Bahkan Abay pun sama sekali tak bisa dihubungin.


Sampai akhirnya Ibu mengundang Runa ke pernikahan Abay. Walau sebenarnya Runa sudah datang sendiri ke pernikahan Abay waktu itu.


Runa tak bisa menahan airmatanya untuk tidak keluar. Air bening itu mengalir begitu saja tanpa Runa inginkan.


Diamnya Runa dan airmatanya yang terus mengalir membuat Abay bertambah sakit hati. Abay terus meminta maaf. Namun Runa tetap diam.


"Aku harus pergi....". Lengan Runa ditahan oleh Abay.


"Shira ingin kamu tetap disini.."


"Kamu? Apa kamu masih menginginkan aku disini?" tanya Runa yang membuat Abay diam seribu bahasa.


Ya, sebenarnya dia masih sangat menginginkan Runa. Tapi melihat Runa yang masih marah padanya membuatnya semakin pilu.


"Aku sudah tau dengan diamnya kamu.." Runa berbalik dan pergi. Abay tak berusaha menahannya lagi.


Namun ketika ia berbalik beberapa langkah Arsan dengan setengah berlari menghampirinya.

__ADS_1


"Runa, sayang kamu enggak apa - apa? Apa ada yang sakit?" Arsan terlihat sangat cemas.


Runa tersenyum melihat kepanikan Arsan, "Enggak ada luka yang cukup serius kok. Kamu jangan khawatir gitu ya?". Runa meraih wajah Arsan lembut menenangkannya.


Runa masih tak terlalu jauh dari tempat dimana ia dan Abay berbicara tadi, pasti Abay pun masih ada disana.


Benar saja, ketika ia menengok sebentar ke belakang Abay sedang memperhatikan dirinya dan Arsan.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa kecelakaan seperti ini?"


Runa kemudian menceritakan kejadian yang menimpa dirinya ketika ia menolong Shira tadi.


Runa kemudian mengajak Arsan menemui Abay yang masih terpatung ditempatnya berdiri.


"Kebetulan anak yang aku tolong tadi adalah anak temanku dulu. Ini Abay Ayahnya Shira...".


Arsan dan Abay saling menjabat tangan.


"Arsan.."


"Oh ya, minggu depan aku dan Arsan akan melangsungkan pernikahan. Aku harap kamu dan Shira dan Ibu juga bisa hadir di acara kami ya?" kata Runa membuat hati Abay semakin sakit.


"Selamat ya? Semoga kalian selalu bahagia..".


Abay menjabat tangan Arsan.


"Terima kasih.."


"Kalau gitu, aku permisi masuk dulu. Aku mau melihat keadaan Shira lagi. Permisi..."


setelah berkata seperti itu Abay langsung masuk ke kamar Shira tanpa memandang Runa sedikitpun.


"Ya udah kalau gitu, aku antar kamu pulang aja ya? Kamu istirahat dulu, fitting bajunya diundur besok aja..".


Runa mengangguk setuju dipandangnya sekali lagi kamar Shira. Semoga Shira baik - baik aja, batinnya.

__ADS_1


***


Abay termenung disamping Shira yang tertidur lelap. Melihat anaknya yang masih kecil sudah kehilangan Ibunya malah berharap dengan Runa yang baru ia temui kemarin.


Semoga saat ia bangun besok pagi ia tak merengek mencari Runa.


"Abay, ada apa nak?" Ibu mengelus lembut pundak Abay.


"Enggak apa - apa Bu..." jawabnya lemah.


Ibu kemudian duduk disamping Abay meraih tangannya. "Maafin Ibu...."


"Ibu kenapa minta maaf? Ibu enggak punya salah apa - apa...."


"Harusnya Ibu sudah tau sejak lama, kalau kamu dan Runa saling mencintai..."


Abay tersentak mendengar ucapan Ibu.


"Kalau saja Ibu tau, Ibu enggak akan meminta kamu untuk menikahi Mayra. Kamu pasti menanggung sakit ini sendirian kan? Kenapa kamu enggak menolak saja waktu Ibu meminta kamu menikahi Mayra? Kamu mencintai Runa tapi malah harus menikahi Mayra. Kamu pasti menyesal kan?"


"Aku enggak pernah menyesal Bu menikahi Mayra. Karena Mayra memberikanku seorang putri kecil yang cantik, Shira. Lagian, aku enggak mungkin menolak permintaan Ibu. Karena aku sayang sama Ibu. Dan aku yakin keputusan Ibu pasti yang terbaik untukku..".


Entah kenapa airmata Abay ingin tumpah tapi ia berusaha menahannya demi Ibu.


"Tapi Ibu enggak tega melihat kamu menderita seperti ini....".


"Tapi aku enggak menderita Bu..."


"Kamu enggak bisa membohongi Ibu. Ibu tau kamu sangat menderita saat ini. Apalagi saat Runa mengatakan ia akan menikah minggu depan. Ibu bisa membaca kesedihan kamu dari matamu...".


Ya, Ibu benar. Ibu memang tak bisa dibohongi. Saat kembali bertemu dengan Runa, ingin rasanya Abay memeluk perempuan itu. Namun saat ia tau Runa akan menikah sakitnya malah bertambah.


"Sudahlah Bu....yang terjadi sudah terjadi. Kita tidak bisa merubah yang sudah ditakdirkan. Yang harus kita lakukan adalah menjalani jalan yang sudah ditakdirkan. Walaupun aku sangat mencintai Runa, tapi Runa tak akan bisa jadi milikku. Aku hanya bisa berdoa semoga dia selalu bahagia..."


Ibu memeluk Abay mengelus lembut pundaknya. "Semoga kamu juga selalu bahagia bersama Shira. Ibu yakin suatu hari nanti, Shira akan mendapatkan kembali cinta dari seorang Ibu yang menyayanginya..".

__ADS_1


Abay mengaminkan doa Ibu.


***


__ADS_2