Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
45


__ADS_3

Runa terbangun karena ia merasakan seseorang mengusap rambutnya pelan.


"Arsan?". Arsan yang membangunkannya.


Arsan mencoba tersenyum walau terlihat masih meringis kesakitan.


"Syukurlah akhirnya kamu sadar juga. Aku.....aku....enggak bisa ngebayangin..kkalau....."


Runa tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Karena air matanya mengalir tanpa ia sadari. Ia tak bisa membayangkan kemungkinan - kemungkinan terburuk yang menimpa Arsan.


Arsan menyeka air mata Runa. "Sudah jangan nangis. Aku enggak apa - apa..."


Runa menenangkan dirinya. Dihapusnya sendiri sisa air matanya dan tersenyum.


Arsan meraih tangan Runa. "Runa, aku tau aku selalu membuat kamu kesal. Tapi itu semua karena aku mencintai kamu. Aku enggak bisa sehari aja untuk enggak ketemu kamu, dengerin ocehan kamu, bawelan kamu.. Jujur aku enggak bisa berkata - kata romantis untuk gombalin kamu, tapi aku mau kamu jadi istriku..."


Runa terkekeh. Disaat seperti ini Arsan masih tetap melanjutkan lamarannya.


"Daruna, apa kamu bersedia menjadi istri Arsan dan hidup bahagia selamanya?".


Runa diam menatap Arsan sambil menahan tawanya. Tak pernah terbayangkan olehnya seseorang melamarnya memakai baju pasien rumah sakit dengan kepala yang masih terperban.

__ADS_1


"Kamu masih enggak kasihan gitu liat pengorbanan aku sampai kaya gini?" Wajah Arsan memelas.


Tapi itu malah terlihat lucu oleh Runa. Kini tawanya pecah. Runa mengangguk tersenyum membuat Arsan ingin melompat kegirangan. Tapi bergerak sedikit saja membuat wajahnya meringis.


"Eits, jangan banyak gerak dulu. Kamu kan belum sepenuhnya pulih.."


Arsan tersenyum memeluk Runa. "Terima kasih ya? I love you..."


Runa tersenyum bahkan ia sepertinya akan menangis lagi. "I love you too...".


walaupun Arsan selalu membuatnya kesal akhir - akhir ini tapi ia sangat menyukainya. Selama ini Runa ingin membuktikan apakah Arsan benar - benar mencintainya walau sudah ia acuhkan? Kini ia menyadari sudah saatnya ia membuka hatinya untuk Arsan. Pria yang mencintainya dan ternyata sangat ia cintai.


Tiba - tiba Melda, Abram, Mami dan Papinya masuk bersorak. Mereka tersenyum bahagia.


"Sorry, enggak sengaja. Tapi btw selamat ya Mas, selamat ya Runa.." Melda langsung memeluk sahabatnya itu.


"Baru kali ini nih, aku liat orang ngelamar dirumah sakit" kata Abram menahan senyum.


"Eh, tadi rencananya enggak gitu. Tapi ya sebenarnya mau dimana pun ngelamarnya, Runa pasti bakal nerima aku. Ya kan Na?". Arsan mengedipkan matanya genit. Runa hanya terkekeh.


"Oh ya Mas, Runa. Jadi kemaren aku sama Abram, sama Gevan juga nyari petunjuk siapa orang yang sudah menabrak Mas Abram itu. Beruntungnya disekitar komplek perumahannya Runa itu ada cctv-nya. Jadi itu kita jadikan bukti untuk melaporkan si pelaku ke kantor polisi."

__ADS_1


"Terus gimana, kalian udah tau siapa yang sudah mencelakai Arsan?" Tanya Runa cemas.


Melda mengangguk.


"Mobil yang terekam di cctv itu, mobil yang sudah menabrak Mas Arsan adalah mobil Tyra."


Tyra? Runa seperti tak asing dengan nama ini. Dimana?


"Tyra? Kamu yakin?". Arsan juga tak percaya. Tyra sampai senekat ini.


"Tyra itu bukannya temen kamu pas di pesta Jesslyn waktu itu kan? Tapi kenapa dia ingin mencelakai kamu?"


Arsan lalu menceritakan ke Runa tentang masa lalunya bersama Tyra.


"Tapi sekarang kamu enggak usah khawatir, Tyra harus mempertanggungjawabkan perbuatannya..,"


Runa tersenyum mengangguk.


"Jadi, setelah Mas Arsan keluar dari rumah sakit kita mau ngerayain dimana niih...?? Makan - makan loh ya...??". "Makan aja yang dipikirin,..iya nanti...".


Mereka semua yang ada disitu pun tersenyum bahagia terlebih Runa.

__ADS_1


***


__ADS_2