Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
11


__ADS_3

Tidak tau kenapa malam ini Runa ingin sekali memasak sesuatu untuk Darta. Tapi sebelumnya Runa menghubungi Darta dan mengajaknya untuk makan malam bersama di rumahnya dan Darta tak keberatan.



"Oh ya? Kamu masakin makan malam buat aku? Ya udah, tapi mungkin agak telat enggak apa - apa ya?" Suara Darta diseberang telpon sana.



Runa tersenyum, "Enggak apa - apa, lagian ini juga baru mau masak. Paling entar kamu sampai sini, masakannya juga baru selesai. Ya udah kalau gitu aku tunggu ya? Hati - hati dijalan sayang. See you.."



Runa senang sekali, ia kemudian bersiap masak makanan kesukaan Darta. Di dapur ia dibantu sama Bi Jem.



"Non, masaknya banyak bener mau buat acara ya?" tanya Bi Jem sambil menyalakan kompor


.


"Enggak juga sih Bi. Saya cuma mau masak buat Darta, terus nanti kita makan sama - sama.."



Bi Jem mengangguk paham.



"Oh ya Bi, Gevan udah pulang? Soalnya dari tadi saya enggak liat tuh anak sliweran dirumah.."



"Setau Bibi belum sih Non.."



"Ya udah, biar nanti saya telpon aja.."



Tidak berapa lama kemudian semua masakan sudah tersaji di atas meja di ruang makan. Sudah lebih dari setengah jam setelah Runa menghubungi Darta, tapi ia belum juga tiba. Runa teringat juga akan Gevan yang belum pulang semenjak berangkat kuliah tadi pagi.


Runa mencoba menghubungi Gevan, katanya Gevan juga sudah dalam perjalanan pulang. Runa merasa lega karena adiknya itu tidak apa - apa.



Bel rumah berbunyi dan Runa memutuskan untuk membukakan pintu itu sendiri. Karena itu pasti Darta. Benar saja, yang datang adalah Darta bersama Gevan.



"Kalian kok bisa barengan gini sih?" tanya Runa ketika mendapati Darta dan Gevan bersama.



"Enggak juga kok, barengan dari halaman depan aja Kak Runa.." kata Gevan kemudian langsung masuk ke dalam rumah.



"Kenapa sih tuh anak? Ya udah yuk masuk.." kata Runa mempersilahkan Darta.



Kemudian Runa mengajak Darta ke ruang makan,"Kamu duduk dulu ya? Aku mau panggilin Gevan biar kita bisa makan sama - sama..". Darta mengangguk tersenyum.



"Ge... Gevan..." suara ketukan di pintu kamar Gevan.



Pintu kamar terbuka,"Kenapa Kak?"



"Kamu mandi dulu, terus kita makan malam bareng sama Kak Darta juga. Ya?"



"Tapi Kak..." Gevan ingin sekali menolak.



"Tapi kenapa lagi sih? Udah pokoknya Kakak tunggu dibawah. Okey?"

__ADS_1



"Tapi aku mandinya lama loh... Berjam - jam!" kata Gevan. Tetapi Runa malah tersenyum. Mana mungkin juga Gevan melakukan hal itu. Batin Runa.



"Makasih ya kamu udah mau menyempatkan diri ke sini. Eh, tapi tadi aku enggak ganggu pekerjaan kamu kan sayang?" tanya Runa ketika sudah bersama Darta lagi di ruang makan.



Darta menggeleng tersenyun,"Enggak juga, makanya tadi aku agak sedikit telat. Ya..menyelesaikan sedikit pekerjaan aku. Tapi udah selesai kok. Tenang aja...".



Gevan akhirnya bergabung bersama di meja makan. Sebelum duduk, disempatkannya melirik sinis ke arah Darta. Tapi Darta hanya tersenyum,"Ayo Ge, duduk kita makan bersama..".



Runa menyadari keanehan dari dalam diri Gevan, tak biasanya ia bersikap aneh seperti itu ke Darta. Tapi kemudian ia mengacuhkan rasa penasarannya itu. Mereka menyantap makan malam seperti biasa.



"Aku udah selesai Kak Runa, aku duluan ya? Masih banyak tugas kuliah yang belum kelar.." kata Gevan terburu menghabiskan air putihnya. Dan ia hanya menatap biasa ke arah Darta.



"Kamu juga udah selesai sayang?" kata Runa melihat Darta yang juga makan sedikit.



"Masakan aku enggak enak ya?" tanya Runa lagi.



Darta menggeleng cepat,"Bukannya gitu, masakan kamu selalu enak. Aku udah kenyang soalnya.."



"Ya udah kamu tunggu di ruang tengah dulu ya, aku beresin ini dulu.."



Darta tersenyum lalu menuju ruang tengah.



"Sibuk banget kayaknya, nih dimakan dulu.." Runa kemudian menyuapinya buah. Dan Darta tak menolak. "Makasih ya?".



Tiba - tiba ponselnya berdering, ditatapnya sebentar nama dilayar berkedip itu, kemudian dia meminta izin ke Runa untuk menerima telpon. Runa tersenyum mengangguk. Darta sedikit agak menjauh. Agak sedikit penasaran, kenapa Darta harus menerima telpon itu jauh dari dirinya. Memangnya siapa? Apa yang mereka bicarakan sampai - sampai Runa tak boleh mendengar percakapan mereka.


Setelah selesai menerima telpon, Darta kembali ke Runa. "Maaf ya?".



Runa mengangguk tersenyum.



Ingin rasanya langsung menanyakan siapa barusan yang menghubunginya, tapi biarkan sajalah siapa tau Darta akan memberitahukannya sendiri.



"Sayang...." Darta kemudian meraih tangan Runa. "Aku pulang dulu ya? Maaf enggak bisa lama - lama"



"Kenapa?" tanya Runa penasaran, sangat.



"Iya, tadi barusan dapat telpon dari sekretaris aku. Katanya besok itu ada rapat penting sama perusahaan yang akan ikut bekerja sama dengan perusaahaan kita. Tapi didaerah diluar kota gitu, katanya sih biar bisa langsung survei ke lapangan gitu. Jadinya harus berangkat pagi - pagi sekali. Makanya malam ini aku harus siap - siap.."



"Berapa hari?" tanyanya lagi, seperti tak ingin mengizinkan Darta pergi.



"Mungkin 3 atau 4 hari, tergantung. Kalau semuanya udah beres, pasti bakalan cepat balik ke Jakarta lagi. Jadi beberapa hari ke depan, kamu yang handle semua urusan dikantor. Oke?".


__ADS_1


Runa mengangguk, bukannya tak ingin mengurus kantor, tapi lebih ke rasa keraguannya sendiri tentang keberangkatan Darta yang mendadak.



Darta mengecup kening Runa,"Aku pulang dulu..".



"Hati - hati.."



Darta berlalu dengan cepat meninggalkan Runa dengan keraguannya, tapi ia mencoba untuk berpikir positif. Akhirnya ia duduk sendiri di sofa di ruang tengah, menghabiskan sisa potongan buah yang tadinya ia siapkan untuk Darta.



Ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk. Tak juga dengan segera ia membuka pesan itu. Paling - paling dari operator simcard. Runa akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya.



Langkahnya terhenti ketika melewati kamar Gevan. Pintunya kamarnya setengah terbuka. Ia teringat sikap Gevan yang tak biasa saat makan malam tadi. Diketuknya sebentar lalu masuk ke dalam.



Gevan tak ada ditempat tidurnya, dimeja belajarnya pun juga tak ada. Dipanggil - panggilnya adik kesayangannya itu. Sampai ia menuju balkon, yang pintunya terbuka. Pasti Gevan disana.



"Gevan.. Dari tadi dipanggil, ternyata disini?"


Gevan seperti baru sadar dengan kedatangan kakaknya itu.



"Mas Darta mana? Udah pulang?" tanya Gevan. Runa mengangguk tersenyum.



"Katanya besok harus keluar kota untuk survei, berangkatnya pagi - pagi. Makanya pulang duluan. Oh ya, ngomong - ngomong tadi Kakak perhatiin, sikap kamu ada yang aneh gitu. Enggak kaya biasanya, ada apa? Kamu ada masalah?"



Akhirnya kakaknya menanyakan itu juga. Gevan jelas kesal, bahkan ia sendiri tidak bisa untuk berpura - pura seperti biasa melihat Darta yang sok baik, sok sayang sama kakaknya itu. Padahal kenyataannya enggak.


Sebelum pulang, Gevan mampir ke cafe, untuk mengambil tugas kuliah dari temannya. Ia tak sengaja melihat Darta dan perempuan lain. Mereka terlihat begitu akrab, sangat mesra. Mereka seperti sepasang kekasih. Tak ingin merasa kakaknya tersakiti, Gevan langsung melabrak Darta. Darta marah, ia tak terima dengan tuduhan Gevan bahwa ia selingkuh. Darta bahkan mengancam Gevan. Kalau saja ia berani mengatakan tentang yang dilihatnya ini ke Runa, Darta bahkan tak segan - segan mengeluarkan Gevan dari kampus. Karena universitas tempat dimana Gevan berkuliah adalah salah satu universitas yang semua kebutuhannya di biayai oleh perusahaan keluarga Darta.



Untuk saat ini, Gevan menuruti kemauan Darta. Ia juga tak ingin menyakiti kakak satu - satunya itu. Dengan berita Darta selingkuh dan atau bahkan ia yang terancam akan dikeluarkan dari kampus.



"Maaf ya Kak? Aku enggak bermaksud kaya gitu. Mungkin aku kecapean aja, soalnya banyak banget tugas kuliah yang belum kelar, udah itu mau nyiapin buat tugas skripsi. Makanya aku rada pusing..." Maafin aku kak, aku berbohong. Batin Gevan.



"Oh..gitu? Kirain ada apa. Tapi kamu mau kakak buatin jahe anget? Biar kamu rada enakan..".



Gevan menggeleng tersenyum,"Enggak usah repot - repot kakak cantik. Kakak juga pasti cape kan? Nanti kalau mau, aku bisa minta tolong Bibi buatin.."



"Ya udah, kakak ke kamar dulu. Kamu jangan lama - lama diluar gini, yang ada nanti malah masuk angin..".



Gevan tersenyum, "Siap kakak!".


Runa juga tersenyum dan kembali ke kamarnya.



Gevan benar - benar tak ingin melihat kakaknya tersakiti. Ia tak tega. Bagaimanapun juga ia harus menjaga kakaknya itu. Karena kini hanya Runa yang ia miliki, setelah kepergian Ayah dan Ibu mereka untuk selamanya.



Runa menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Menghembuskan nafas panjang. Ia tak benar - benar yakin kalau Gevan mengatakan yang sebenarnya. Anak itu pasti menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?



***

__ADS_1


__ADS_2