Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
40


__ADS_3

Melda mengundang Runa ke rumahnya malam ini karena Ayahnya sedang berulang tahun. Dan mereka mengadakan barbekyu-an.


Sebelum ke rumah Melda, Runa memutuskan untuk mencari kado terlebih dahulu untuk Om Marwan.


"Selamat malam semuanya.." sapa Runa saat tiba ditaman belakang. Karena Melda dan suaminya juga Om dan Tante semua berkumpul disana termasuk mertuanya Melda. Dan beberapa kerabat dekat mereka.


Semuanya hampir bersamaan menyapa salam Runa. Runa segera menuju Om Marwan yang sedang duduk dan menyerahkan sebuah paperbag. Tak lupa mengucapkan selamat untuk Ayah Melda itu.


"Terima kasih ya Runa. Kamu enggak usah repot - repot segala ngasih kado buat Om. Doa yang terbaik saja sudah sangat cukup..".


"Enggak apa - apa kok Om. Aku udah menganggap Om dan Tante seperti orang tuaku sendiri. Jadi jangan tolak hadiah dari anakmu ya?"


Om Marwan dan Tante tersenyum.


Runa menghampiri Melda yang sedang mengecek beberapa bahan yang sedang dipanggang oleh mas - mas asistennya. Semua bahan tersedia cukup banyak dari cumi, ikan, daging. Runa ikut bantu - bantu menyiapkan meja.


Saat ia kembali dari dapur ia hampir saja menabrak seseorang. "Astaga..hampir saja..".


Runa bersyukur beberapa piring ditangannya tak terjatuh.


"Maaf"


Runa seperti mengenal suara ini. Saat ia mendongak, benar saja.


"Arsan? Kamu ngapain disini?"


"Aku mau ngerayain ultahnya Papi lah. Apalagi?"


"Papi? Maksud kamu Om Marwan itu.....".


Arsan mengangguk tersenyum.


"Melda berarti adik kandungmu?"


Arsan mengangguk dan tersenyum lagi.


Runa menjadi tak bisa berkata apa - apa. Melda tak pernah cerita kalau ia punya saudara laki - laki.


"Runa...". Melda datang dan melihat Arsan dan Runa diam terpatung.


"Mas Arsan? Sejak kapan disitu?"


"Barusan.."

__ADS_1


Runa menyerahkan tumpukan piring yang ada ditangannya untuk Arsan. Dan menarik lengan Melda sedikit menjauh dari Arsan.


"Mel, Arsan itu beneran kakak kandung kamu? Kenapa aku enggak tau kalau kamu punya saudara?"


"Iya Runa. Maaf. Arsan itu beneran kakak kandung aku. Kenapa kamu enggak pernah tau, itu karena aku memang enggak pernah cerita. Soalnya Mas Arsan itu memang enggak tinggal dan menetap disini. Makanya kamu enggak pernah tau. Maaf ya aku bermaksud bohongin kamu...". Melda meraih lengan sahabatnya itu kalau saja Runa beneran marah padanya.


"Iya aku tau. Ya udah enggak apa - apa. Kalau gitu kita ke belakang aja yuk?". Saat Runa dan Melda beranjak ke belakang ternyata Arsan masih disana dengan tumpukan piring ditangannya.


"Hey, cewe - cewe! Ini gimana?". Tampak Arsan meringis kesusahan membawa bingkisan untuk Papinya dan tumpukan piring ditangannya.


"Langsung dibawa ke belakang aja Mas..!". Melda setengah berteriak. Dan Runa tersenyum melihat Arsan kewalahan.


"Rajin banget anak Mami, baru datang langsung bantuin angkatin piring - piring..". Semua yang ada melirik ke arah Arsan tersenyum.


Nafas Arsan tersengal. Padahal piring yang dibawanya pun tak terlalu berat sebenarnya. "Iya nih Mi, tuh yang nyuruh..". Katanya manyun ke arah Runa.


"Kok aku? Kan kamu sendiri yang mau. Ya kan?". Runa tersenyum sambil melotot.


Tapi Arsan tak perduli. "Kamu kok yang tiba - tiba nyerahin tumpukan piring itu buat aku. Enggak mau ngaku lagi.."


"Udah - udah, pertengkaran suami istrinya dilanjutkan nanti lagi ya? Kita siap - siap mau makan dulu..". Melda menggoda Arsan dan Runa sambil tersenyum.


"Melda!"


Saat Runa mengecek bahan - bahan yang sedang dibarbekyu ternyata saus sambalnya habis.


"Saus nya habis nih mas, ambilin lagi ya? Nanti ini biar saya awasin.." kata Runa dengan mas - mas asisten Melda.


Arsan kemudian menghampiri dan langsung duduk disamping Runa yang sedang mengipas bara api.


"Aku bantuin ya?" katanya manis.


"Enggak usah. Ntar yang ada malah gosong lagi."


Arsan berusaha merebut kipas dari tangan Runa. Tapi Runa tak mau menyerahkan kipas itu untuk Arsan.


"Sini Runa.."


"Enggak mau!"


"Kamu kenapa sih? Kok jadi marah - marah gitu?". Arsan tampak kebingungan dengan sikap jutek Runa.


"Kamu kenapa enggak jujur sama aku dari awal kalau kamu itu kakaknya Melda?"

__ADS_1


Arsan mengangguk paham. "Oo..jadi ini rupanya dari tadi sikap kamu jutek terus sama aku?"


Runa tak menggubris pertanyaan Arsan, ia fokus mengipasi daging yang dipanggang.


"Memangnya kalau kamu tau aku kakaknya Melda, kamu enggak mau gitu sama aku?"


"Heh?"


Runa menatap sebentar wajah Arsan disampingnya kemudian dengan cepat membuang mukanya lagi dari Arsan.


"Lagian, enggak ada bedanya juga kok kamu tau atau enggak kalau aku ini kakaknya Melda. Toh kamu tetap suka kan sama aku?" kata Arsan percaya diri.


Runa melototkan matanya ke Arsan.


"Enggak!"


"Masa?"


"Enggak!"


"Mm..beneran?"


"Arsan!"


Arsan memundurkan sedikit duduknya dari Runa. "Tunggu aja, pasti kamu nanti jatuh cinta sama aku.."


"Terserah!"


Saat Runa menambahkan saus pada daging yang dipanggangnya ternyata asapnya mengepul dan masuk ke mata Runa. Membuatnya meringis sambil mengucek matanya.


Arsan dengan cepat menarik lengan Runa dari matanya,"Jangan dikucek nanti tambah parah"


Kemudian hembusan nafas Arsan dapat Runa rasakan saat pria itu meniup perlahan matanya. Tak hanya nafasnya, aroma tubuhnya, sentuhan lembut tangannya.


Dengan cepat Runa menepis perlahan tangan Arsan dari wajahnya. Ia tak ingin jantungnya berdetak tak normal saat bersentuhan dengan pria ini. Seperti saat di pesta dansa waktu itu.


"Udah, udah lumayan. Terima kasih..." kata Runa lembut.


"Beneran udah mendingan? Apa aku cariin obat tetes mata aja ya?" Arsan ingin beranjak pergi namun lengannya ditahan oleh Runa. "Enggak, enggak usah repot. Udah enggak apa - apa kok.."


"Syukurlah kalau gitu. Ya udah ini sudah selesai kan? Aku bawa ke sana ya?"


Runa mengangguk. Ditatapnya sebentar punggung Arsan yang menjauh.

__ADS_1


__ADS_2