
Runa terbangun di tengah malam karena merasa haus. Ia memutuskan untuk ke dapur mengambil air minum.
Ditatapnya sebentar Shira yang tidur dengan nyenyak. Perlahan Runa turun dari ranjang Shira, tak ingin membuat suara yang akan membangunkan anak itu.
Runa memutuskan untuk duduk sebentar di meja makan. Menikmati aliran air putih yang membasahi tenggorokannya.
Tak pernah terbayang olehnya akan bertemu dengan putrinya Abay dan menjadi dekat seperti ini. Mengingat nama Abay saja membuatnya terluka.
Ketika Runa ingin kembali ke kamarnya, ia dikejutkan dengan Abay yang tiba - tiba masuk ke dapur untuk mengambil air minum juga.
"Abay? Astaga...."
"Runa? Kamu habis ngapain?"
Runa mengangkat gelas air minum yang masih ada ditangannya. Ia tak ingin terlalu banyak bicara dengan Abay.
"Aku duluan"
"Runa tunggu"
Lengan Runa di tahan oleh Abay. Runa tak langsung berpaling.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu, penting"
"Ini sudah sangat malam. Kita bisa ngomonginnya besok"
__ADS_1
Lagi ketika Runa ingin pergi, lengannya ditahan oleh Abay. Dan Abay malah menarik tubuhnya mendekat.
"Aku rasa, hanya ada malam ini untuk kita bisa bicara berdua...."
Runa menatap sebentar wajah Abay. Kemudian membuang pandangannya segera ke arah lain.
"...karena aku yakin setelah ini aku dan Shira enggak bisa lagi ketemu sama kamu. Karena kamu akan menikah. Jadi, tolong jangan menghindar kali ini..."
Runa berpaling. "Apa yang akan kamu bicarakan. Kalau kamu mengungkit masa lalu, stop. Aku enggak mau tau tentang itu lagi"
"Sebelum kamu benar - benar menutup lembaran masa lalu kamu, ada baiknya kamu harus mengetahui apa yang terjadi sebenarnya."
Abay menarik lengan Runa agar sedikit lebih dekat dengan dirinya. Agar ia bisa menatap wajah itu. Wajah yang masih sangat ia rindukan.
Lantas Abay mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku celananya. Dan menyerahkan kertas itu untuk Runa.
"Semua kebenarannya ada di kertas itu. Bertahun - tahun aku menyimpannya, berharap bertemu kamu suatu hari nanti. Dan kamu akan kembali bersamaku"
Abay beranjak pergi meninggalkan Runa yang terpatung dengan kertas di tangannya. Surat apa ini?
"Oh ya, satu hal yang harus kamu ingat. Sampai kapanpun, aku tetap mencintai kamu Runa. Masih sangat mencintaimu..."
Abay benar - benar berlalu kali ini.
Runa? Masih mematung di tempatnya berdiri. Mengulang kembali kata - kata Abay beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Abay masih mencintainya? Bagaimana bisa Abay masih mencintainya sedangkan yang ia nikahi adalah Mayra dan mereka dikarunia seorang putri kecil yang cantik. Bukankah ini adalah gambaran rumah tangga yang bahagia dan harmonis bukan?
Runa benar - benar kesal tapi ia juga penasaran apa isi surat yang Abay berikan padanya. Runa berlalu kembali ke kamar Shira. Ia sangat penasaran dengan isi surat yang Abay berikan padanya.
Dibukanya perlahan kertas itu dengan perasaan tak karuan.
Surat ini dibuat dan ditulis sendiri oleh Mayra. Itu sangat jelas karena pada awal baris, Mayra menyebutkan dirinya. Kenapa Abay malah memberikan surat cinta Mayra ke Abay untuk dirinya? Supaya Runa cemburu?
Disebutkan lagi oleh Mayra kalau surat itu ia tulis karena dokter telah memvonis dirinya menderita penyakit yang berbahaya sedangkan ia tengah hamil Shira. Sangat beresiko tinggi juga pada kehamilannya. Salah satu di antara mereka harus diselamatkan. Sedangkan untuk menyelamatkan keduanya dirasa sudah tidak mungkin.
Disinilah Mayra merasa bahwa ia sudah harus mengalah. Mayra mengakui kesalahannya dulu dengan segala cara memisahkan Runa dari Abay. Karena Mayra sangat mencintai Abay, tapi Abay tak pernah sedikitpun mencintainya. Cintanya Abay tak lebih dari seorang sahabat. Karena yang dicintai Abay dari dulu sampai saat ini hanyalah Runa.
Mayra juga mengaku salah dengan berpura - pura bahwa ia dan Abay pernah tidur bersama. Dan akhirnya membuat Abay terpaksa menikahinya.
Inilah hukuman dari Tuhan atas kesalahan - kesalahannya dahulu. Ia meminta maaf untuk semua orang yang pernah ia sakiti. Terlebih untuk Runa dan Abay. Dan berharap sangat berharap agar Runa kembali bersama Abay dan merawat putri kecil mereka.
-Saat kalian membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Titip cinta dariku untuk putri kecilku. Aku harap dia mendapatkan cinta yang memang seharusnya ia dapatkan. Aku sangat mencintai kalian. MAYRA-
Air mata yang entah sejak kapan mengalir begitu saja di pipinya. Runa menatap lekat wajah Shira yang masih tertidur lelap. Tak sanggup Runa untuk membenci anak ini karena kesalahan ibunya dulu.
Mayra, perempuan itu sebenarnya sangat baik. Entah karena rasa cintanya yang sangat besar untuk Abay hingga mampu membuat mata hatinya tertutup. menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang ia inginkan.
Dengan mengetahui kebenarannya sekarang, Runa merasa semakin sayang terhadap Shira. Tapi untuk mewujudkan harapan Mayra untuk kembali bersama Abay, rasanya tak mungkin. Karena ia akan menikah dengan pria yang sangat mencintainya, Arsan.
Runa memendamkan wajahnya dalam. Ia harus segera menyelesaikan masalah rumit ini.
__ADS_1