
Semenjak hari itu Runa sibuk dengan pekerjaan dikantornya. Seperti malam ini ia tiba dirumah hampir jam 10 malam. Hanya sempat melepas sepatu kerjanya lantas merebahkan dirinya langsung ke tempat tidur. Matanya terpejam karena lelah tubuhnya mulai terasa. Ketika hampir saja ia terlelap tidur, ponselnya berdering.
Diraihnya ponselnya dari dalam tas sambil meraba – raba arah nada dering ponselnya dengan mata terpejam. Seperti enggan membuka mata karena saking ngantuknya, tapi nada dering ini tak akan berhenti sebelum Runa menjawabnya.
“Hallo...”
“Jelek!”
Sontak seketika itu juga matanya terbelalak. Rasa kantuk yang teramat sangat kini hilang hanya mendengar suara dari seberang sana memanggilnya.
Dilihatnya sebentar ke layar ponselnya. ABAY?
“Ada apa nelpon malam – malam gini?” katanya sambil menguap.
“Cuma mau bilang, Ibu sama Bapak besok mau kerumah kamu. Takutnya kamu enggak ada dirumah..”
“Ooh... Iya. Enggak apa – apa, besok...ditunggu...hooamm..” kini Runa hampir tertidur karen amatanya yang benar – benar mengantuk.
“Kamu tidur? Dengar enggak tadi bilang apa?”
“Mm..iya. Dengar kok...” nadanya mulai terdengar berat.
“Ya udah, tidur lagi gih..”
“Mm..Love you...” langsung ia jauhkan ponsel dari telinganya tanpa sempat memutuskan panggilannya.
***
“Horee....kita ke rumah tante Runa..” kata Kia bersorak senang ketika sudah berada didalam mobil. Abay
mengantarkan Ibu, Bapak, Kia, Dita juga Mayra ke rumah Runa. Ini pun atas permintaan Ibu.
“Kita sudah sampai. Ini rumah Runa..” kata Abay ketika sudah berada didepan rumah Runa.
“Rumahnya lumayan besar juga ya?” kata Bapak.
“Pasti kesepian sekali, berada dirumah sebesar ini hanya berdua bersama adiknya” timpal Ibu.
“Ya udah kita masuk..” ajak Abay.
Setelah menekan bel rumah Runa beberapa kali, Runa muncul membukakan pintu untuk mereka. Seperti biasa, ketika Ibu bertemu Runa mereka akan berpelukan. Seperti seorang Ibu dan anak yang sudah lama tak berjumpa.
Runa mempersilahkan mereka semua masuk dan duduk diruang tamu. “Tante seneng banget akhirnya Kia ke sini juga..” kata Runa kemudian memeluk Kia.
“Aku juga tante..”
“Ya udah kalau gitu Kia laper enggak nih? Kita makan sama – sama yuk? Tante udah masak banyak buat Kia...” ajak Runa.
__ADS_1
“Mau tante..mau....”
Runa juga kemudian mengajak semuanya untuk makan siang bersama.
“Masa baru datang udah disuruh makan sih Nak?” kata Ibu ke Runa.
“Enggak apa – apa Bu.. Aku udah siapin semuanya buat kalian..”
“Kamu masak sendiri?” tanya Ibu lagi.
Runa mengangguk,”Di bantu juga sama bibi.. Ya udah yuk, makan dulu..”
Ibu, Bapak, Mayra, Dita dan juga Kia duduk dikursi mereka. Ketika Runa juga mau duduk ia seperti baru tersadar kalau Abay tak bersama mereka di meja makan. Padahal tadi ia juga mengajak Abay. Ia bangkit berdiri, kemudian ingin menyusul Abay di luar.
“Sebentar ya, kalian makan aja duluan. Bi, tolong bantu siapin ya?”
Mayra melirik gerak – gerik Runa, ia tau sepertinya Runa menyusul Abay diluar. Karena Abay tak bersama mereka saat ini. Entah kenapa ia mulai merasa risih dan kembali terusik dengan sikap Runa ke Abay.
“Hey, ternyata disini..” kata Runa ketika mendapati Abay yang masih diruang tengah setelah menerima telpon.
Abay hanya menatapnya sebentar.
“Makan siang bareng yuk? Udah ditunggu tuh didalam...” kata Runa biasa. Dan ketika ia ingin kembali ke dalam langkahnya terhenti.
“Tadi malam bilang apa?” tanya Abay tiba – tiba.
Sejenak Runa tengah berpikir, kembali mengingat percakapannya ditelpon dengan Abay tadi malam. “Apa?”
“Selamat malam? Apa? Aku benar – benar lupa..”
Abay hanya menatapnya seperti berkata --coba ingat – ingat lagi--.
“Apa sih? Udah ah, enggak usah bercanda” Runa sedikit kesal karena tadi malam ia sangat mengantuk dan benar – benar lupa dengan perkataan terakhirnya ke Abay sebelum ia terlelap tidur.
Bukannya menjawab pertanyaan Runa, Abay berlalu meninggalkannya dengan senyum menggoda 'pikir aja sendiri'. Runa mencoba mengingat - ingat apa yang ia ucapkan tadi malam sebelum ia benar - benar terlelap tidur. Tapi ia tak mengingat apapun.
Runa kembali ke ruang makan dan ingin bergabung dengan Ibu dan Bapak yang sudah ada disana terlebih dahulu. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara Darta didepan yang sedang berbicara dengan Pak Satpam.
Ketika ia ingin keluar Darta sudah keburu masuk. "Sayang, ada siapa? Kamu ada tamu?"
Runa tersenyum, "Iya. Ya udah kamu masuk dulu..".
Runa mengajaknya Darta ke ruang makan. Darta terlihat agak terkejut ketika melihat ada Mayra dan juga Abay pastinya ada disana.
"Mayra? Kamu...Mayra kan?" tanya Darta menyakinkan siapa tau bukan Mayra. Mayra tersenyum.
"Ada Pak Bayu juga?". Kemudian ia menyalami tangan Abay.
__ADS_1
"Iya, ini Bapak dan Ibunya Pak Bayu. Dan kebetulan Mayra adalah kerabat mereka. Jadinya enggak salah juga kan sekalian ngundang Pak Bayu sama keluarganya juga.."
"Iya enggak apa - apa kok..". Darta tersenyum kemudian menjabat tangan Bapak dan Ibu.
"Saya Darta"
Bapak dan Ibu tersenyum.
"Kenapa bisa kebetulan gini ya? Kita bekerjasama dengan perusahaannya Pak Bayu dan ternyata kebetulan juga Mayra berteman dengan Runa. Yang tak disangka juga masih satu kerabat dengan Pak Bayu. Dunia ini ternyata memang sempit ya? Ada - ada saja kejutan untuk kita setiap harinya.." kata Darta.
Runa melirik ke arah Abay sebentar yang ternyata sempat meliriknya namun keburu ia menatap Darta
kembali. Ya, Darta bahkan juga tak tau kalau ia dan Abay adalah mantan kekasih.
"Oh ya, Pak, Bu, ini calon suaminya Runa itu..." kata Mayra tiba - tiba.
Dan entah kenapa Runa menjadi risih mendengar ucapan Mayra barusan.
Darta tersenyum. Dengan cepat Runa mengajaknya bergabung makan siang. Baik Ibu dan Bapak mulai terbiasa
dengan Darta. Itu karena sifat Darta yang mudah beradaptasi dengan orang - orang. Dan membuat orang lain merasa nyaman dengannya.
"Pak, Bu.. Maaf saya enggak bisa lama nemenin Bapak sama Ibu karena saya mau kembali ke kantor
lagi.." kata Darta setelah mereka selesai menyantap makan siang mereka.
Kemudian ia juga berpamitan dengan Runa. "Ya udah, hati - hati..".
"Pak Bayu, saya duluan.." katanya sebentar dengan Abay yang hanya menjawab dengan
anggukan.
"Bu, kayaknya aku juga mau balik ke kantor lagi. Ibu masih mau disini, atau...?" tanya Abay ke Ibu.
"Ibu mau pulang? Bukannya mau nginap disini?" kata Runa hampir cemberut kalau - kalau Ibu mengingkari janjinya.
"Iya Ibu nginep disini...". Runa pun tersenyum senang. "Kia juga nginap disini ya?". Kia mengangguk.
"Na, kamu enggak apa - apa nih semuanya nginap disini? Yakin enggak bakal ngerepotin?" tanya Abay.
Runa mengangguk, "Yakin banget. Malahan aku senang jadinya dirumah enggak sepi.."
"Ya udah kalau gitu aku kembali ke kantor lagi. Bye..Kia.., jangan nakal ya?"
"Oke Om..".
Mungkin seperti ini rasanya jika ia menjadi bagian dari keluarga ini, menjadi istrinya Abay.
__ADS_1
Ah! Segera Runa membuang pikiran anehnya itu, mana mungkin itu bisa terjadi. Yang ada saat ini adalah ia akan menjadi nyonya Darta bukan Abay.
***