
Tiba - tiba pundak Arsan ditepuk lembut oleh seseorang, "Hai, Arsan...".
"Hai juga, Tyra. Kamu disini juga?". Arsan tak percaya ia bertemu kembali dengan Tyra, mantan kekasihnya dulu yang telah meninggalkannya dua tahun yang lalu.
Tyra tersenyum mengangguk. "Kamu apa kabar?".
"Baik, kamu?".
Wajah Tyra tiba - tiba berubah sendu,"Kabar aku sebenarnya kurang baik. Mami baru aja meninggal seminggu yang lalu..".
"Aku turut berduka. Kamu yang sabar ya?" Arsan mengusap lembut pundak Tyra.
Dengan cepat Tyra meraih tangan Arsan dan menggenggamnya. "Terima kasih ya Arsan".
Arsan agak risih sebenarnya dengan sikap Tyra yang menggenggam tangannya seperti ini. Tapi ia tetap tersenyum,"Sama - sama".
Perlahan ia melepas genggaman tangan Tyra dari tangannya. Bersamaan itu Runa datang menghampiri keduanya.
"Sayang, kamu sudah selesai?" tanya Arsan ke Runa membuat mata Runa melotot dipanggil seperti ini.
Namun akhirnya Runa tau kalau ini kode dari Arsan karena ada seseorang yang pasti akan ia kenalkan pada Runa.
Runa mengangguk tersenyum.
"Oh ya, Tyra ini Runa calon istriku. Runa ini Tyra temanku..". Runa dan Tyra saling bersalaman.
Nampak Tyra seperti tak menyukai Runa. Dan kenyataannya Arsan akan menikahi perempuan seperti ini? Batin Tyra.
"Kalau gitu, kita duluan ya Tyra?. Arsan kemudian mengajak Runa pulang.
Tyra masih saja memandangi punggung Arsan yang sedang menggenggam tangan Runa. Mereka tampak bahagia dan sebentar lagi akan menikah. Sedangkan dirinya? Ia gagal mendapatkan pria yang lebih kaya dari Arsan waktu itu. Dan sekarang mungkin waktunya untuk mendapatkan kembali hati Arsan.
Lagian Runa masih calon istrinya, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi untuk membatalkan pernikahan Arsan dan Runa.
Tyra tersenyum senang.
"Aku enggak habis pikir ya sama kamu. Kamu bilang aku calon istri kamu? Kalau pengen bersandiwara ya jangan kelewatan juga dong San?"
__ADS_1
Arsan terus saja tersenyum. Sesekali melirik ke arah Runa yang sedang cemberut disebelahnya. Runa menghentikan langkahnya tiba - tiba, membuat langkah Arsan juga terhenti.
Runa berpaling dan menghadap Arsan.
"Kenapa setiap ditanya enggak pernah dijawab sih? Senyum - senyum aja terus.."
"Karena aku suka liat kamu cemberut. Kamu tambah cantik". Arsan tersenyum lagi.
Jujur, bukannya Runa tak menyukai senyum Arsan tapi justru senyumnya itulah yang membuat persendian Runa melemas seketika. Senyumnya meneduhkan. Dan Runa takut kalau nanti ia akan jatuh cinta dengan senyuman itu.
"Serius Arsan. Kenapa kamu malah memperkeruh suasana dengan bilang kalau aku ini calon istri kamu? Aku enggak suka cara seperti itu.."
"Tapi aku suka..".
Mata Runa melotot dan kedua tangannya dipinggang, "Maksud kamu, kamu suka menjebak perempuan dengan situasi seperti ini? Kamu emang enggak mikir, itu pasti sangat membuat seseorang itu merasa tidak nyaman. Contohnya nih ya, aku disini ikhlas bantuin kamu hanya dengan pura - pura menjadi kekasih kamu. Tapi kamu malah menambah - nambahkan yang lain, dengan bilang kalau aku calon istri kamu?"
Arsan tersenyum lagi melihat Runa yang tiba - tiba berubah cerewet.
"Tapi aku serius Na, aku pengen kamu jadi istriku"
Runa melangkah pergi dengan cepat meninggalkan Arsan yang sudah mulai bicara ngawur. Arsan menyusul langkah Runa yang cepat sambil tersenyum. "Runa tunggu!".
***
Setelah malam itu Arsan bertambah sering menghubunginya. Dan selalu menggoda Runa dengan memanggilnya calon istri. Runa berusaha mengabaikan pria ini. Karena semakin diladeni, sepertinya Arsan akan terus menjadi - jadi. Tapi saat terlintas wajah Arsan yang tersenyum padanya, Runa malah tersenyum sendiri.
"Oke Runa. Fokus..fokus! Jangan mikirin Arsan terus..!". Runa kembali menatap layar laptopnya.
Sampai Melda masuk dan menyerahkan beberapa laporan bulanan.
"Runa, ini ada beberapa laporan bulan ini yang harus kamu tanda tangani..".
Runa mengambil laporan itu dan memeriksanya. "Oke, nanti aku cek lagi ya?"
"Ya udah kalau gitu aku kembali ke ruangan aku lagi ya?"
"Melda, sebentar ada yang mau aku tanyain sama kamu.."
__ADS_1
"Soal apa?"
"Arsan"
"Oke. Ada apa sama Arsan?"
"Arsan pasti salah satu teman pria kamu kan? Kamu yang ngirimin dia buat dekatin aku kan?"
"Bukan aku yang nyodorin dia ke kamu. Tapi dianya sendiri yang mau kenalan sama kamu. Enggak ada salahnya juga kan? Tapi kenapa dia norak?"
Runa terkekeh dan mengangguk. "Parah. Noraknya kelewatan".
Melda tersenyum dan kembali duduk,"Oh ya? Kenapa?"
"Masa dia ngenalin aku ke teman - temannya bilang kalau aku ini calon istrinya. Kan enggak lucu Mel.."
"Arsan bilang gitu?" Melda hampir tak percaya kalau Mas-nya itu akan berkata seperti itu ke Runa. "Itu artinya dia beneran serius sama kamu Na..".
"Tapi kan, masa baru beberapa hari kenal udah yakin banget kalau aku bakalan mau jadi istrinya dia? Tingkat kepedeannya terlalu tinggi".
Melda tersenyum menatap Runa yang tersenyum sendiri saat menceritakan Arsan. Melda yakin Arsan pasti bisa mengambil hatinya Runa. Runa pantas bahagia.
"Ya udah sih, jalanin aja dulu. Temenan kek. Paling enggak kamu bisa tau Arsan itu gimana orangnya. Ya kan? Lagian Na, sampai kapan kamu menutup hati kamu untuk orang lain? Belum tentu dia akan menyakiti kamu, tapi bahkan akan memberikan kamu kebahagiaan yang lebih. Oke?"
Runa mengangguk tersenyum membenarkan apa yang Melda katakan. Tiba - tiba ponsel Runa berdering menampilkan nama Mr. Rese.
"Panjang umur banget nih anak. Baru aja diomongin dianya udah nelpon. Kayaknya dia tau kalau kita lagi ngomongin dia..". Runa tersenyum.
"Mr. Rese? Arsan maksudnya?" Melda melirik ke ponsel Runa.
"Iya siapa lagi?"
"Jadi sudah punya panggilan khusus nih ya?". Melda tersenyum menggoda Runa. "Aku keluar deh kalau gitu, takut ganggu calon istri dan calon suami lagi mesraan..".
Mata Runa melotot membuat Melda dengan segera keluar dari ruangan itu.
***
__ADS_1