
Sebelum memutuskan untuk tidur, Runa mengecek laptopnya memastikan file - file sudah ia terima. Sambil mempelajari berkas - berkas perusahaan, ia menyetel mp3 player dan memutar beberapa lagu lawas. Satu, dua lagu ia nyanyikan dengan fasih mengiringi penyanyi sebenarnya. Sampai pada lagu ketiga, baru di intronya saja gerak jemari tangannya berhenti. Tiba - tiba ingatannya kembali ke masa lalu. Dan orang di masa itu.
Lagu yang mengalun merdu itu membuatnya teringat akan Abay. Bahkan Abay pernah menyanyikan lagu romantis itu untuknya. Runa hanya bisa tersenyum sendiri, saat ini. Kemudian ia meraih ponsel yang sedari tadi ia acuhkan.
Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang ia baca. Bahkan setelahnya, ia tak sabar ingin segera membacanya.
From : Bau
...?
Selalu. Apa tak ada kata - kata lain selain tanda tanya dan titik untuk mengawali percakapan? Runa tersenyum tanpa ia sadari.
Reply : Bau
Ga ada kta2 lain slain "..?"
Met mlm kh, atau apa kbr gtu😑
Terkirim.
Tak sabar rasanya Runa menunggu balasan dari Abay. Benar saja tak berapa lama ponselnya berbunyi lagi. Dengan cepat ia membuka pesan Abay.
From : Bau
Ada kok. Byk mlahan. Tp,bleh nlpon gk nh? Ntar suaminya marah
Wajah Runa berubah seketika membaca pesan Abay. 'Suami'? Jadi Abay mengira selama ini Runa sudah menikah?
Reply : Bau
Enggk ada. Spa yg merried?
Tak berapa lama kemudian ponselnya berdering, menampilkan nama Abay disana. Tak segera ia jawab karena ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak berdetak normal. Entah kenapa.
"Hallo.."
Bukannya suara Abay yang ia dengar melainkan suara petikan gitar. Dari intro yang ia dengar itu seperti lagu yang barusan saja ia dengar. Lagu yang pernah dinyanyikan Abay untuknya di masa lalu.
Dan malam ini, Abay menyanyikan lagi lagu itu untuknya. Ingin rasanya Runa menangis, sedih karena ini merupakan kisah cintanya bersama Abay di masa lalu. Dan tak mungkin bisa sama lagi sekarang. Lagu itu didengarkannya sampai selesai. Tak terasa olehnya air bening mengalir dipipinya.
"Hallo...?" sapa Abay dari seberang sana.
"Iya, kamu masih ingat lagu itu?" tanya Runa dengan suara serak sisa tangisnya.
"Ya iya lah. Gimana bisa lupa. Tapi kamu enggak ketiduran kan denger suara merdu orang ganteng ini..."
Runa tertawa,"Enggak.."
"Bentar, kamu nangis?"
Ketahuan juga suara Runa yang serak.
"Enggak, salah denger.."
"Jangan bohong, aku tau. Kamu nangis kan? Pasti habis denger suara orang ganteng tuh.. Udah biasa aja.." Abay terkekeh.
Abay memang tak pernah berubah, masih selalu sama seperti dulu. Menyenangkan, humoris, ada - ada saja yang membuat Runa tertawa. Bahagia.
Runa baru teringat tentang anak kecil yang bersama Abay tempo hari. Itu pasti anaknya.
__ADS_1
"Kamu nyanyi - nyanyi gitu, istrimu enggak kebangun apa?" tanya Runa.
Tapi malah suara tawa yang terdengar dari seberang sana.
"Ya udah, selamat malam. Makasih buat lagunya!". Tanpa menunggu suara dari Abay lagi, Runa langsung menutup telponnya.
Dadanya naik turun. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri tapi tak bisa. Kini tangisnya pecah. Ia menangis sejadi - jadinya. Menangisi kesedihannya, menangisi kisah cintanya yang telah kandas bersama Abay. Menangisi kenapa semua ini terjadi.
Andai ia tak berpisah dari Abay, mungkin tak akan seperti ini rasanya. Hanya Abay yang menurutnya bisa menenangkan dirinya. Andai Abay juga masih sendiri, tak akan sesakit ini hatinya. Andai... Andai... Andai.... Ini hanya ANDAI - ANDAI ! Tangis Runa semakin menjadi.
***
Pagi sekali Runa bangun menyiapkan sarapan. Hari ini pasti sangat sibuk sekali di kantor. Ia tak ingin terlambat bekerja. "Bi, nanti kalau Gevan sudah bangun suruh sarapan ya? Saya berangkat ke kantor dulu.."
"Pagi sekali Non berangkatnya. Enggak kaya biasanya..."
"Iya, jadi Darta hari ini ke luar kota, jadi urusan yang biasanya dia urus, saya yang handle sampai dia datang. Saya berangkat ya Bi.."
Bibi menganggum tersenyum.
"Pagi Non Runa.. Mau saya antar ke kantor?"
"Makasih Mang... Saya berangkat sendiri aja. Saya pergi dulu..."
Runa masih beruntung ia dikelilingi orang - orang baik yang masih perhatian kepadanya dan keluarganya. Seperti Bi Jem dan suaminya.
Runa benar - benar sibuk hari ini. Ditambah pekerjaan Darta yang harus ia kerjakan juga.
"Permisi Bu Runa..." kata Nadin sekretarisnya.
Nadin menghampiri meja Runa dan membawa beberapa berkas ditangannya.
"Bu, pagi ini ada rapat dengan perusahaan Smart Life. Tadinya rapat ini dipegang oleh Pak Darta. Tapi karena Pak Darta ada urusan keluar kota, Pak Darta menyerahkan file ini untuk Bu Runa...".
Runa melihat - lihat isi berkas itu. Kenapa semalam Darta tak memberitahukan hal ini, paling tidak Runa bisa mempelajarinya dirumah terlebih dahulu.
"Rapatnya di mulai jam berapa?".
"Rapatnya baru akan dimulai satu jam lagi kok Bu.."
"Ya udah kalau gitu, ini biar saya pelajari sebentar. Nanti kalau anggota rapat dari perusahaan mereka datang, kamu persilahkan aja".
Nadin mengangguk paham, ia pun keluar dari ruangan Runa.
Setelah merasa cukup mempelajari berkas - berkas yang ada, Runa menuju Meeting Room. Beberapa di antara anggota rapat sudah berkumpul.
"Selamat pagi.. Bapak - bapak dan Ibu - ibu peserta rapat. Saya Daruna Adiyatmah selaku Direktur Utama perusahaan iElectric akan memimpin rapat. Apa masih ada yang ditunggu? Mungkin bisa kita mulai..."
"Maaf Bu Daruna.." kata salah seorang anggota rapat dari perusahaan SmartLife.
"Ketua anggota rapat kita belum tiba, katanya sudah menuju ke sini. Apa masih bisa ditunggu?"
"Iya Pak, tidak apa - apa. Kita bisa mulai, sambil menunggu anggota Bapak datang"
"Baik, sebelumnya saya minta maaf. Mungkin kemarin - kemarin pembahasan tentang rapat ini di ajukan oleh Pak Darta Sutanto. Berhubung beliau ada keperluan mendadak keluar kota, jadi rapat hari ini saya yang pimpin"
__ADS_1
Anggota rapat yang lain mengangguk - angguk paham. Lima menit berlalu, ketukan di pintu menghentikan perbincangan sebentar.
Nadin masuk. "Maaf Bu, salah satu anggota rapat dari perusahaan SmartLife baru datang.. Apa masih bisa bergabung?"
Runa mengangguk memperbolehkan.
Nadin keluar. Dan tentu saja anggota rapat yang terlambat itu masuk.
"Maaf saya terlambat..."
Runa terdiam, terpaku ditempat duduknya dengan mata masih menatap berkas - berkas yang ada didepannya. Suara itu? Benar saja. Tak salah lagi, saat ia menoleh ke arah sumber suara itu. Detak jantungnya mulai berdetak tak normal. Lagi.
Abay? Ya. Itu Abay. Ia tak mungkin salah liat.
"Iya, tidak apa - apa. Silahkan masuk, kita baru aja mulai kok..." Runa mencoba menyembunyikan kegugupannya di hadapan Abay.
Tapi Abay seolah bersikap biasa, apa sebenarnya ia sudah tau kalau rapat itu di adakan di kantornya Runa? Masa iya, bukannya kemarin Darta yang menemui mereka? Dan pasti juga Abay tak kalau iElectric adalah perusahaannya Runa.
"Bu, bisa kita lanjutkan?"
"Oh iya, maaf. Mari kita lanjutkan..."
Mereka melanjutkan rapat, membahas segalanya tentang kerjasama antar perusahaan mereka. Runa terkadang tak fokus karena ia berhadapan dengan Abay, yang notabene-nya adalah mantan kekasih yang masih ia cintai. Dan yang lebih membuat Runa tak fokus adalah baru tadi malam ia menutup telpon Abay tanpa permisi. Pasti Abay marah terhadap dirinya.
Tak terasa rapat selesai. Perusahaan SmartLife bersedia untuk bekerja sama dengan perusahaan iElectric.
"Terimakasih banyak Pak Bayu, sudah bersedia bekerjasama dengan kami.." kata Runa berjabat tangan dengan Abay. Ya, nama Abay sebenarnya adalah Bayu Anggaraksa. Dan Abay adalah panggilannya sehari - hari. Mana mungkin di momen formal seperti ini memanggilnya dengan nama Abay.
"Sama - sama Bu Runa. Semoga keputusan ini tidak mengecewakan nantinya.." kata Abay tersenyum.
Runa bangga, akhirnya Abay bisa sesukses saat ini. Ia mampu membuktikan bahwa dirinya bisa berhasil.
Setelah menyantap makanan kecil yang disediakan, anggota rapat dari SmartLife berpamitan kembali ke kantor mereka.
"Bu Runa, kita pamit dulu. Terimakasih banyak.." kata salah satu dari mereka.
Runa mengangguk tersenyum,"Sama - sama Pak.. Bu.. Terimakasih juga..."
Kini hanya tinggal ia dan Abay diruangan itu. Runa juga membereskan berkas - berkasnya dan kini ia berniat kembali ke ruangannya.
"Maaf Bu Runa..." kata Abay menarik tangannya.
"Ada apa Pak Ba-yu.." kata Runa sedikit menggoda.
Abay melirik sebentar jam ditangannya,"Ini kan udah mau jam makan siang, aku mau ngajak kamu makan siang bareng. Itu pun kalau Ibu Runa bersedia dan enggak ada yang marah"
Runa menghela nafas sebentar, ingat akan Abay yang sudah berkeluarga dan mempunyai seorang putri kecil.
"Sebelumnya terima kasih atas ajakan makan siangnya, tapi maaf..."
Sebenarnya Runa sangat ingin mengiyakan ajakan Abay tapi di lain sisi, ia tak mungkin bisa. "Maaf, saya enggak bisa. Terima kasih, selamat siang!"
Runa berlalu meninggalkan Abay.
Abay hanya diam. Lalu tersenyum simpul. Ia tau Runa pasti mengira kalau Kia yang bersama Abay tempo hari di Mall adalah anak Abay. Runa masih mencintainya, nyatanya ia seperti orang yang sedang cemburu. Abay tersenyum dalam hati kemudian bersiap kembali ke kantornya.
__ADS_1
***