Masa Lalu itu...Kamu

Masa Lalu itu...Kamu
42


__ADS_3

Akhirnya makan - makan pun dimulai. Semua berkumpul menghadap meja dimana hidangan yang menggoda selera sudah tak sabar ingin disantap. Seketika Runa seperti mendapat keluarga baru. Berkumpul bersama seperti ini yang membuat Runa rindu akan kebersamaan dikeluarganya.


"Om Marwan enggak apa - apa kalau makan dagingnya terlalu banyak? Nanti hipertensinya kambuh loh.." kata Runa saat melihat Om Marwan dari tadi menyantap lahap daging barbekyu.


"Papi....". Tante melirik Om disebelahnya. Membuat Om manggut - manggut nyengir.


"Iya nih Pi, makanya dengerin kalau calon mantu itu lagi ngomong...." Arsan sepertinya sedang mengefek Runa. Mata Runa melotot seolah berkata -please, jangan mulai lagi-


"Enggak Tante Om, ini salah paham. Arsan asal ngomong". Runa langsung meralat keadaan.


Arsan cuma tersenyum menatap Runa sambil mengunyah makanannya.


"Gimana Mi, Pi, udah cocok kan jadi istrinya Arsan?" Arsan melanjutkan pertanyaannya lagi membuat Runa tersedak.


Sorak seru yang ada disana hampir bersamaan. "Ada yang nembak secara enggak langsung nih!"


"Ehem...ehemm.."


Tante dan Om tersenyum mengangguk. Mereka sudah cukup lama mengenal Runa sebagai sahabat baiknya Melda.


"Mami setuju kok. Iya kan Pi? Selama kalian saling mencintai..".


"Tante, ini beneran enggak seperti itu. Ini cuma salah paham, kita cuma berteman selama ini enggak ada hubungan apa - apa..". Runa mulai panik.


"Mulai malam ini kamu jadi pacarku. Oke?"


"Maksa banget sih? Enggak!" Runa melotot.


Arsan cuma tersenyum tak ingin berdebat dengan Runa dulu. Karena makanan didepannya ini sangat menggoda.


"Udah, nanti kalian selesaikan lagi berdua ya? Sekarang makan dulu..." kata Om lembut.


Baik Runa dan Arsan kini hanya diam menyantap makanan mereka. Namun Arsan sesekali melirik ke arah Runa yang duduk didepannya.


Acara makan - makan selesai sudah. Satu persatu anggota keluarga pamit pulang. Setelah selesai ikut beberes Runa juga pamit ke Om dan Tante.

__ADS_1


"Om Tante, terima kasih sudah ngundang aku ke sini. Aku pamit pulang dulu".


"Kamu pulang sendirian?" tanya Tante. Runa mengangguk.


"Arsan, antarin Runa pulang ya?"


"Enggak usah Tante, enggak apa - apa. Aku bisa pulang sendiri.."


"Ini sudah malam banget Runa. Tante enggak mau terjadi apa - apa sama calon menantu Tante..."


Kini Mami nya Arsan pun ikut menggodanya.


"Tante?"


"Iya Runa, biar Arsan nganter kamu pulang. Enggak baik perempuan pulang sendirian malam - malam gini.." Kini Om ikut menimpali.


Runa menyerah ia mengangguk setuju di antar pulang oleh Arsan. Diliriknya sebentar ke arah Arsan yang sedang tersenyum lebar ke arah dirinya.


"Kalau gitu aku pamit ya Om Tante. Selamat malam...".


Lagi - lagi Tante membuat Runa malu. Arsan tersenyum dan mengangkat jempolnya.


Saat di mobil Runa tak ingin bicara sepatah katapun ke Arsan. Karena malam ini Arsan menyebalkan dan membuatnya malu didepan keluarganya Arsan.


"Kok diem? Lagi sariawan?"


"Mm.."


"Sepi tau..."


"Mm.."


"Kamu kenapa sih?"


"Tau ah! Malam ini kamu udah membuat aku bete. Kamu nyebelin. Aku kan jadi malu didepan keluarga kamu gara - gara ucapan kamu tadi!"

__ADS_1


"Kenapa mesti malu sih kalau beneran cinta mah enggak apa - apa.."


"Arsan?! Tu kan mulai..."


"Tapi beneran Na, aku jatuh sama kamu..".


Runa menoleh ke Arsan yang sedang menyetir disebelahnya.


"Udah ah, jangan ngawur. Nyetir aja yang bener sana..!"


Arsan tersenyum. Runa pun terdiam. Tak ingin merespon ucapan Arsan barusan. Runa berdoa dalam hati agar cepat sampai dirumahnya. Ia tak ingin berlama - lama hanya berdua dengan Arsan.


Runa menghembuskan nafas lega akhirnya pagar rumahnya sudah keliatan ia tak sabar untuk cepat turun dari mobil Arsan. "Terima kasih udah nganterin. Aku turun dulu..".


"Runa tunggu.." lengan Runa ditahan oleh Arsan.


Runa mulai deg - degan. "Apa?"


"Maaf, kalau malam ini sudah membuat kamu malu. Aku enggak bermaksud seperti itu. Tapi kalau aku beneran jatuh cinta sama kamu, aku enggak berbohong.."


"Kenapa kamu bisa jatuh cinta sama aku? Kamu enggak mengenal aku. Bagaimana bisa hanya dalam waktu beberapa hari saja kamu bisa mengatakan jatuh cinta ke seseorang.."


"Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Tapi entah kenapa saat pertama kali kita bertemu waktu itu, aku sudah merasakan hal yang berbeda di diri kamu.." kini tangan Arsan menggenggam tangan Runa. Setiap pria itu menyentuhnya, Runa seperti ke setrum. Tak mampu menahan jantungnya yang memompa darahnya dengan cepat.


Runa menarik tangannya perlahan dari genggaman Arsan. "Aku enggak tau harus berkata apa saat ini..".


Arsan tersenyum. "Aku tau ini terlalu cepat untuk kamu. Aku enggak memaksa untuk kamu jatuh cinta sama aku. Ya udah, kamu masuk gih ke dalam."


Runa mengngguk, "Terima kasih ya? Aku masuk dulu.."


"Malam Runa..."


Runa tersenyum, "Malam juga.."


***

__ADS_1


__ADS_2