
"Apa yang sedang kamu rahasiakan saat ini?" tanya Darta tiba - tiba ke Runa siang itu. Saat mereka makan siang di sebuah kafe.
Runa yang ditanya seperti itu terlihat sangat bingung. Enggak ada angin enggak ada hujan tiba - tiba pertanyaan yang aneh Darta lontarkan padanya. Runa memandang Darta sesaat. Darta balik menatapnya dengan tatapan tajam dan marah.
"Kamu kenapa sih? Aku enggak pernah merahasiakan apa – apa dari kamu”
Darta tersenyum nyinyir. “Kamu benar – benar pintar dalam hal ini ya?”
“Maksud kamu apa sih? Jangan menuduh aku yang enggak – enggak!”
“Mulai saat ini aku enggak mau liat kamu berhubungan lagi dengan Pak Bayu. Atau...Abay. Ah, siapalah itu! Pokoknya aku enggak suka!”
Runa tercengang. Jadi Darta sudah tau tentang Abay? Tapi bagaimana bisa? Runa masih diam.
“Lagian kita itu akan segera menikah. Enggak pantas seorang perempuan yang akan menikah masih berhubungan dengan mantan kekasihnya dulu. Paham kamu? Kamu enggak menghargai aku...” nada Darta masih saja tinggi.
“Aku bukannya enggak menghargai kamu Darta. Lagian apa yang salah dengan Pak Bayu? Saat ini hubungan aku sama dia udah enggak lebih hanya sekedar teman kerja. Aku sedikitpun enggak pernah mencampur-adukkan masalah pekerjaan dan urusan pribadi”
Darta memasang muka tak peduli.
“Terserah apapun itu. Awas aja kalau sampai kamu ketahuan masih berhubungan dengan si Abay itu. Kamu akan tau akibatnya nanti!”
Kini ia berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Runa begitu saja.
“Darta...”
“Darta! Tunggu..!”
Tapi Darta tak memperdulikan panggilan Runa dan terus berlalu meninggalkannya. Runa semakin tak bisa mengenal Darta, harusnya ia berfikir kembali untuk menikahi lelaki seperti ini.
***
“Terima kasih ya, kamu sudah mau meluangkan waktu untuk menemuiku disini..” kata Mayra setelah mempersilahkan Darta duduk. Ya, dia meminta Darta menemuinya disebuah kafe untuk memberitahukan sesuatu yang penting. Yang berkaitan dengan Runa.
“Sama – sama. Oke, bisa to the point aja”
Mayra menghirup nafas dalam. Dan tersenyum.
“Ada sesuatu hal yang kamu enggak tau. Tentang Runa dan Pak Bayu”
Darta masih memasang tampang datar. Tapi ia masih ingin mendengar kelanjutan dari mulut Mayra.
“Bukannya aku mau merusak rencana kalian untuk menikah. Tapi aku rasa ada baiknya kamu harus tau ini”
Mengalirlah sebuah penjelasan panjang dari mulut Mayra. Mayra tau segalanya tentang Abay dan Runa di masa lalu. Bahkan ia memberitahukan kepada Darta bahwa sampai saat ini Abay masih mencintai Runa. Dan besar kemungkinan mereka akan kembali bersama.
“Kamu enggak mau kan kehilangan Runa?” tanya Mayra.
Darta diam. Ia tak mau kehilangan Runa. Kehilangan harta karun yang sangat berharga. Karena hanya dengan menikahi Runa, semua aset kekayaan dan perusahaan Runa bisa dengan sangat mudah ia dapatkan.
“Mau kamu apa?” Darta balik bertanya.
__ADS_1
“Aku enggak minta yang macam – macam. Aku hanya ingin Abay. Aku mencintainya. Dan dia mencintai Runa. Jadi kamu harus segera menikahi Runa. Dengan begitu tak ada kesempatan Abay untuk memilikinya lagi. Right?”
“Hanya itu?” Darta meyakinkan Mayra.
“Aku kira ada berita heboh apa sampai – sampai kamu meminta untuk bertemu”
Mayra diam. Tak menyangka reaksi Darta hanya seperti itu. Ia seperti tak mengkhawatirkan hubungan Runa dan Abay. Tak seperti dirinya.
“Tanpa kamu suruh pun aku pasti akan menikahi Runa. Terima kasih atas infonya. Aku harus kembali ke kantor. Selamat siang”
Darta berlalu dengan cepat. Mayra masih heran dengan sikap datar Darta. Tapi setelahnya ia tersenyum puas. Setelah ini tak ada lagi yang bisa menghalanginya untuk mendapatkan cintanya Abay.
Ya, sehari sebelumnya ia nekat menghubungi Darta dan memberitahukan semua tentang kedekatan Abay dan Runa. Berharap pernikahan Runa dan Darta akan segera dilangsungkan.
***
Sudah beberapa hari ini Runa tak masuk bekerja. Ia sedang malas berhadapan dengan Darta. Semenjak siang itu, Darta menjadi posesif terhadap dirinya. Semua pesan ataupun telpon yang masuk harus segera Runa angkat. Kalau terlambat sedikit saja Darta pasti menuduhnya sedang bermesraan dengan Abay.
Runa benar – benar lelah menghadapi Darta saat ini. Andai saja slide ini bisa ia skip, ia pasti akan melakukannya. Dengan tak harus menikahi Darta. Andai saat itu Ayahnya tak mengalami kebangkrutan dan harus menerima perjanjian pernikahan ini. Ini pasti tak akan terjadi.
Melda mengelus lembut pundak Runa. “Kamu yang sabar ya Na...”
Wajah Runa benar – benar terlihat sangat lelah. Setelah ia menceritakan keadaannya ke Melda saat mereka bertemu di sebuah kafe.
“Aku benar – benar bingung saat ini.....”
Melda tau Darta sudah mengkhianati sahabatnya ini dengan sekretarisnya itu. Tapi Melda juga bingung bagaimana caranya agar Runa percaya. Runa pasti juga bingung, apakah ia akan tetap menikahi dengan Darta? Atau ia akan malah akan memperburuk keadaan perusahaan mereka nanti kalau Runa tak menerima pernikahan
Runa tak menceritakan perihal Darta yang mengetahui hubungan masa lalunya itu dengan Abay. Ia hanya bercerita kalau sikap Darta yang membuatnya tak nyaman.
“Apa enggak ada cara lain selain tetap menikah dengan Darta?” tanya Melda.
Runa menggeleng lemah. “Aku pikir dengan seiring berjalannya waktu aku bisa menerima sikap Darta dan belajar mencintainya. Tapi nyatanya saat ini ia yang membuat aku tak bisa mencintainya...”
“Aku bisa saja membatalkan pernikahan ini. Tapi bagaimana nasib perusahaan Ayah selanjutnya? Darta bisa saja melakukan hal yang enggak – enggak Mel...”
Melda menyodorkan secangkir coklat panas yang ia pesan untuk Runa, “Kamu minum dulu gih. Biar kamu merasa sedikit tenang”
Runa ingin segera pulang saat ini. Merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Dan Melda bersedia menemaninya pulang. Saat mereka menuju pintu keluar tiba – tiba mereka berpapasan dengan Abay.
Baik Melda apalagi Runa tak menyadari kehadiran Abay.
“Hey...Melda, Runa..” sapanya. Runa tersontak mendengar suara khas itu memanggil namanya.
Kenapa Abay selalu ada dimana – mana sih? Runa segera membuang muka dari Abay.
“Kalian berdua udah mau pulang?”
Runa diam. Hanya Melda yang menjawab pertanyaan Abay.
Runa lantas pergi tanpa menatap Abay sedikitpun. “Mel, aku duluan ya?”
__ADS_1
Abay menjadi bingung, tak biasanya sikap Runa seperti itu terhadap dirinya. Namun baru saja ia keluar beberapa langkah Darta tiba – tiba saja sudah berada dihadapannya.
“Ooh.., ternyata kamu masih diam – diam bertemu laki – laki ini? Sekarang pulang!” kata Darta ke Runa dan menarik tangan Runa paksa.
Runa meringis kesakitan karena pergelangan tangannya digenggam kuat oleh Darta.
“Maaf Pak Darta, apa Anda bisa sedikit lebih lembut memperlakukan perempuan?”
“Anda siapa ya? Sepertinya Anda sama sekali tidak berhak untuk mengajari saya. Dia calon istri saya, jadi saya lebih berhak atas dia!” nada Darta mulai meninggi.
Abay mencoba untuk tidak terpancing emosi. Tapi ia juga tak tega melihat Runa diperlakukan seperti itu.
Abay masih diam.
“Darta cukup” pinta Runa. Ia tak ingin ada keributan ditempat umum seperti ini.
“Makanya sekarang kamu pulang ikut aku!” Darta menarik lengan Runa paksa sampai – sampai ia hampir terjatuh.
Abay tak bisa lagi diam melihat Runa diperlakukan kasar seperti itu. Diraihnya lengan Runa dari Darta sontak membuat Darta sangat kesal. Dan tanpa babibu lagi keduanya saling adu tonjok.
Runa mencoba melerai keduanya tapi kekuatan Runa tak sebanding dengan dua orang pria yang sedang berkelahi ini. Bukannya berhenti keduanya semakin menjadi – jadi. Sampai akhirnya hantaman cukup keras mengenai pelipis Runa. Darta tak sengaja melayangkan pukulan itu yang harusnya ia tujukan untuk Abay.
Melihat Runa kesakitan dan mulai berdarah barulah perkelahian keduanya terhenti dan segera menghampiri Runa.
“Runa!” Abay segera menopang tubuh Runa yang seketika terjatuh.
Darta tak terima dengan sikap Abay. Ia juga dengan segera menopang tubuh Runa. Namun dengan sekuat tenaga Abay mendorong tubuh Darta menjauh dari Runa.
“Runa, sini biar aku antar kamu ke rumah sakit...” kini nada Darta terdengar sangat khawatir.
Runa memegang sudut bibirnya yang berdarah dan meringis kesakitan.
“Enggak perlu! Aku mau pulang sama Melda” Runa berusaha berdiri dan masih sempoyongan.
“Tapi Runa....” Darta mencoba membujuk Runa. Tapi Runa tak perduli.
“Udah sana pergi!” kini Melda mengusirnya.
“Kamu aku antar ke rumah sakit ya?”
kata Abay yang masih menopang tubuhnya.
Dengan perlahan Runa mencoba
melepaskan tangan Abay dari tubuhnya. “Enggak usah, aku sama Melda aja..”
Namun baru beberapa langkah Runa terjatuh pingsan. Melda yang membopoh tubuhnya pun tak mampu menopangnya. Abay segera berlari dan menggendong Runa menuju mobilnya dan membawanya ke Rumah
Sakit terdekat.
***
__ADS_1